oleh

Alam Sebagai Ibu yang Memberi Hidup

-Opini-313 views

Oleh: Eduardus Sandi Weru Tana

Sang pencipta  menganugerahkan kepada kita wilayah yang amat subur dan kaya akan makhluk-makhluk hidup, yang sebagian jarang terdapat di kawasan dunia lainnya. Kepulauan nusantara yang kaya akan aneka jenis tumbuh-tumbuhan dan binatang, baik di darat maupun di laut. Orang Indonesia sendiri terdiri dari berbagai suku dengan aneka ragam budaya yang amat indah, Bangsa kita makin maju dan makin besar.

Setiap anugerah selalu mengandung suatu tugas yaitu memelihara dan mengembangkan sebaik-baiknya apa yang sudah diterima itu. Apalagi anugerah itu sangat berharga seperti kehidupan.Maka dari itu, rasa syukur dan tanggung jawab kita terhadap Sang pencipta diamalkan dan diwujudkan dengan memelihara ciptaannya dengan bijaksana dan penuh hormat.

Alam merupakan bahasa Tuhan dan energi kehidupan. Dalam refleksi mengenai persoalan Kosmologi dalam hubungannya dengan kerusakan lingkungan ini saya terdorong mengambil tema : ”ALAM SEBAGAI IBU YANG MEMBERI HIDUP” sebab dalam kenyataan yang kita alami, kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari keadaan lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain, keadaan lingkungan alam sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, sebagaimana  sungguh berartinya peran seorang ibu bagi kehidupan anaknya; daya dukung ibu sangat penting, demikian juga daya dukung alam bagi kehidupan manusia sangat dibutuhkan, sebab dengan berkurangnya daya dukung alam akan berakibat pula terhadap kemampuan alam untuk mendukung kehidupan manusia. Oleh karena itu daya dukung alam harus dijaga agar tetap memberikan dukungannya bagi kehidupan manusia.

Daya dukung alam perlu dijaga karena daya dukung alam dapat berkurang atau menyusut sejalan dengan berputarnya waktu dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan industri. Daya dukung alam meliputi segala kekayaan alam yang terdapat di muka bumi, termasuk juga kekayaan alam yang ada di dalam perut bumi. Apakah alam kita sekarang masih tetap memiliki kekuatan sebagai ibu yang memberikan kehidupan ataukah kekuatan itu telah kita lenyapkan?. Apa upaya kita bersama untuk menjaga dan melestarikan alam kita?.

Sejak manusia mengenal peradaban, ribuan tahun yang lalu, manusia selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas hidupnya untuk mendapatkan “kenyamanan hidup”. Usaha ini sangat terasa sejak revolusi industri yang melanda Eropa pada pertengahan abad ke 19, kemudian menyebar ke Amerika. Pada saat itu manusia berlomba untuk menciptakan mesin-mesin baru untuk menghasilkan produk-produk baru yang diharapkan dapat segera dinikmati dalam waktu sesingkat-singkatnya. Dengan bantuan mesin, hasil pertanian dan perkebunan dapat ditingkatkan dan diolah lebih lanjut menjadi bahan yang sangat dibutuhkan manusia, yaitu sandang dan pangan. Perut bumi juga tidak luput dari sasaran perlombaan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

Untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia yang berupa sandang, pangan dan papan, manusia memanfaatkan penemuan-penemuan baru ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengeruk hasil kekayaan alam yang ada sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya. Namun, dampaknya tidak mustahil dalam waktu singkat kekayaan alam tersebut akan habis! Bukankah tanda- tanda tersebut saat ini sudah mulai tampak?Sebagai contoh, dahulu tambang minyak dapat dilakukan di daratan, namun saat ini penambangan sudah beralih ke lepas pantai. Tambang-tambang di daratan banyak yang mulai ditutup karena isinya sudah habis diambil manusia dalam rangka meningkatkan kualitas hidup. Dalam keadaan seperti ini manusia mulai berpikir tentang perlunya mempertahankan daya dukung alam bagi kelangsungan hidup manusia.

Kekhawatiran manusia atas masalah lingkungan yang dapat mengurangi kualitas dan kenyamanan hidup mulai nampak sejak akhir pertengahan abad ke 20 ini. Hal ini tampak dalam bencana alam antara lain:  banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, badai salju, kekeringan, hujan es, gelombang panas, taufan, kebakaran liar, dan masih banyak peristiwa lainnya. Beberapa bencana alam terjadi tidak secara alami. Contohnya adalah kelaparan, yaitu kekurangan bahan pangan dalam jumlah besar yang disebabkan oleh faktor manusia dan alam.

Bentuk kehidupan apa pun di dunia ini selalu berubah: berkembang dan melayu. Sudah kita sadari bahwa pencemaran lingkungan sangat merugikan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalui kegiatan industri dan teknologi diharapkan kualitas hidup manusia dapat lebih ditingkatkan; Namun, jika membawa dampak negatif dengan terjadinya pencemaran lingkungan, dampak negatif ini perlu dikurangi, dan bila memungkinkan, ditiadakan sama sekali. Kehidupan di bumi merupakan sistem ketergantungan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan alam sekitarnya. Terputusnya salah satu mata rantai dari sistem tersebut akan mengakibatkan gangguan dalam kehidupan. Oleh karena itu, kelestarian flora dan fauna merupakan hal yang mutlak diperhatikan demi kelangsungan hidup manusia.

Bumi kita dalam bahaya; manusia sedang membongkar kekayaan makhluk yang menjadi ‘rekannya’ di bumi ini, dan sedang mengosongkan dan malahan meracun lingkungannya. Dalam hubungan dengan realitas yang terjadi ini, Kosmologi hadir tidak bermaksud untuk menambah data-data dalam penelitian ekologis faKtual secara langsung. Tetapi dalam uraian Kosmologi hadir sebagai seorang ibu yang memberi dan mengajarkan hal-hal yang membawa kehidupan, sebab dalam uraian Kosmologis diperoleh pemahaman yang lebih mendalam, teratur, dan keyakinan yang lebih efektif mengenai pengurusan lingkungan, agar manusia dengan pertanggungjawaban lebih besar dapat melestarikan dan menyehatkan kembali alam sebagai ibu yang memberi hidup.

Penanggulangan pencemaran lingkungan sebagai ibu yang memberi hidup perlu sekali. Untuk memulainya diperlukan niat dan kesungguhan hati segenap warga masyarakat, terutama tanggung-jawab moral dari mereka yang merasa menjadi pelaku atau penyebab terjadinya pencemaran lingkungan. Sekali lagi perlu diingat bahwa planet bumi yang dihuni manusia hanya satu,sebagaimana rahim seorang ibu hanya satu, jangan sampai rusak dan membawa bencana bagi kelangsungan hidup manusia. Melalui refleksi singkat ini diharapkan dapat memicu timbulnya rasa tanggungjawab bersama pada usaha penanggulangan dampak kerusakan Alam yang terjadi di bumi kita ini.

 

 

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

Komentar

Jangan Lewatkan