oleh

Beelzebul Wujud Kerakusan Manusia Modern, Perspektif Injil Sinoptik

-Opini-377 views

Oleh: Soterdino Obe

Manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang tidak pernah puas, menghadirkan manusia sebagai makhluk yang berjalan dengan hasrat dan nafsu akan segala sesuatu. Walapun kalau ditilik secara positif sikap manusia yang tidak pernah puas ini membawa manusia pada perkembangannya yang signifikan, artinya bahwa ketidakpuasan itu menjadi alasan manusia berkembang kearah yang lebih baik namun dampak negatifnya juga membawa manusia ke dalam degradasi moral yang menguras dan mengikis habis rasa empati antar sesama manusia.

Hal ini memungkinkan rasa egoisme tumbuh subur layak rerumputan liar di musim hujan. Rasa ketidakpuasan yang berlebih membawa manusia pada sikap rakus dan menghadirkan manusia sebagai homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi sesamanya). Kerakusan manusia memberi peluang berkembangnya hukum rimba dimana “yang lebih kuat-lah yang akan menang”.  Manusia semakin hari semakin berbahaya bagi sesamanya dan menyangkal konsep pribadi luhur manusia sebagai penolong yang sepadan bagi sesamanya.

Plato seorang Filsuf Yunani yang tersohor berpandangan bahwa “setiap orang bisa hidup sejahtera secara merata, maka manusia perlu dan berkewajiban mengendalikan nafsu keserakahannya untuk memenuhi semua keinginan yang melebihi kewajaran”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa seharusnya manusia tak lagi mengeksploitasi diri dan keserakahannya akan sesama dan lingkungannya secara berlebihan hanya demi menimbun pundi-pundi kekayaan.

Beberapa waktu yang lalu dunia maya dihebohkan dengan terbongkarnya kasus penimbunan pasokan obat-obatan dan tabung oksigen yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Di Kalimantan Barat petugas menemukan sebanyak 553 tabung oksigen yang di simpan dalam sebuah gudang di Kecamatan Parindu. Hal yang serupa pun terjadi di Tangerang, polisi mengungkap penimbunan tabung oksigen, masker, dan obat-obatan yang oleh para pelaku dijual dengan harga yang lebih mahal dari harga sebenarnya.

Kasus-kasus penimbunan alat kesehatan ini sangat memprihatinkan, melihat kondisi Negara yang sementara bergulat dengan pandemi Covid-19 yang sedang merajalela. Kasus-kasus seperti ini menunjukan bagaimana rendahnya kesadaran akan kebaikan bersama dan tenggang rasa antara sesama manusia, terkususnya dalam koteks pandemi seperti ini. Krisis kemudian dilihat sebagai lahan bisnis yang menguntungkan, manusia menyepelekan kebaikan bersama demi kesejahteraan pribadi.

Martin Heidegger memberi gagasannya bahwa “hidup manusia merupakan sebuah keterlemparan bersama orang lain.” Dimana setiap perilaku sosial manusia selalu akan melibatkan orang lain, terlepas dari apakah dampak yang diberikan itu buruk ataupun baik. Dalam kasus yang terjadi tersebut kita dapat melihat bagaimana perilaku rakus yang dipupuk menghadirkan berbagai problem sosial yang mengorbankan sesama manusia.

Manusia yang serakah

Kerakusan/keserakahan manusia merupakan dosa klasik yang telah lama ada dalam kehidupan. Dalam kitab suci digambarkan bagaimana keserakan menjadi masalah pelik yang dialami manusia, sebut saja kisah Akhan seorang suku Yehuda yang melalaikan perintah Tuhan dengan mengambil untuk dirinya sendiri jubah, perak dan emas yang dikhususkan untuk perbendaharaan Tuhan. Hal ini kemudian mendatangkan kemalangan terhadap bangsa Israel akibat murka Tuhan (Yosua 7: 1-26).

Dalam injil kita dapat menjumpai Yudas, seorang dari bilangan para rasul yang kemudian menjual Yesus kehadapan para tetua Yahudi dengan harga 30 keping perak. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) serakah merupakan sebuah kata sifat yang bermakna “selalu hendak memiliki lebih dari apa yang dimiliki; loba; tamak; dan rakus”. Keserakahan terjadi dalam berbagai aspek kehidupan manusia dan bersifat merugikan orang lain. Dalam ajaran agama Kristen, dosa keserakahan dilambangkan dengan Beelzebul salah satu pangeran kegelapan yang dikenal membawa sifat serakah dan rakus. Keserakahan sangat dekat kaitannya dengan keegoisan, dimana manusia berlagak mementingkan dirinya sendiri dan golongannya, tanpa peduli dengan kebaikan yang lain. Keserakahan dalam dunia dewasa ini dapat kita temukan dalam berbagai tindakan seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Yesus dan Beelzebul

Beelzebul berasal dari kata dalam bahasa Yunani yakni “Baal-Zebub”, sosok dewa Filistin yang disembah di kota Filistin bernama Ekron pada zaman Perjanjian Lama ditulis. Julukan ini mengandung makna “dewa lalat” (2 Raja-Raja 1:2). Penggalian arkeologis di daerah-daerah Filistin mendapati patung-patung lalat yang terbuat dari emas. Setelah zaman Filistin berlalu, umat Yahudi mengubah namanya menjadi “Beelzebul,” sebuah kata yang berarti “dewa kotoran” yang digunakan dalam Perjanjian Baru bahasa Yunani. Julukan ini merujuk pada dewa lalat yang disembah guna menghindarkan diri dari penyakit yang berasal dari lalat. Beberapa sarjana Alkitab juga menganggap bahwa Beelzebul juga dikenal sebagai “dewa kecemaran,” yang kemudian dipakai sebagai umpatan oleh kaum Farisi. Oleh karena itu, Beelzebul merupakan dewa yang dibenci, dan namanya digunakan oleh orang Yahudi sebagai julukan bagi Setan.

Dalam Alkitab khususnya dalam injil-injil sinoptik (Matius, Markus, Lukas) Beelzebul diartikan sebagai penghulu setan; “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan”. Dewa Beelzebul dikaitkan dengan dewa orang Fillistin, yang dalam perkembangan selanjutnya nama ini dikenakan sebagai julukan untuk penguasa tertinggi kerajaan kegelapan. Dengan mengambil kata Beelzebul dalam bahasa Ibrani yang berarti “tuan rumah”, mengandung makna bahwa setan selalu ingin mengambil kehidupan manusia secara mutlak. Dalam sumber lain Beelzebul disebut sebagai salah satu pangeran dari 7 pangeran neraka yang terdiri dari: Lucifer yang mewakili dosa kesombongan, Maamon mewakili dosa kerakusan, Asmodeus mewakili dosa hawa nafsu, Leviathan mewakili dosa iri hati, Satan mewakili dosa kemarahan, Belpeghor mewakili dosa kemalasan, dan Beelzebul mewakili dosa kerakusan.

Ketiga penulis injil sinoptik (Matius, Markus, Lukas) sama-sama memberi judul yang sama bertolak dari sudut pandang yang sama, dimana dikisahkan Yesus yang difitnah bahwa kuasa-Nya dalam mengusir roh-jahat berasal dari kuasa Beelzebul sang penghulu setan. Perikop tentang Yesus dan Beelzebul merupakan topik yang penting dalam injil, hal ini bukan semata-mata karena posisinya yang tertera dalam ketiga injil sinoptik tapi lebih daripada itu bahwa topik Yesus dan Bellzebul memberikan pemahaman dan pengajaran kepada para pembaca mengenai batasan antara kuasa gelap dunia dengan kuasa ilahi yang datang dari Allah. Matius 12: 22-37, nampaknya lebih-lebih memberikan narasi yang lebih panjang dengan menegaskan tentang bagaimana buah dikenal melalui pohonnya. Bila buah itu baik tentunya ia dihasilkan dari pohon yang baik pula. Hal ini menekankan tentang bagaimana menilai tanda-tanda nyata yang terjadi dalam dunia.

Perumpamaan ini kemudian dikoneksikan dengan teks Yesus dan Beelzebul, menegaskan bahwa perbuatan baik yang dikerjakan oleh Yesus tentunya bukan berasal dari kekuatan gelap namun dari terang ilahi yang nyata dalam diri-Nya. Oleh karena itu sifat rakus yang identik dengan Beelzebul adalah sifat negatif yang berasal dari kegelapan dan tidak dianjurkan untuk dilakukan manusia.

Berbeda dengan Markus, sebagai teks tertua dan merupakan dasar dari semua teks sinoptik lainnya (Matius dan Lukas), Markus lebih menghadirkan topik ini secara apa adanya dengan menekankan kepada logika bagaimana iblis mengusir iblis? Karena dengan itu kerajaan mereka akan runtuh. Teks Markus 3: 20-30 ini Teks ini lebih-lebih menjadi titik tolak perbandingan antara kuasa jahat dan kuasa baik, sekaligus sebagai penegasan tentang posisi Yesus yang memiliki kuasa berasal dari Allah sendiri. Kehadiran Yesus yang membawa konsep belas kasih dan tenggang rasa terhadap sesama manusia ditentangkan dengan kuasa jahat Beelzebul yang rakus dan egois.

Selanjutnya tidak berbeda dengan kedua teks sinoptik lainnya, injil Lukas 11:14-23 memberi narasi dan pemahaman yang kurang lebih sama tentang topik Yesus dan Beelzebul. Dimana kuasa jahat Beelzebul merupakan kuasa yang merusak dan ditentang oleh Yesus.  Lukas menambahkan sedikit pada akhir perikop tentang penegasan bahwa “Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan”. Ini lebih-lebih menekankan tentang bagaimana persekutuan dengan Yesus membawa rahmat yang menyelamatkan, sedangkan perilaku fasik (kerakusan) membawa kejatuhan.

Dalam kehidupan modern, manusia Nampak menjadi Beelzebul bagi sesamanya, menyingkirkan kepentingan bersama dan mengutamakan kepentingan pribadi dengan mengorbankan orang lain. Contoh konkretnya adalah hadirnya kasus-kasus seperti penimbunan obat-obatan di masa pandemi Covid-19.

Kembali Meneladani Pribadi Yesus

Manusia sudah selayaknya sebagai makhluk sosial hadir dan menjadi penolong bagi sesamanya. Meneladani pribadi Yesus yang mngorbankan diri-Nya demi kepentingan banyak orang. Sikap mementingkan diri sendiri hadir sebagai penyakit sosial yang mencederai kehidupan bersama, sehingga harus disingkirkan dalam kehidupan bermasyarakat. Selayaknya para pelaku kejahatan yang merugikan masyarakat diadili dengan seberat-beratnya, sehingga menimbulkan efek jera sekaligus meminimalisir kejahatan-kejahatan yang terjadi kini. Sikap rakus dan mementingkan diri sendiri yang diwujudkan dalam pribadi Beelzebul sudah seharusnya dihilangkan dari pribadi manusia, karena bagaimanapun segala tindak tanduk perbuatan manusia yang merugikan bagi orang lain merupakan wujud terdegradasinya iman dan ketakwaan manusia.

Dalam konteks bangsa Indonesia, kerakusan dan keegoisan mencederai nilai luhur Pancasila sebagai ideologi dan jati diri bangsa Indonesia. Karena itu manusia Indonesia sudah selayaknya kembali menanamkan nilai luhur bangsa dengan memperbaiki ketakwaan dan tenggang rasa yang kini mulai terdegradasi dalam diri manusia Indonesia. Bagaimana manusia Indonesia memperbaiki akhlak? Dengan kembali kepada ajaran agama yang benar terlebih dengan meneladani pribadi Yesus yang rendah hati dan rela mengorbankan diri bagi kepentingan bersama.

 

Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Komentar