oleh

Stunting, Tembok Besar Penghalang Untung Bonus Demografi

-Opini-526 views

Oleh: Marthin Fernandes Sinaga

Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dan tidak sesuai kebutuhan pada anak sejak masih dalam kandungan hingga berusia 2 tahun. Stunting pada anak akan terlihat dari perawakan anak yang kerdil atau lebih pendek dibandingkan anak-anak seusianya dengan jenis kelamin yang sama. Selain mengalami gangguan pertumbuhan, stunting pada anak juga memengaruhi perkembangannya. Anak dengan stunting akan mengalami penurunan tingkat kecerdasan, sistem kekebalan tubuh yang rendah, serta kesulitan dalam belajar. Pencegahan stunting pada anak-anak merupakan salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-2 yaitu menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malanutrisi serta mencapai ketahanan pangan pada tahun 2030.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, angka stunting di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah sebesar 42,6%. Angka tersebut turun cukup besar dibandingkan tahun 2013 sebesar 51,7%. Namun, persentase balita terkena stunting provinsi NTT masih yang tertinggi se-nasional, dimana persentase stunting secara rata-rata di Indonesia adalah 30,8%.

Stunting dan Hal-Hal yang Menyebabkannya

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Torlesse, Cronin, Sebayang, dan Nandy tahun 2016 pada 1.366 anak berusia 0-35 bulan di Indonesia menemukan prevalensi stunting meningkat pada ibu yang tidak tamat SD, rumah tidak sehat, tidak memiliki jamban sehat, tidak mencuci tangan dengan sabun, dan air minum tidak diolah. Berdasarkan hasil data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2019 yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik, terdapat beberapa indikator yang menggambarkan kondisi dari faktor-faktor yang memengaruhi tingkat stunting di NTT, antara lain.

Pertama, Gizi Buruk pada Ibu Hamil dan Bayi. Salah satu aspek gizi yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil dan anak saat tumbuh kembang adalah protein. Berdasarkan tabel Angka Kecukupan Gizi (AKG) Kemenkes RI, standar angka kecukupan protein adalah sekitar 56-59 gram per hari untuk perempuan dan 62-66 gram per hari untuk laki-laki. Di NTT, rata-rata konsumsi protein perkapita sehari pada Maret 2019 hanya sebesar 53,78 gram/kapita/hari. Hal tersebut juga tercermin dalam rata-rata pengeluaran perkapita terhadap keseluruhan pengeluaran sebulan untuk bahan makanan protein tinggi seperti ikan, daging, telur, susu, dan buah-buahan yang hanya sebesar Rp.131.339/kapita/bulan, di bawah rata-rata nasional yang mencapai Rp.167.864/kapita/bulan.

Indikator lainnya adalah berat badan anak baru lahir. Persentase anak lahir yang memiliki berat badan di bawah 2,5 kg masih banyak mencapai 12,96%. Angka tersebut masih lebih tinggi dari angka nasional sebesar 11,32%. Kebutuhan gizi yang cukup, khususnya protein pada ibu hamil dan bayi dua tahun telah dibuktikan oleh banyak penelitian merupakan bagian yang sangat penting dalam mencegah maupun mengurangi angka stunting.

Kedua, Tingkat Pengetahuan Ibu. Seorang ibu harus mengetahui mengenai gizi yang dibutuhkan anaknya, ketika sebelum hamil, saat hamil, dan setelah melahirkan. Pengetahuan tersebut paling tidak dimulai dengan kebutuhan akan pendidikan formal yang mestinya terpenuhi. Namun, masih banyak perempuan berusia 15 tahun ke atas yang nantinya akan atau sudah memiliki anak yang tidak mempunyai ijazah SD, yaitu sebesar 25,31%. Angka ini di atas angka nasional sebesar 19,41%. Padahal, seorang dengan tingkat pendidikan yang lebih baik akan lebih mudah dalam menerima informasi, dalam hal ini adalah informasi mengenai gizi seorang anak untuk mencegah stunting.

Ketiga, Kondisi Lingkungan yang Tidak Memadai. Faktor air bersih dan sanitasi rumah berperan penting dalam mengurangi angka stunting. Kondisi lingkungan yang buruk memiliki resiko terpapar penyakit yang lebih tinggi dan menghambat pertumbuhan anak. Salah satu indikator kondisi lingkungan yang baik adalah sumber air utama yang layak dapat berupa air leding, sumur bor, sumur maupun mata air yang terlindung. Di NTT, baru ada 76,58% masyarakat yang memiliki akses sumber air utama yang layak. Indikator lain adalah tempat penampungan akhir tinja yang berbentuk tangki septik, dimana di provinsi NTT persentasenya hanya sebanyak 62,40%, masih cukup jauh di bawah angka nasional sebesar 78,73%. Sisanya, masyarakat membuang tinja ke tempat terbuka lainnya.

Bonus Demografi

Tugas pemerintah memang masih berat dalam mengatasi permasalahan stunting di NTT. Apalagi, bonus demografi sudah berada di depan mata. Bonus Demografi adalah keadaan dimana jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibanding penduduk usia tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Indonesia diperkirakan akan mengalami puncak bonus demografi pada tahun 2030-2045. Saat ini, di NTT terdapat 60,72% penduduk usia produktif 15-64 tahun. Sementara itu, terdapat 1,84 juta orang atau sekitar 34,24% penduduk berusia 0-14 tahun yang pada tahun 2030-2045 akan memasuki usia produktifnya. Angka tersebut merupakan angka yang besar dan potensial.

Hal tersebut dapat menjadi sebuah peluang sekaligus tantangan. Peluangnya adalah jumlah penduduk usia kerja akan mencapai puncaknya pada bonus demografi sehingga dapat diharapkan dalam menggerakkan perekonomian dan kesejahteraan. Namun, hal tersebut juga menjadi tantangan, apakah penduduk yang berada pada usia kerja tersebut siap untuk mengembangkan diri atau malah sebaliknya. Dalam hal ini pula, persiapan dimulai sejak dini dimana anak-anak yang masih berusia dini pada saat ini nantinya akan menjadi bagian penduduk usia kerja pada periode tersebut. Jika angka stunting yang saat ini masih sangat tinggi, tentunya sulit mengharapkan anak-anak sekarang dapat menjadi pribadi yang kompeten di tengah banyaknya saingan dalam usia kerja pada saat keadaan bonus demografi.

Apa yang Dapat Dilakukan?

Kebijakan yang tepat sasaran sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan stunting dengan memerhatikan indikator-indikator yang memengaruhinya. Kebijakan tersebut dapat berupa memaksimalkan program yang menyasar anak-anak dan ibu hamil seperti Program Keluarga Harapan (PKH). Pengawasan lebih maksimal harus dilakukan untuk memastikan bantuan yang disalurkan tepat sasaran dan tepat guna, khususnya pada kebutuhan gizi balita. Sosialisasi, pemberian informasi serta pendampingan yang berkesinambungan kepada ibu hamil maupun ibu yang memiliki balita juga dapat menjadi poin kunci dalam mengurangi angka stunting. Selain itu, peran pemerintah dalam menyediakan sanitasi yang layak juga mesti mendapat perhatian lebih mengingat capaian dalam penyediaan sanitasi yang layak masih kurang.

Memang hal-hal tersebut tidak mudah, mengingat kondisi geografis NTT yang cukup sulit serta pola pandang masyarakat yang perlu waktu untuk diubah menjadi lebih baik. Namun, hal-hal tersebut mestinya tidak menjadi penghalang kita untuk bergerak dalam mengatasi permasalahan stunting ini, apalagi sampai menjadi penghalang dalam meraup untung dari bonus demografi yang akan datang. Tentunya, kita memiliki harapan anak-anak kita sekarang saat ini ke depannya dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan dapat menjadi andalan di masa depan.

 

(Penulis adalah ASN Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumba Timur)

Komentar

Jangan Lewatkan