oleh

Sukseskan Pesta Demokrasi Sabu Raijua 9 Desember 2020

-Opini-910 views

Oleh : Yonathan Wellmau, S.Pd.

Kurang dari dua minggu pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) atau pesta Demokrasi Sabu Raijua, mungkin  juga masih ada pertanyaan yang muncul mengenai apa sih Pesta Demokrasi itu? Yah suatu sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat di Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk memilih Gubernur serta Bupati/Walikota berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia 1945. Momen ini biasanya diawali dengan pengundian nomor urut peserta,  kampanye dan kontestasi dari para calon pemimpin yang menurut Robert Dahl kedua hal tersebut adalah ajakan untuk berpartisipasi. Partisipasi adalah  syarat minimal dari suatu demokrasi.

Menurut Rogers dan Storey (1987) kampanye merupakan serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan dalam kurun waktu tertentu. Pada 9 Desember 2020 mendatang, terdapat 270 daerah yang akan melaksanakan Pilkada serentak dengan rincian 9 Provinsi (Gubernur), 37 Kota (Walikota), serta 224 Kabupaten (Bupati).

Kabupaten Sabu Raijua juga merupakan salah satu dari 224 Kabupaten di seluruh wilayah Indonesia yang akan melaksanakan Pilkada serentak tersebut. Pada tahun 2015 menurut data KPU Sabu Raijua Daftar Pemilih Tetap berjumlah 51.587 pemilih dengan rician pemilih laki-laki berjumlah 26.462 pemilih, pemilih perempuan berjumlah 25.125 pemilih. Jumlah surat suara termasuk surat suara cadangan 2,5% atau berjumlah 1287 surat suara. Sehingga berjumlah total 52.874 surat suara. Jumlah surat suara yang digunakan berjumlah 40.547 surat suara sedangkan jumlah surat suara yang dikembalikan oleh pemilih karena rusak dan/atau keliru coblos berjumlah 14 surat suara. Jumlah surat suara yang tidak digunakan berjumlah 12.313 surat suara sudah termasuk dengan surat suara cadangan. Berdasarkan data ini maka jika melihat jumlah total pemilih kemudian dikurangi dengan jumlah surat suara yang digunakan terdapat 11.040 (0.9%) masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam pesta demokrasi pada tanggal 9 Desember 2015. Sangat disesalkan sekali partisipasi untuk memilih  tidak dimaksimalkan.

Berdasarkan data penetapan Daftar Pemilih tetap (DPT) oleh KPU Sabu Raijua terkait Pilkada tahun 2020 terdapat penambahan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang cukup signifikan. Adanya penambahan pemilih baru sejumlah 2.959 pemilih, sehingga total pemilih pada tahun ini berjumlah 54.456 DPT. Jumlah DPT tersebut tersebar di 63 Desa/Kelurahan pada enam Kecamatan.

Pemilih terbanyak berada di Kecamatan Sabu Barat yakni 20.186 pemilih, terdiri dari 10.345 pemilih laki-laki dan 9.841 pemilih perempuan, tersebar di 18 desa/kelurahan. Disusul Kecamatan Hawu Mehara  dengan jumlah pemilih sebanyak 11.486 pemilih, terdiri dari 5.871pemilih laki-laki dan 5.615 pemilih perempuan. Kecamatan Liae sebanyak 6.516 pemilih, terdiri dari 3.299 pemilih laki-laki dan 3.217 pemilih perempuan. Urutan pemilih terbanyak ketiga adalah Kecamatan Sabu Timur  sebanyak, 5.574 pemilih terdiri dari 2.751 pemilih laki-laki dan 2.560 pemilih perempuan.

Kecamatan Raijua sebanyak 5.470 pemilih, terdiri dari 2.793 pemilih laki-laki dan 2.677 pemilih perempuan. Pemilih dengan jumlah paling sedikit di Kecamatan Sabu Tengah yakni sebanyak 5.314 pemilih, terdiri dari 2.751 pemilih laki-laki serta 2.560 pemilih perempuan. KPUD Sabu Raijua Sebagai penyelenggara telah menyiapkan 180 Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang tersebar di 68 Desa/Kelurahan.

Berkaca dari latar belakang pengalaman proses Pilkada tahun 2015 di atas bahwa angka Golongan Putih (Golput) menembus 11.040 pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya sebagai warga Negara pada hajatan Pesta Demokrasi Sabu Raijua. Jika dipresentasekan maka jumlahnya 0.9% dari total DPT. Dengan adanya tiga paslon dalam Pilkada Sabu Raijua tahun 2020 ini, membuka wawasan masyarakat untuk memaksimalkan pilihan dengan penuh pertimbangan sebaik-baiknya dengan melihat rekam jejak paslon sebelum menentukan, bukan sebaliknya. Pilkada ini juga tidak akan membuang banyak waktu karena kita hanya memerlukan satu putaran saja dalam 1 hari saja.

Menurut Anggota Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (PERLUDEM) Titi Anggraini dalam berita Kompas tanggal 27 Juni 2018 membeberkan kerugian pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya. Pertama, mempersulit kandidat yang justru disukai untuk terpilih. Kedua, bisa jadi kandidat yang buruk yang akan terpilih. Ketiga, memperbesar potensi manipulasi suara. Keempat, kehilangan peran untuk memperbaiki nasib suatu daerah. Kelima, Pembiayaan Pilkada lewat APBD terbuang sia-sia. Menggunakan hak pilih secara tidak langsung memberikan sinyal bahwa Sabu Raijua memiliki bekal insan yang berwawasan global,  serta tentu saja  melahirkan pemimpin yang memiliki berkompeten untuk pembangunan.

Ikut serta dalam babak baru lima tahu kedepan untuk Sabu Raijua merupakan suatu hal yang membanggakan. Nasib Sabu Raijua lima tahun kedepan ditentukan pada tanggal 9 Desember mendatang. Apakah kita akan membiarkan calon yang terpilih tidak sesuai dengan keinginan kita? atau kita turut serta memilih calon yang memiliki kompetensi demi kemajuan Sabu Raijua ke depan.

Sebuah pesan kepada orang yang fanatik golput, yakni daripada menyesal dikemudian hari, lebih baik berikan hak suara kita selama itu memungkinkan. Tidak ada gunanya jika dikemudian hari kita melayangkan protes jika kita tidak ikut berperan dalam menentukan siapa yang terpilih. Pada tanggal 9 Desember 2020 nanti, kita siapkan hati, tentukanlah pilihan sesuai analisa kritis pribadi, kemudian berikanlah hak suara kita dengan tetap mematuhi protokol Covid-19 agar status zona hijau pada Sabu Raijua tetap terjaga.

 

Penulis adalah Guru SMAN 1 Sabu Tengah

Komentar

Jangan Lewatkan