oleh

SKB 4 Menteri, Potret Penegasan Pendidikan Indonesia

-Opini-538 views

Oleh: Muhammad Husen Db, M.Pd

Pendidikan itu sangat penting bagi kita, karena tidak hanya memberi kita pengetahuan akan tetapi mengajarkan kita pada sopan santun dan hal- hal yang benar. Pendidikan memupuk kita menjadi individu dewasa; individu yang mampu merencanakan masa depan dan mengambil keputusan yang tepat dalam hidup.

Pendidikan menjadi penegas pembeda bagi pengetahuan dan pemahaman kita secara utuh. Semakin berpendidikan semakin baik prilaku dan kepribadian. Meski kalimat ini sering terjadi perselisihan akibat oknum yang mencederai praktik implementasi makna pendidikan. Apapun itu, naluri pendidikan harusnya menjadi pembeda dalam semua aspek kehidupan.

Upaya mendorong perbaikan dan perubahan pendidikan secara utuh harusnya menjadi perhatian kepada semua pihak tidak terkecuali pemerintah. Dalam rangka memberikan pemahaman dan pembelajaran sekaligus menyesuaikan diri dalam kebijakan, pemerintah berupaya melakukan langkah taktis strategis dalam mengisi ruang kosong dalam kepentingan publik. Kepentingan masyarakat yang harus terus mendapat perhatian di bidang pendidikan yang menjadi amanat konstitusi.

Undang-Undang Dasar secara tegas menginginkan agar warga bangsa harus cerdas. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah kalimat yang dititipkan pendahulu bangsa ini, karena hanya dengan kecerdasan, bangsa Indonesia dapat mempertahankan kejayaannya dimata dunia. Dengan kecerdasan implementasi kekuatan untuk menjaga keutuhan bangsa terus terjaga. Pendidikan telah diperhatikan dan dirumuskan oleh pendahulu bangsa ini secara serius. Sebagai wujud keseriusan pendahulu bangsa ini memikirkan, maka narasi tentang pendidikan selalu ada dalam materi diskusi dan penegasan pokok pikiran dalam ketentuan hukum kita.

Masalah Pendidikan diatur dalam Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan; Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Maka negara selalu hadir menjaga dan merawat keutuhan bangsa dengan terus memberikan perhatian lebih terhadap kepantingan pendidikan bagi warga bangsa.

Sebagai sebuah ikhtiar untuk menyelamatkan pendidikan di tengah kondisi bangsa dilanda pendemi Covid-19, pemerintah melalui kementerian mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Agama (Kemenag) tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran 2020/2021 dan tahun akademik 2020/2021 di masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Begitu pentingnya pendidikan, pemerintah mengambil sikap tanggap untuk menyelamatkan dengan mengeluarkan segala upaya penyelamatan yang tidak hanya dilakukan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan saja, tetapi kementerian terkait juga mengambil bagian untuk bersama berbuat yang terbaik.

Kondisi pandemi seperti ini tentu sebuah pelajaran baru yang sangat berharga bagi bangsa untuk bisa bersatu sebagaimana pendahulu bangsa ini bersatu melawan penjajah. Pandemi ini musuh bersama dan semua pihak harus bekerja seiring sejalan. Jika ada egosentris yang kemudian menghambat proses penuntasan persoalan yang terjadi di bangsa ini, maka sama dengan kita kembali kepada zaman dimana kita tercerai berai dan terporak poranda kekuatan kita yang mestinya bisa disatukan dan disejajarkan. Maka kebijakan bersama sebagaimana keputusan empat menteri untuk kepentingan pendidikan dalam menghadapi pandemi harus diapresiasi sebagai sebuah ikhtiar baik. Pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat berjibaku bersama mewujudkan mimpi besar bangsa ini untuk menghantarkan generasi kita dalam mewujudkan pendidikan karakter bagi bangsa Indonesia.

Beberapa poin mendasar dari SKB ini alalah sebagai upaya sistimatis sebagai langkah taktis memenuhi semua unsur kepentingan. Kepentingan pembelajaran, kepentingan kebutuhan anak, kepentingan masyarakat dan kepentingan pendidikan jangka panjang. Di dalam SKB 4 menteri dibuat dalam beberapa pola penjelasan, misalnya daerah zona hijau dan kuning, dapat menjalankan aktivitas pembelajaran tatap muka sebagaimana biasa dengan tetap menjaga protokol kesehatan dan menjalankan anjuran pemerintah sebagai pejabat yang bertanggungjawab di derah. Sementara daerah yang dideteksi sebagai zona oranye dan merah, maka harus tetap belajar dari rumah. Semua proses pembelajaran dipusatkan di rumah dan menjalankan proses belajar jarak jauh.

Betapapun urgennya kondisi proses Pembelajaran, harus tetap mengedepankan kepentingan yang lebih besar. Penting dalam memperoleh pengetahuan dan menjalankan proses belajar mengajar sama pentingnya menjaga kesehatan. Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.

Sebagai upaya mengedepankan kepentingan semua, harus ada pola alternatif untuk memenuhi kebutuhan konten pendidikan secara komprehensif. Misalnya Pembelajaran tatap muka di masa pandemi dilakukan dengan prinsip mengutamakan kesehatan lahir batin warga pendidikan. Bagaiamana mungkin proses belajar dihantui dengan kondisi penyakit yang secara psikologi akan menjadi racun bagi pikiran dan perasaan. Guru, siswa dan orangtua akan sangat khawatir dan tidak tenang jika proses belajar mengajar dihantui dengan kondisi yang mencekam. Terlihat jelas jika proses belajar mengajar yang tidak harmonis maka nilai yang diberikan tentu tidak sebaik yang diharapkan.

Dalam kondisi pandemi Covid, begitu banyak proses pembelajaran semakin terpola akan kondisi saling curiga dan saling jauh. Dengan saling menjauh maka etika dan estetika pembelajaran semakin hilang makna, maka dengan itu butuh ada desain dinamika baru yang sengaja dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang bermuatan internalisasi pengetahuan dan internalisasi nilai. Guru, siswa dan orangtua sama sama mendapatkan nilai kebaikan dari semua proses pembelajaran, tidak ada yang dikorbankan. Semua mendapatkan hasil dan kedamaian yang sama. Ini yang kita sebut semua untuk semua.

Ki Hajar Dewantara mengatakan setiap orang menjadi guru dan setiap rumah menjadi sekolah. Dalam kondisi pandemi ini semakin terlihat kesesuaian kalimat para pendahulu bangsa dengan segenap pemikiran produktif yang saat ini semakin terasa kebenarannya. Dalam proses pembelajaran, kita butuh juga dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kenapa ini penting, karena selain memberi ruang lebih kepada proses pembelajaran yang tidak hanya pada kondisi klasikal tetapi juga semua proses pembelajaran dengan sistem daring. Pembelajaran dalam jaringan atau daring menjadi sebuah cara yang sangat efektif. Meski kita meyadari bahwa tidak semua wilayah mampu mendapatkan akses dan kemudahan dalam menggunakan daring. Tetapi apapun resikonya secara jangka panjang Indonesia akan mengikuti perkembangan zaman sama seperti zaman dulu kita menolak dan mempertanyakan penggunaan HP, Laptop, Komputer dan alat modern lainnya. PJJ juga kian mudah dengan kebijakan kurikulum darurat. Setiap peserta didik dan satuan kerja pendidikan disetiap daerah memiliki kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan daerah.

Pandemi mamaksa semua orang untuk berubah, berubah cara kerja, beruba strategi kerja dan berubah pola kerja. Mengingat begitu pentingnya pendidikan maka tegas kita butuhkan langkah taktis sebagaimana perlu ada kurikulum darurat saat pandemi, kuota pulsa belajar daring, keselamatan guru dan siswa saat pandemi serta belajar asyik saat pandemi.

Kebijakan pemerintah hanya menjadi pepesan kosong jika tidak dibarengi dengan keseriusan semua pihak untuk turut serta mensukseskan dan mengkampanyekan. Kesuksesan semakin nyata terlihat manakala semua pelaku paham dan mengerti serta mentaati secara serius. Sebab apapun program pemerintah hanya akan menjadi coretan keputusan belaka di atas kertas dan tidak bermakna apapun. Sebaliknya keputusan pemerintah menjadi sangat berarti manakala semua pihak memahami dan mentaati serta menjalankan sesuai aturan yang telah digariskan, kita percaya bahwa apapun derita pandemi yang kita hadapi, yakinlah badai akan berlalu.

Keyakinan terhadap perbaikan pendidikan tidak hanya di tulisan konseptual, tetapi harus terpraktikkan di tengah masyarakat. Semoga upaya maksimal pemerintah menjadikan momentum baik ini sebagai wujud perjuangan pergerakan memerdekakan belajar di negeri tercinta Indonesia. Selamat Belajar.

 

Penulis adalah Tenaga Ahli Badan Sosialisasi MPR RI

Komentar

Jangan Lewatkan