oleh

Belajar dari Ruang Kelas Semesta

-Opini-344 views

Oleh: Wildana Rahmah Azzuhri

Pelajaran yang disediakan kurikulum hanyalah secuil pendidikan dari kelas semesta yang akan kita kenyam saban hari, saban waktu.

“Jika tidak ada guru yang bersedia membimbingmu, maka keadaanlah yang akan mengajarimu.”  Kurang lebih seperti itulah dawuh KH. Zaini Mun’im, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid. Saya membaca kalimat tersebut saat tugas liputan di hajatan besar pesantren bulan lalu. Kalimat tersebut sederhana. Siapa pun bisa dengan mudah membaca dan memahaminya. Namun, hanya orang-orang tertentu dan luar biasa yang dapat berkata demikian dengan yakin dan meyakinkan.

Kalimat tersebut merupakan saripati dari sebuah perjuangan, pengorbanan, permenungan, dan pergolakan batin dalam hidup seseorang. Hal seperti inilah yang dapat membentuk tiap individu dalam merangkai perspektif atau kerangka berpikir yang ia yakini benar.

Jangan lupakan, faktor lingkungan yang sangat kompleks juga turut menjadi penunjang utama dalam proses pembentukan tersebut. Tetapi penting diingat bahwa hal tersebut hanyalah asumsi pribadi. Untuk menguji akurasinya kita butuh berinteraksi dengan semesta. Lebih dari sekadar manusia.

Mengapa demikian? Dalam perspektif agama yang saya anut (Islam) mengajarkan kepada umatnya untuk selalu yakin bahwa tidaklah Tuhan menciptakan alam semesta ini dengan sia-sia (03.191). Terlebih Alquran juga menegaskan dalam pengutusan Nabi Muhammad SAW di dunia menjadi rahmat bagi alam semesta, bukan hanya manusia. Sehingga alam semesta sejatinya bekerja sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.

Jika meminjam istilah Bapak Ahmad Sahidah, Ph.D dalam God, Man and Nature Alam semesta adalah ‘ayat’ Tuhan yang menyiratkan sebuah pesan, informasi bahkan petunjuk kepada manusia. Tentunya untuk kembali lagi terhadap orientasi yang paling mendasar bagi manusia itu sendiri, Tuhan.

Dalam jagat dunia Twitter, tak heran jika kita dikagetkan dengan hadirnya mprop @Picoez atau pak Agus Afianto. Seorang Dosen Fakultas Kehutanan UGM nyentrik dan notabene adalah seorang ‘wali’ tanaman. Ia juga mendaku dapat berinteraksi intens dengan tanaman-tanaman yang ada di sekitarnya. Sampai-sampai ia mengabadikannya dalam buku yang berisi teguran-teguran dari tanaman yang selalu dapat menggugah hidupnya.

Tentu saya pribadi tak akan mengatakan bahwa pohon jati bisa berbicara layaknya manusia. Namun yang hendak saya tekankan adalah bagaimana beliau berhasil berinteraksi dengan alam semesta untuk mereguh kerangka berpikir yang lebih kompleks dan mendalam untuk kebahagiaan hidupnya.

Saya juga teringat tentang beberapa pengalaman saya. Ketika pada bangku sekolah saya hanya dicekoki oleh teori dan juga dipaksa mendengarkannya. Apa yang saya lakukan? Saya hanya bosan untuk kemudian tertidur. Pada kondisi seperti ini saya memilih aktif dan bergabung dalam berbagai organisasi sekolah untuk mengisi kebosanan tersebut sekaligus sebagai alasan untuk tidak masuk sekolah (jika tidak ingin dikatakan membolos).

Dalam keadaan tersebutlah angka yang hanya sekadar lambang sangat kerdil untuk mewakili apa yang saya peroleh. Bagaimana pada perkumpulan beberapa anak sebaya berkumpul, menyamakan presepsi, menundukkan ego pribadi dan berkolaborasi dalam dinamika sekolah.

Namun ada hal yang sedikit salah dengan pendapat saya tersebut. Ternyata sedikit apa pun pelajaran yang saya terima dari para guru pasti ada gunanya dan berguna dalam mengisi khazanah pemikiran saya.

Terlebih saat berdiskusi. Dengan bermodal jajanan murahan serta tempat yang nomaden (bisa di serambi musala, teras asrama sampai kamar mandi pesantren) itulah saya justru lebih dinamis dan lebih dekat dengan dunia dengan seabrek keluh-kesah dan suka-dukanya. Bertukar pikiran, melegitimasi keyakinan, dan ujung-ujungnya tersipu malu ketika mendapatkan jawaban yang lebih rasional tentu sangat sensasional.

Bahkan ketika terpleset dengan kulit pisang, jika berkenan meluangkan waktu sepersekian detik saja untuk menunda umpatan kita, maka akan ada pelajaran yang dapat kita ambil. Tentunya dari si kulit pisang itu tadi.

Begitulah semesta bekerja. Begitulah semesta dengan baik hati memberi kita kelas seluas-luasnya. Level belajar kita terlalu rendah jika hanya mematok fasilitas, biaya dan buku-buku beserta seabrek teorinya.

Namun saya tidak menghendaki untuk terlalu idealis, terutama isu paling sensitif di kalangan pelajar, nilai dan angka. Nilai juga penting untuk kita lulus (secara administratif) pembelajaran.

Bagaimanapun mempelajari mata pelajaran di sekolah adalah sebuah kewajiban, namun bukan paksaan. Berusaha untuk belajar sebaik mungkin adalah kewajiban kita. Perkara bisa atau tidak, itu hanya bonus. Karena mata pelajaran yang disediakan kurikulum hanyalah secuil pendidikan dari kelas semesta yang akan kita kenyam saban hari, saban waktu.

Ki Hajar Dewantara sendiri juga mengajarkan kepada kita bahwa tujuan pendidikan adalah memerdekakan manusia dalam dua hal; selamat raganya dan bahagia jiwanya. Dengan kita yakin bahwa di semesta ini tidak ada yang sia-sia, maka apa yang kita hadapi, apa yang kita jalani juga tidak ada yang sia-sia.

Makin kita dapat mereguh hikmah dan pelajaran yang terjadi dalam hidup, selama itulah kita hidup tidak akan susah. Selamat raganya, bahagia jiwanya. Mari kita mencoba untuk menikmati proses belajar dari kelas semesta kita. Dan biarkan ia merangkai, membentuk, menempa dan membimbing kita.

Tuhan, kutitipkan padamu atas segala apa yang telah aku pelajari dari semesta. Dan kembalikanlah padaku jika aku membutuhkannya. Dan janganlah engkau menjadikan aku lupa atas apa yang aku pelajari tersebut, wahai Tuhan. 

 

Penulis adalah Pelajar, Santri, dan pengabdi di Pondok Pesantren

 

 

Artikel ini sudah dipublish di nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan