oleh

Covid-19, Kritikan Atas Hidup Manusia

-Opini-351 views

Oleh: Leonardus Gandi

Tahun telah berganti, wabah Covid-19 tak kunjung henti. Covid-19 masih menghantui segala aspek kehidupan manusia. Manusia hidup dalam ketakutan. Ketakutan yang membawa kehancuran dan kehancuran yang pada akhirnya menghantar manusia pada pitu kematian. Apakah ini pertanda buruk? Apakah ini pertanda Tuhan marah? Apakah ini pertanda bahwa Tuhan lelah, sehinga Dia tidak memperhatikan kita?

Dalam kitab suci Perjanjian lama, penyakit dipandang sebagai hukuman yang dikirim Tuhan. Sebagai hukuman dari Tuhan penyakit biasanya dipandang sebagai akibat dosa (Ayub 2:5-6). Secara umum dalam kitab suci tertulis bahwa: Allah memberikan penyakit dengan dua tujuan. Pertama, ingin mengajar dan mendidik umat-Nya agar umat-Nya mau berbalik, makin setia kepada-Nya dan tinggal di jalan Yahweh. Kedua, dengan penyakit Allah menghukum mereka yang melawan kehendak-Nya (Im 26:14-20)

Carl Frienrich Freiherr Weizsacker( fisikawan dan filsuf ) asal Jerman memiliki perspektif yang berbeda mengenai penyakit. Weizsacker berpendapat bahwa: penyaki adalah kritikan atas hidup, pola hidup, irama hidup, relasi manusia dengan sesama  dan lingkungan hidup. Manusia hidup di luar normal kesehatan, lunturnya kesadaran dan tangung jawab moral, ketidak teraturan hidup, ketidak bersihan, kecerobohan, kerakusan, dan kenikmatan dalam pengelolahan hidup yang ternyata mendatngkan aneka penyakit

Dalam konteks wabah Covid-19 yang sedang melanda kehidupan umat manusia di seluruh dunia harus disikapi dengn perspektif positif. Covid-19 sebagai figure yang mengolah ulah kehidupan manusia. Ulah adalah tingkah laku, tindakan dan sikap (menyalahi norma, aturan,dan adat) baca KBBI edisi v. Olah karena itu ulah manusi, harus diolah. Mengolah ulah manusia memang sesuatu yang berat, tetapi lebih berat lagi apabila ulah itu dibiarkan atau tidak diolah.

Wabah  covid-19  juga salah satu kritikan, pelajaran sekaligus menjadi agent of change bagi kehidupan manusia. Covid-19 sebagai suatu aksi perotes atas keberadaan manusia (human being). Alasanya, manusia moderen lebih memprioritaskan karir dan prestasi tetapi melalaikan dan mengingkari makn  iman. Manusia modern lebih mengutamakan kenikmatan dan kesenangan yamg bersifat sementara. Manusia modern selalu bersikap skeptisme (ragu-ragu) dan apatisme (acuh tak acuh) terhadap hal-hal rohani( spiritual dimention) dalam eksistensi hidupnya. Secara tersamar, sikap mengingkari dan alih-alih mengurangi hal ini sebenarnya akan memberikan dampak buruk bagi manusia. Manusia modern kebanyakan hanya percaya tetapi tidak beriman.

Bila disimak lebih dalam, muncul pertanyaan tentang apa perbedaan antara iman dan percaya? Ini adalah sebuah pertanyaan fundamental yang harus direfleksikan oleh setiap individu manusia. “Iman” diartikan sebagai kepercayaan  (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah , nabi dan kitab. Sementara itu  “percaya” mempunyai beberapa arti.

Pertama, mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata. Kedua, menganggap atau yakin bahwa sesuatu itu benar benar ada. Ketiga, mengangap atau yakin bahwa seseorang itu jujur. Keempat, yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu (baca: KBBI edisi v). Jadi dapat disimpulkan bahwa iman dan kepercayaan mempunya arti yang hampir sama, tetapi, iman adalah suatu sikap “aktif” (percaya dan diikuti oleh tindakan) sedangkan percaya adalah suatu sikap   ”pasif” (percaya tetapi tidak diikuti dengan tindakan atau hanya sekedar percaya).

Pandangan Hedonisme

Pengaruh pandangan hedonisme masih kuat dalam hidup manusia. Pandangan ini mengangaap bahwa pencariaan kebahagiaan dan kenikmatan seseorang adalah kriteria yang sah untuk penilaian atas tindakan, dan tujuan yang memadai bagi hidup manusia. kebahagiaan dan kenikmatan menjadi tujuan utama dalam hidup. Pandangan ini terkait dengan epicurianisme sejak Epicurus (341-270SM), yang menekankan bahwa kebahagiaan dan kenikmatan dipandang sebagai kebaikan tertinggi.

Gaya hidup hedonisme termasuk salah satu trend manusia modern. Tetapi gaya hidup ini tidak diimbangi dengan paham etis, yaitu konsekuensialisme. Pertimbangan konsekuensialisme sering kali dilupakan dalam praktek hidup sehari-hari. Padahal , setiap tindakan mempunyai konsekuensi yang harus dihadapi oleh setiap individu manusia. Akibatnya, manusia hidup dalam keterpurukan dan penyakit yang kerap kali merengut banyak nyawa manusia. penyakit selalui muncul dalam bayang-bayang kehidupan manusia

Dalam terang kacamata iman, hidup manusia dipahami sebagai anugerah istimewa yang berasal dari Allah pencipta (Kej. 2:7). Sebagai anugerah istimewa sang pencipta, hidup harus dijaga dan dipelihara. Setiap individu manusia wajib memelihara kesehatan dan kesejahteraan (healt and wealth) dalam hidupnya. Hal ini dilakukan dengan cara menjaga kebersihan, kesehatan dan integritas tubuhnya dengan porsi yang sewajarnya. Hidup sehat harus dilakukan dengan takaran yang sewajarnya, sebab hidup sehat yang berlebihan akan menimbulkan dampak buruk, misalnya overweight dan obesitas.

Oleh karena itu, hidup sehat harus dilakukan secara bijak. Dalam artian bahwa kesehatan mencerminkan keadaan seseorang yang melakukan hal terbaik dalam hidup dengan kapasitas yang dimilikinya. manjaga dan memelihara serta mempraktekan pola hidup sehat merupakan ekspresi iman sebagai bentuk tangung jawab atas hidup. Mengurangi dan  mengabaikan hal ini  tentu saja mempengaruhi hidup manusia itu sendiri.

 

 

Penulis adalah Calon Biarawan, Imam dan Misionaris Scalabrinian, tinggal di biara Santu Carolus Boromeus Ruteng

Komentar

Jangan Lewatkan