oleh

COVID-19  dan Urgensitas Pertobatan Kaum Kristiani

-Opini-662 views

Oleh : Oktavianus Baylon

Eksistensi Covid-19 di Tubuh Bumi

Relevansi dengan konteks kehidupan dalam satu tahun lebih terakhir, di abad ke-21 terutama sejak di akhir tahun 2019 sampai pada masa tahun 2021 ini, global sedang atau masih ditaklukki dengan kemampiran suatu problem  yaitu wabah (epidemic) Covid-19. Kemampiran Covid-19 secara illegal ini sangat nampak mengganggu kenyamanan sendi kehidupan manusia. Manusia memang sudah menjadi objek atau sasaran utama dari serangan wabah Covid-19 ini. Serangannya dasyat yang melintasi begitu cepat kepada setiap raga manusia kemudian berdampak buruk terhadap psikis dan mental.

Masalah Covid-19 adalah masalah serius bagi dunia global, yang mana dapat mempengaruhi ke pelbagai  sendi-sendi kehidupan. Sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, politik, merupakan dampak buruk yang nampak pada kehidupan global karena kehadiran epidemic (wabah) Covid-19. Serangan wabah ini tanpa mengenal sisi kelemahan dalam diri manusia.  Dalam artian, manusia belum mempersiap kekuatan dalam diri (power in self) seperti mental, psikis dan emosional yang matang untuk menghadapi  kemampiran wabah Covid-19 ini. Bahkan manusia tidak tahu sebab wabah ini bermula.

Sebagian publik meyakini bahwa kisah awal penyebaran Covid-19 bermula pada akhir 2019 ketika seseorang terjangkit virus corona dari hewan yang diperdagangkan di pasar Seafood Huanan, Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Kisah tersebut kemudian berkembang menjadi tragedy memilukan dalam sejarah umat manusia era kiwari. Bermula dari infeksi di Wuhan, Covid-19 kini telah menyebar secara global dan menewaskan banyak orang. Indonesia pun sebagai salah satu dampak dari wabah ini, berdasarkan data dari pihak SATGAS (Satuan Gugus Tugas) penanganan Covid-19 pada Rabu,14 April 2021, terdapat 1.589.359 jiwa dinyatakan positif terinfeksi. Sementara yang meninggal sebanyak 43.073 (LIPUTAN 6).

Apakah sebab utama  sehingga eksistensi wabah penyakit Covid-19 muncul di tubuh bumi pertiwi ini? Begitu majemuk ilmuwan belum mencapai final terhadap kepastian asal mulanya (sumber) kemunculan wabah ini. Namun, posible (kemungkinan) semua pihak, wabah Covid-19  bermuncul disebabkan ulah manusia yang merusak terhadap ekosistem alam dalam habitat hewan. Adalah Joacim Spangenberg, Wakil Presiden dari Institut Keberlanjutan Eropa mengatakan, dengan merusak ekosistem, manusia menciptakan kondisi yang menyebabkan virus hewan menyebar ke manusia. Sebagaimana dikatakan Joacim Spangenberg, Covid-19 merupakan konsekuen dari ulah manusia yang merusak terhadap ekosistem alam terutama keberlangsungan habitat hewan maka dapat mengakibatkan pula kembali kepada manusia itu sendiri.

Jika manusia merupakan objek utama dari serangan wabah Covid-19, sejatinya, manusia juga yang berperan utama dalam mengendalikannya. Dalam menekan kencangnya roda penularan Covid-19, tidak gampangi semua pihak mengupayakannya. Meskipun banyak upaya keras yang dilakukan baik dari pemerintah maupun masyarakat, tidak akan membuat wabah ini bertuntas dalam tempo yang singkat. Sebagai salah satu upaya berdasarkan perspektif penulis yaitu, menekan penularan wabah Covid-19 ini, semua pihak perlunya transisi (berpindah) pola pikir dan kembali kepada kesadaran iman yaitu kembali kepada kekuasaan  dan hukum Tuhan yang Dia sebagai penguasa.

Hukuman Tuhan adalah hukuman tertinggi atas hukum kodrat manusia. Dalam  kitab suci perjanjian Lama, penyakit dipandang sebagai hukum yang dikirim Tuhan. Sebagai hukum dari Tuhan  penyakit biasanya dipandang sebagai akibat dosa Ayub (2 : 5-6). Secara umum dalam kitab suci tertulis bahwa; Allah memberikan penyakit dengan dua tujuan. Pertama, ingin mendidik dan mengajar umat-Nya agar umat-Nya mau berbalik, makin setia kepada jalan-Nya. Kedua, dengan penyakit Allah menghukum mereka yang melawan kehendak-Nya ( Im 26:14-20). Oleh karena itu, sebagai insan yang bertakwa kepada Tuhan, harus mampu tunduk di bawah hukuman itu. Situasi Covid-19 yang dialami manusia sekarang merupakan suatu kutukan nyata dari Tuhan. Situasi ini menyadarkan kita untuk kembali kepada Tuhan sebagai Dia yang berkuasa. Orang yang beriman akan Tuhan terutama bagi kaum kristiani tidak sepantasnya mengabai akan ajaran-Nya.

Urgensitas Pertobatan Kaum Kristiani

Paus Fransiskus  merayakan Hari Bumi dengan kembali mengingatkan kepada jemaatnya soal perilaku manusia terhadap alam dan Virus Corona sebagai dampaknya. Menurut Bapa Paus, pandemi yang terjadi saat ini dan bagaimana efeknya membuat kembali segar adalah perhatian lebih harus diberikan kepada kondisi alam.

“Saya mengapresiasi langkah-langkah aktivitas lingkungan hidup. Penting bagi mereka yang untuk turun ke jalan dan mengajari kita semua bahwa tidak akan ada masa depan apabila kita tidak memperlakukan alam dengan baik”, ujar Paus di Vatikan sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, Rabu, 22 April 2020 (TEMPO.CO, Jakarta)

Max Weber menggambarkan;  pelestarian alam merupakan salah satu misi kenabian. Misi kenabian ini sebagai keharusan manusia agar lebih akrab dan menjaga alam sepenuhnya. Ada pun Lao Tzu seorang filsafat asal China, menegaskan; jadilah satu dengan alam. Penegasan ini supaya mempertegas  kepada manusia lainnya agar selalu merawat alam dengan baik. Bersatu antara manusia dengan alam dapat membuat tubuh bumi ini terbebas dari sekapan di antara keduanya. Melalui Ensiklik Laudatio Si, Paus Fransiskus mendesak kita semua untuk melindungi rumah kita secara bersama-sama dengan menumbuhkan sikap peduli terhadap alam semesta dan memperhatikan mereka yang terpinggirkan.

Paus yang berasal dari Argentina itu, mempertegas pesannya dengan mengutip peribahasa Spanyol. Ia berkata, Tuhan selalu mengampuni manusia, manusia terkadang mengampuni sesamanya, namun alam tidak pernah mengampuni. Dengan kata lain, jika kita memperlakukan alam dengan bururk, maka alam akan membalasnya dengan cara yang buruk pula. Pandemi Virus Corona, sebagaimana dikatakan paus, adalah salah satunya. Paus bahkan berkata bahwa jika dirinya bertanya kepada Tuhan kenapa terjadi banyak sekali bencana tahun ini, Ia yakin Tuhan tidak akan memberikan jawaban yang mengenakkan. Sebab, kata Ia, manusia telah merusak hasil karya Tuhan yaitu alam dan bumi.

Kembali kepada kesadaran kita semua sebagai umat kristiani yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, sebagaimana atas wabah yang sedang dialami saat ini, semua pihak  perlu merefleksi diri atas ulah apa yang telah lakukan terhadap isi dari muka bumi ini terutama kepada alam. Secara sadar atau tidak kita telah membuat segala isi dan keadaan bumi pertiwi ini berkontras dengan ajaran Tuhan. Sebagai manusia yang beragama dan beriman, kita semua keharusan atau keperluan (urgensitas) untuk bertobat atas dosa-dosa kita. Urgesintas bertobat ini menghantar kita kepada jalan yang benar. Tuhan selalu membuka hati apabila kita hendak mengaku dosa.

Situasi Covid-19 mempersuasif kita semua terutama sebagai kaum kristiani, untuk kembali kepada kekuasaan Tuhan. Dalam gereja katolik ada sakramen pengampunan dosa (renkosiliasi). Sakramen ini merupakan suatu momen umat kristiani menyesali segala perbuatan dosanya dan segera untuk mengampun kepada belas kasihan Tuhan. Santo Ambrosius mengatakan;  dosa diampuni melalui Roh Kudus, namun manusia memakai para pelayan Tuhan (Imam) untuk mengampun dosa. Para pelayan Tuhan tersebut tidak menggunakan kekuatan mereka sendiri; bukan atas nama mereka, tetapi atas nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Mereka meminta, dan Tuhan memberikannya. Imam sebagai kepercayaan Tuhan semestinya semua pihak bersyukur dengan eksistensinya di tengah kebutuhan kita. Kita hendak memohon kepada mereka yang sebagai  perantara, untuk mengampun segala dosa yang kita telah perbuat atas isi tubuh bumi pertiwi ini terutama (terhadap alam) agar Tuhan senantiasa mengampuni. Amin.

 

Penulis adalah Calon Biarawan/Imam Misionaris dari Kongregasi Scalabrinian

Komentar

Jangan Lewatkan