oleh

Bencana Alam: Landasan Berpikir Manusia

-Opini-214 views

Oleh: Bernardus Badj

Manusia dan Alam

Secara teologis manusia dan alam semesta merupakan hasil ciptaan Tuhan. Dalam Biblis, Kitab Kejadian 1-2 secara eksplisit mengisahkan tentang penciptaan alam semesta beserta isinya. Dikisahkan bahwa betapa indahnya Allah menciptakan alam semesta ini dengan Sabda-Nya. Manusia, tumbuhan hewan,  air, tanah, udara dan lain sebagainya berasal dari satu sumber yang sama yaitu Sabda Allah. Kenyataan inilah yang menjadi dasar untuk berpikir bahwa pada dasarnya manusia dan ciptaan lainnya memiliki kodrat atau derajat yang sama yaitu Sabda Allah. Jadi,  manusia tidak boleh merusak  alam ini sekehendaknya.  Dalam kaitan dengan hal ini Jhon Dalberg pernah mengatakan demikian, “power tends to corrupt, absolut  power again and again corrupt absolutely” yang berarti kekuasaan cenderung merusak, kekuasaan mutlak berulang kali secara absolut. Pandangan ini tersebut sudah tentu merujuk pada manusia dan tingkah lakunya yang selalu menciptakan kekacauan dalam tatanan alam ini.

Kita  tidak dapat memungkiri bahwa manusia dan ciptaan lain merupakan buah karya Tuhan. Oleh sebab itu, keberadaan manusia di bumi ini adalah sebuah keteraturan. Dalam keteraturan ini ternyata terdapat suatu ketergantungan antara manusia dan alam. Manusia membutuhkan alam untuk menyatakan segala jati dirinya. Semua manusia memerlukan alam untuk mewujudkan cipta, karsa dan kehendak yang dimiliki. Selain itu, alam juga dengan caranya sendiri membutuhkan manusia sebagai unsur  terpenting dalam cakrawala penciptaan kosmos oleh Dia yang menjadi penyebab dari segala sesuatu. Namun yang pasti bahwa alam akan tahu dan takluk di bawah kuasa manusia karena manusialah yang biberi kuasa untuk mengolah dan memeliharanya. Artinya manusia sebenarnya ditampung dan dihidupi oleh alam. Alam menjadi induk bagi kehidupan manusia, karena manusia diciptakan dari debu (tanah). Dalam kehidupan sehari-hari manusia berkarya dalam pelukan alam ini. Alam setia menjaga  dan menghidupi manusia.

Hukum sebab akibat mengatakan bahwa setiap sebab pasti menimbulkan akibat. Manusia akan menuai apa yang ditaburkan. Bencana alam yang terjadi tidak terlepas dari perbuatan manusia. Manusia sangat rakus dan egois terhadap alam yang ada. Manusia telah menggeruk kandungan  alam seperti tanah, air dan semua usaha untuk tetap menjaga kelestariannya dan keseimbangan yang wajar bagi kehidupan manusia. Keanekaragaman hayati yang ada di alam ini hanya tinggal kenangan.

Misalnya  setiap hari  diberbagai tempat di Indonesia telah terjadi penebangan hutan baik secara liar maupun melalui izin kepada pihak tertentu. Bisa dibayangkan bila kegiatan ini Semakin gencar terjadi, maka ada begitu banyak pohon yang hilang. Sementara satu pohon untuk menjadi besar membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sejalan dengan kenyataan ini, HS Dillon dengan tegas mengatakan, persoalan sudah  sangat sistematik dan tidak berdiri sendiri. Namun demikian manusia harus tetap berusaha untuk mengatasinya  supaya paling kurang, berjuang agar kerusakan hutan ini tidak terus berlangsung sambil bekerja giat memperbaiki yang telah rusak. (Life edisi III : 2004). Himbauan persuasif ini seyogyanya tepat mengelitik budi dan nurani  manusia untuk berpikir dan menyadari apa yang terjadi  serta berusaha untuk memulihkan kembali alam  ini.

Bencana  Alam:  Landasan Berpikir Manusia

Bencana alam bukanlah suatu hal yang asing lagi bagi kehidupan manusia. Kata bencana sendiri sudah dikenal luas oleh masyarakat universal. Masyarakat tersebut  memaknai terminology ini Sesuai dengan bahasanya sendiri-sendiri. Misalnya  orang Inggris dan Amerika Serikat menyebut bencana dengan kata “disaster”.  Sementara itu, bagi kita orang Indonesia menamakannya sebagai  bencana. Secara hurufiah istilah bencana berarti malapetaka, kemalangan, kesukaran besar, yang membawa penderitaan, kesusahan dan kedukaan bagi manusia. Dalam kaitan dengan hal ini  kita dapat merumuskan bahwa bencana alam adalah malapetaka, kemalangan atau  penderitaan yang timbul karena peristiwa alam seperti gempa bumi, longsor, tsunami, banjir, letusan gunung berapi dan angin taufan.

Experience is the best teacher.” Pengalaman adalah guru terbaik. Inilah kata-kata bijak yang dapat menghantar manusia untuk berpikir mengenai upaya penanggulan terhadap bencana alam yang terjadi selama ini. Bencana alam bukanlah suatu masalah perorangan tetapi masalah publik. Oleh karena itu, upaya penanggulan ini bukan tanggung jawab kelompok tertentu saja tetapi  upaya pun ini merupakan tanggung jawab publik. Semua orang berhak dan berwajib memikirkan kebaikan bersama. Bencana alam yang penuh terjadi menjadi landasan berpikir manusia. Tanggung jawab memikirkan kebaikan bersama (Bonum comunne)  ini tidak hanya berpatokan pada hal-hal luar biasa yang dilakukan tetapi dapat juga dilakukan melalui nilai-nilai.

Hal yang paling utama dari semua kegiatan berpikir  adalah suatu tindakan nyata. Kegiatan berpikir tidak dapat menyelesaikan masalah bila tidak diimbangi dengan sebuah tindakan konkret. Tindakan nyata yang dilakukan berupa manusia berpantang untuk merusak ekosistem ini, manusia perlu melakukan perlindungan terhadap alam yang masih tersisa, dan  reboisasi terhadap alam secara khusus hutan yang telah gundul, juga  tidak membuang sampah sembarangan  di mana-mana. Semua usaha atau tindakan konkret di atas  tidak bermaksud untuk melarang manusia menggunakan alam yang ada. Manusia masih diperboleh untuk mengolah dan menggunakan alam yang ada demi kelangsungan hayatnya tetapi satu hal yang dituntut dari manusia adalah alam dan gunakanlah alam ini secara bertanggung jawab dalam mitra keteraturan dan keharmonisan.

Bencana alam sangat merugikan banyak orang. Oleh karena itu, manusia haruslah berpikir mengenai cara terbaik dalam menanggulangi kenyataan ini. Semuanya ini hanya tidak terbatas pada usaha untuk berpikir tetapi juga harus diwujudkan dalam suatu tindakan konkret. Tindakan konkret yang dilakukan pun tidak sebatas penemuan alat-alat modern tetapi juga sesuatu usaha konkret seperti perlindungan hutan, reboisasi, dan penggunaan hutan secara tanggung jawab. Perlu memikirkan keselamatan dan kesejahteraan manusia dan generasi yang akan datang. Dengan demikian benar bahwa  “Salus vestra in manu vestra.” Keselamatanmu ada di tangganmu sendiri.

 

Penulis belajar di Biara Santu Karolus Scalabrinian, Ruteng

Komentar

Jangan Lewatkan