oleh

Belajar dari Badai Seroja

-Opini-850 views

Oleh: David B W Pandie

Badai siklon tropis Seroja yang menghantam Provinsi  NTT dan sebagian wilayah NTB pada 4-5 April 2021 telah menimbulkan bencana hidrometeorologi dan dampak yang serius.

Terjangan Seroja tidak hanya memporak-porandakan alam dan lingkungan, berupa rumah dan gedung, fasilitas umum, infrastruktur listrik, telepon, air, jalan-jembatan, pelabuhan, bendungan, sawah, ladang, namun juga memakan korban manusia.

Menurut laporan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional hingga 10 April 2021, tercatat  48 korban yang hilang dan 178 orang yang meninggal.

Badai yang mengerikan ini juga menimbulkan trauma bagi semua penduduk yang baru merasakan kekuatan terpaan badai maha dahsyat.

Berdasarkan analisis pantauan BMKG, lokasi siklon tropis Seroja tepat berada di titik koordinat 11.3 LS-120.4 BT, yaitu sekitar 180 kilometer sebelah barat daya Sabu.

Siklon tropis adalah badai dengan kekuatan yang besar.

Radius rata-rata siklon tropis  dapat mencapai 150 hingga 200 kilometer per jam.

Perubahan iklim menyebabkan menghangatnya sebagian lautan di daerah dekat tropis/subtropis.

Implikasinya, Laut Timor dan Laut Banda   berpotensi menjadi tempat perkembangbiakkan baru siklon tropis dan berpotensi terjadi tahunan.

Fenomena siklon  sebagai bahagian dari anomali musim ini akan kerap terjadi sehingga membutuhkan kemampuan mitigasi bencana dan adaptasi  terhadap berbagai perubahan untuk mereduksi risiko bencana.

Bencana sebagai ujian

Pengalaman selalu menjadi guru yang baik agar kita belajar membangun sistem manajemen bencana yang efektif.

Dunia saat ini memasuki tantangan hebat di mana bencana secara kuantitatif  mengalami eskalasi sebagai fenomena tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Bencana menguji daya tahan dan daya juang manusia serta kekuatan sistem budaya dan pemerintahan.

Karena itu, tatkala badai  Seroja menerjang kemarin, ujian sesungguhnya dimulai dan kita dapat  menilai seberapa adaptif  bangunan, pohon-pohon yang ada di sekitar kita, keefektivan sistem manajemen bencana, kecanggihan  peringatan dini dan tingkat kecepatan dan ketepatan pemerintahan dalam  menanggapi dampak bencana.

Ujian juga berlaku pada kekuatan dan kelenturan modal sosial, yakni  sejauh mana kepekaan dan solidaritas sosial terbangun sebelum dan setelah bencana yang mencerminkan derajat kesehatan sosial dalam kehidupan bergotong-royong.

Kita bersyukur bahwa solidaritas sosial masih tebal dengan bangkitnya kekuatan sukarela masyarakat dari berbagai penjuru untuk memberikan perhatian dan berbagi perasaan dengan berpartisipasi aktif dalam pemberian bantuan sosial.

Solidaritas ini bersifat inklusif yang melintasi batas-batas perbedaan.

Bencana membangun semangat persaudaraan sejati dan melarutkan kita dalam kebersamaan senasib-sepenanggungan.

Ujian juga dialamatkan kepada sensivitas para pemimpin politik kita dan kita patut salut kepada Presiden Jokowi bersama Gubernur NTT Viktor Laiskodat yang menjangkau daerah-daerah bencana dan berkomunikasi langsung dengan masyarakat di Lembada dan Adonara.

Kehadiran para pemimpin bukan sekedar berempati kepada masyarakat, tetapi menunjukkan kesetiaan kepada rakyat tanpa batas dan kehadirannya memberikan harapan bahwa pemerintah berdiri dan menderita bersama rakyat.

Kepemimpinan demikian menunjukkan compassion yang melampaui empati, yaitu memberikan pertolongan dan bersedia menanggung beban penderitaan rakyat.

Itulah kesejatian pemimpin dalam ujian bencana.

Belajar dari bencana

Penanganan pasca-bencana secara fisik melalui rekonstruksi, secara sosial dalam berbagai program rehabilitasi dan secara ekonomi melalui kebijakan pemulihan (recovery) yang bertujuan menstabilkan kembali  kehidupan masyarakat.

Namun narasi tentang bencana tidak berhenti di sini, kita perlu membangun sistem manajemen pemerintahan dan sosial dengan mengarusutamakan disaster risk reduction (DRR) ke dalam sistem perencanaan pembangunan berkelanjutan pada semua sektor dan level pemerintahan  dengan menekankan khusus pada pencegahan, mitigasi, kesiap siagaan, dan kemampuan mereduksi dampak bencana.

Gabrielle Rosalies Iglesias (2010) dalam tulisannya  Mainstreaming Disaster Reduction mendorong agar cara pandang terhadap bencana harus diubah.

Sebab umumnya,  manusia memandang bencana sebagai perintang pembangunan (disaster limits development) karena bencana dianggap  peristiwa yang menghancurkan berbagai aset dan meninggalkan kerugian besar bagi manusia.

Demikian pula dalam perspektif development causes, bencana menciptakan ketidak stabilan pembangunan, harga-harga menjadi mahal dan lingkungan mengalami degradasi.

Dua pandangan di atas, tidak menolong manusia untuk beradaptasi dengan bencana.

Sebab tidak ada kekuatan yang dapat menunda datangnya bencana sehingga alangkah arifnya bila manusia dapat membangun sistem untuk mereduksi risiko bencana dalam perspektif development reduce disaster risk.

Dalam cara pandang ini kita dapat mempersiapkan dengan baik teknologi peringatan dini agar masyarakat lebih siap menghadapi bencana.

Seperti dalam pemberitaan bahwa teknologi peringatan dini Indonesia agak lebih lambat dari Australia yang telah lebih awal mendeteksi bibit siklon dan menyampaikan pesan siaga bencana berkaitan dengan siklon tropis Seroja.

Kitapun dapat mengantisipasi pembangunan infrastruktur yang mengurangi risiko, seperti gedung yang tahan gempa atau  badai sampai pada kekuatan tertentu.

Jenis pohon apa yang sebaiknya di tanam di pekarangan dan lingkungan kota yang tahan  badai.

Kemarin, banyak sekali pohon yang patah dan tumbang  sebagai jenis pohon yang tidak aman ditanam di pinggir jalan atau pada fasilitas umum lainnya.

Demikian pula kabel telepon dan listrik dalam tanah lebih aman dibanding bergelantung pada tiang.

Konsep kuncinya adalah strategi membangun manajemen risiko bencana yang menganalisis keadaan sebelum bencana (pre-disaster), pada saat bencana (on-disaster) dan setelah bencana (post-disaster) untuk mengurangi risiko kerusakan fisik maupun kurban jiwa dan menjamin kecepatan pemulihan.

Ini adalah  pelajaran yang amat mahal yang mendorong kita belajar lebih bijak membangun sistem manajemen risiko menghadapi bencana  yang diprediksi akan semakin kerap terjadi.

Penulis adalah Dosen Fisip dan Pascasarjana Undana

Komentar

Jangan Lewatkan