oleh

Strategi, Teknik, Taktik Formulasi Normal Baru Pra dan Pasca Covid-19

-Opini-243 views

Oleh : Max Umbu Hina

Abnormalitas kondisi global belum mencapai puncak. Syarat utama untuk mengukur sudah dan akan sejauh mana dampak Pandemi Covid-19 tidak hanya ditentukan oleh keyakinan kita untuk memasuki sebuah normal baru dengan ukuran tanpa akar atau dengan dasar tanpa sadar. Karena kesabaran untuk melacak dan menemukan penyebab yang sesungguhnya adalah kunci dari suksesnya sebuah bangunan normal baru yang hendak kita ciptakan di masa depan.

Formula normal baru yang hendak kita rancang adalah semua normal baru yang futuristik, bukan lagi normal baru yang hanya TERBENTUK oleh sebuah mekanisme REAKSI ACAK (Sporadis), spontan dan tanpa pola yang berketahanan yang kaya dengan alternatif baru (ini sangat penting agar di masa depan kumat manusia tidak akan selalu dikejutkan oleh sebuah perubahan mendadak yang datangnya bisa dari segala arah, dan bukan hanya datang dari satu arah sebagai hasil prediksi yang sifatnya strike line/prediksi garis lurus).

Walaupun penyebab utama dari lemah (kekacauan) respons umat manusia terhadap Pandemi Covid-19 adalah karena lemahnya sistim yang tidak responsif (kalkulatif by data basic), tapi justru cenderung lebih reaktif (emosional) dan tidak peka terhadap segala kemungkinan perubahan yang bersifat global, umat manusia masih punya harapan, belum terlambat untuk membangun sebuah model baru (normal baru) berdasarkan macam-macam perubahan yang kaya terhadap alternatif/kemungkinan . Keyakinan kita terhadap hebatnya sebuah sistem lah melempar kita ke dalam sebuah jurang perubahan yang datang menentang kita dari segala jurusan.

Kesadaran dan dasar kolektif global adalah kunci sistem baru atau normal baru yang lebih kooperatif dan kolaboratif. Harus ada semacam kesepakatan baru secara global. Akan ada pergeseran penggunaan penggusuran berbagai parameter yang sifatnya terlalu kaku melihat segala kemungkinan perubahan kedepan.

Beberapa indikasi potensi penting agar bisa masuk dalam sebuah situasi normal baru:

Pertama, jika adanya sebuah trend kesadaran baru terhadap pentingnya kesehatan dan sanitasi individu, publik, bangsa dan bernegara (yang harus terkoneksi dengan sebuah sistem yang lebih global). Kesadaran yang dibutuhkan adalah kesadaran yang terlembagakan.

Kedua, jika adanya kesiapan negara-negara untuk membangun sebuah sistem hukum yang lebih MENJAMIN dan mampu memadamkan kepanikan individu maupun masalah. Tanpa jaminan maka tidak akan ada pihak yang bisa dimintakan pertanggungjawaban (lembaga yang dibentuk tidak boleh terlalu politis )

Ketiga, jika negara-negara telah mampu menyiapkan dana cadangan yang cukup untuk menjawab kemungkinan timbulnya sebuah perulangan (di sini negara harus cerdik).

Keempat, jika trend solidaritas dan kesetikawanan sosial menunjukkan angka peningkatan yang cukup berarti. Ini harus bisa dikelola secara lebih berkeseimbangan sebagai akibat dari social distancing dan physical distancing yang diterapkan selama masa Covid-19.

Kelima, jika data dan statistik bencana benar-benar mencerminkan situasi dan keadaan yang sesungguhnya, sangat penting untuk dapat dijadikan dasar membangun kepercayaan dan semangat baru memasuki normal baru. Normal baru tidak bisa dibangun di atas dasar data-data yang salah dan sangat mungkin bukan hanya kacau tetapi malah mengacaukan. Karena resikonya akan menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap institusi yang ada, baik itu institusi swasta maupun pemerintahan (lokal, nasional maupun global)

Keenam, normal baru tidak bisa dibangun di atas sentimen semangat perlombaan perang ekonomi dan potensi perang fisik , terutama di antara negara-negara yang saat ini sedang berlomba untuk menjadi kampiun dunia (misalnya antara Cina dan Amerika yang saling berlomba dan saling menuding satu dan yang lainnya), dan semakin diperparah oleh semakin melemahnya institusi global seperti WHO (sering berubah-ubah banyak pandangan dan pendapat terhadap kinerja Covid-19 dan kelemahan soal pendanaan).

Ketujuh,  jika dunia telah sadar bahwa pentingnya melawan musuh bersama (bukan saling memusuhi dan menghancurkan satu dengan negara lainnya). Dalam soal Covid-19, semua negara harus ikhlas pelindung dalam sebuah ideologi yang sama (keselamatan dan kesinambungan umat manusia adalah hukum tertinggi yang melebihi kepentingan ideologi setiap negara). Covid-19 hanya akan menang ketika negara-negara gagal menyatukan spirit dan tujuan bersama (membangun kerukunan dan kedamaian global yang tidak serakah)

Kedelapan, khusus untuk point seperti ini akan saya lanjutkan di dalam tulisan lain.

Tidak ada salahnya jika kita sedikit menengok ke belakang, mencermati dan melindungi ulang perjalanan sejarah panjang umat manusia dari perang mitologi sampai era teknologi sekarang ini. Dari sana kita akan dapat mengambil pelajaran positif. Bagaimana generasi sebelum kita mampu melewati seleksi alam secara cerdas dan tentu juga cerdik untuk masuk ke padang sebuah fase baru.

Jangan tanya…, berapa korban yang sudah secara ikhlas mereka pertaruhkan hanya agar bisa naik kelas. (Bersambung)

 

(Penulis adalah Peneliti Teknologi tinggal di Bandung)

Komentar