oleh

Cinta dan Absurditas Salib

-Opini-610 views

(Beriman Kepada “Allah yang Kalah”)

Oleh: Arkian Biaf, SVD

Merenungkan drama penderitaan, sengsara, dan wafat Yesus Kristus, kita diajak untuk menghadirkan kembali tragedi salib di puncak Golgota. Di hadapan salib, kita tidak hanya berhenti pada tindakan MERENUNGKAN sengsara, wafat, dan penderitaan Kristus, namun sebagai orang Kristen, kita juga harus MERAYAKAN peristiwa yang brutal dan tidak manusiawi ini dalam perspektif iman. Kalau dipikir-pikir, bukankah tindakan “merayakan” sengsara, penderitaan, dan wafat merupakan sebuah tindakan yang abnormal, absurd, dan tidak masuk akal? Bukankah setiap manusia selalu ingin mencari dan mengejar kebahagiaan, dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari serta menolak apa yang disebut penderitaan? Bukankah penderitaan seharusnya disingkirkan atau bahkan dilenyapkan dari ingatan dan kamus hidup manusia? Apa gunanya bagi kita menyimpan kenangan terhadap sebuah luka masa lalu, entah dalam hidup pribadi atau dalam sejarah suatu masyarakat? Apakah tidak jauh lebih sehat dan menguntungkan bila menguburkan sebuah pengalaman pahit dan menyakitkan pada masa lalu daripada membawanya selalu dalam kesadaran sekarang? Bukankah kebahagiaan adalah pengalaman yang mau dipertahankan selama mungkin, sementara penderitaan hendak dijauhkan secepat mungkin? Apakah pantas penderitaan itu dirayakan atau semestinya kenangan yang mengerikan itu dikubur dan dilupakan saja? Sebab, bagi mayoritas orang, membuka luka masa lalu berarti membuka aib diri sendiri. Itulah mengapa Nietzsche, filsuf Jerman, dengan nada penuh keyakinan mengatakan bahwa lupa adalah penjamin kebahagiaan karena lupa menghapus yang usang dan menciptakan tempat bagi yang baru. Namun bagi kita orang Kristen, apakah tragedi salib dan kengerian Golgota itu mesti dilupakan dan dikubur agar tidak menimbulkan trauma? Bukankah yang mesti dipuja adalah kehidupan dan bukan kematian?

Salib adalah simbol penghinaan dan perendahan martabat manusia. Hukuman paling mengerikan dan merendahkan dalam konteks budaya Yahudi-Romawi waktu itu adalah hukuman salib, bukan hukum penggal kepala atau hukum rajam. Hanya penjahat kelas kakap yang disiksa dengan hukuman salib. Dalam sejarah sebelum Kristus, belum pernah ada manusia yang mati dihukum salib, kemudian namanya diingat dan ditulis dalam buku sejarah. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus menulis, “tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan. Ya, salib memang sebuah batu sandungan dan kebodohan dalam konteks saat itu. Mereka yang mati disalibkan, tidak hanya menanggung penderitaan fisik, tapi juga penderitaan psikis karena martabat mereka sebagai manusia ditanggalkan. Yesus sendiri harus mengalami nasib yang sama tragisnya dengan penjahat-penjahat kelas kakap yang mati disalibkan. Ia sendiri harus memikul salib tanda penghinaan itu, diolok-olok, disiksa, ditelanjangi dan kemudian digantung pada palang salib. Ia mengalami penderitaan yang luar biasa, ditelanjangi, diludahi dan pada akhirnya harus meregang nyawa di atas salib.

Hari ini kita menghadirkan kembali peristiwa sengsara, derita dan wafat Kristus. Bagi orang-orang bukan Kristen, kematian Kristus adalah suatu aib dan skandal yang sangat besar. Bagaimana mungkin Allah bisa menderita dan mati secara mengenaskan di salib? Allah macam apa yang hendak kita imani jika Allah yang kita imani itu ternyata adalah Allah yang lemah, rapuh, dan tak berdaya. Bukankah Allah itu mahakuasa? Dan kalau Ia mahakuasa, mengapa Ia tidak menggunakan kemahakuasaan-Nya untuk mengalahkan dan membasmi musuh-musuh-Nya. Tidak mungkin Allah yang menciptakan serentak memberi kehidupan kepada manusia, akhirnya harus mati di tangan manusia, ciptaan-Nya sendiri. Allah yang dapat menderita dan mati, pasti bukan Allah.

Jean Luc Marion, seorang filsuf Perancis, murid Jacques Derrida, pernah menulis demikian, “Allah itu mahakuasa justru ketika Dia tidak ada, ketika Dia kalah, ketika Dia mati”. Sadar atau tidak, kita sesungguhnya beriman kepada “Allah yang kalah”. Kekalahan Allah paling nyata tampak dalam tragedi penyaliban di bukit Golgota. Memang rasanya janggal mengatakan bahwa kita beriman kepada Allah yang kalah. Tapi marilah kita simak lebih jauh. Setelah bergulat dengan penderitaan-Nya di salib, Yesus akhirnya menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya. Untuk memastikan apakah Yesus sudah benar-benar wafat, sang kepala pasukan menikam lambung Yesus dan dari lambung-Nya segera keluar darah dan air. Seketika itu juga sang kepala pasukan berseru, “Sungguh orang ini adalah Putera Allah”. Sungguh menarik, pengakuan bahwa Yesus adalah Putera Allah justru datang dari sang kepala pasukan saat Yesus kalah, saat Dia meregang nyawa, saat Dia mati di salib. Kekalahan dan kematian Yesus di salib pada saat yang sama justru menampilkan kemahakuasaan Allah. Kemahakuasaan-Nya justru hadir dalam penderitaan dan wafat-Nya bukan dalam sorak-sorai dan gemuruh tepukan tangan saat Ia menyembuhkan orang sakit, mengusir setan-setan, membangkitkan orang mati, memberi makan lima ribu orang, atau dalam mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya. Ia mahakuasa justru ketika Ia kalah, ketika Dia mati. Ada paradigma kontras di sini. Yesus terkulai lemas tergantung pada palang kayu, tetapi justru saat itulah Ia menampakkan keilahian-Nya. Yesus tidak berdaya, tetapi malah momen itulah yang menjadi bukti bahwa kehadiran Allah tampak nyata. Yesus mati, tetapi dari kesepian dan keheningan salib itulah hidup baru dialirkan. Yesus kalah, tetapi itulah bukti kemenangan-Nya yang paling absolut atas maut.

Penderitaan dan wafat Yesus di salib merupakan pengorbanan yang paling mulia dan paling tinggi. Tidak ada cinta dan pengorbanan yang melebihi tindakan memberi nyawa. Kenapa memberikan nyawa merupakan tindakan cinta yang paling tinggi? Sebab, andaikata perbuatan cinta itu memberikan ginjal, kita masih memiliki yang lain lagi untuk kita berikan. Sementara jika nyawa yang kita berikan, kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan. Sudah tuntas. Sudah selesai. Sudah habis. Itu sebabnya ketika Yesus meregang nyawa di kayu salib, Dia berkata, “Sudah selesai”. Selesai pula karya pergumulan cinta-Nya kepada Bapa dan manusia.

Cinta itu identik dengan perbuatan MEMBERI. Cinta itu bukan perbuatan menikmati, mengambil, atau mengurangi sesuatu. Dan logika cinta itu luar biasa, semakin memberi semakin berkelimpahan. Inilah kebenaran tentang cinta itu, yaitu bahwa cinta itu adalah tindakan memberi dan berbagi. Cinta adalah tindakan memberi untuk sahabat. Artinya cinta itu identik dengan persahabatan. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”. Itulah ekspresi kasih yang paling agung. Sebab, kasih sejati tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri. Sebaliknya, kasih sejati senantiasa berusaha memberikan segala-galanya bahkan nyawanya sendiri untuk sahabat yang dikasihinya.

Persahabatan sesungguhnya adalah salib. Dengan salib dan penderitaan-Nya, Yesus mau menunjukkan bahwa Dia sungguh mencintai kita manusia, sahabat-sahabat-Nya. Melalui salib dan penderitaan-Nya Ia menunjukkan bahwa momen cinta dan penderitaan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Orang yang mencintai adalah orang yang mau menderita. Tidak cukup orang mengatakan dia mencintai tetapi pada saat yang sama menolak untuk menderita. Hanya orang-orang yang mau menderita demi cinta yang dapat mengerti apa itu kesejatian. Cinta adalah wilayah pertarungan di mana kesejatian dan kepalsuan beradu, bersaing, namun tidak pernah bisa disandingkan. Sebab tidak mungkin cinta itu sejati sekaligus palsu (Armada Riyanto, Aku dan Liyan).

Allah itu luar biasa, justru karena Dia memasuki wilayah aneka kisah duka “tanah terjal” hidup manusia. Tetapi, seperti Kristus ditinggikan di atas salib, penderitaan manusia tidak sia-sia. Tuhan tidak dipuji dalam kemenangan. Tidak juga dalam kemegahan. Tetapi Dia sangat berkenan pada manusia-manusia yang berduka dan luka. Sebab, Tuhan sendiri telah kalah, telah mati, dan tidak berdaya.

 

Penulis adalah Rohaniwan Katolik bertugas di Keuskupan Larantuka

Komentar

Jangan Lewatkan