oleh

Covid Belum Berlalu, Prokes Tetap Berlaku

-Opini-352 views

Oleh: Agustinus Y. Ola Paon

Corona Virus Disease atau Covid-19 belum menunjukan adanya tanda-tanda untuk berakhir di dunia ini. Sejak muncul di Wuhan pada akhir 2019 corona virus terus  menyebar dan terus memunculkan varian baru. Corona Virus terus bermutasi darin waktu ke waktu dan  cepat menyebar ke mana-mana. Salah satu varian terkenal yang cepat menyebar dan ganas itu adalah varian Delta.

.Upaya pemerintah bersama seluruh kekuatan masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran terus dijalankan, mulai dari  Pembatasan Sosial Berskala Besar, beralih  ke  PPKM skala Micro hingga PPKM Darurat untuk wilayah Jawa-Bali dan beberapa tempat di luar Jawa Bali.

Kota Kupang di Nusa Tenggara Timur termasuk salah satu daerah yang memberlakukan PPKM darurat mengingat tingginya penderita Covid 19. Terhadap kondisi ini berbagai upaya memang telah dilakukan untuk menurunkan angka penyebarannya, namun yang lebih penting sesungguhnya adalah taat dan patuh pada protokol kesehatan.

Sulit tapi wajib

Menaati protokol kesehatan yang dianjurkan untuk mengurangi mobilitas, jaga jarak, pakai masker, cuci tangan dan tidak boleh berkumpul merupakan hal yang sulit pada awal penerapan atau pemberlakuan  dan bagi sebagian kalangan  hal ini menjadi beban tersendiri.

Memang tidaklah mudah melakukan sesuatu yang tidak lazim atau tidak biasanya atau bukanlah sebuah kebiasaan, seperti tetaplah dirumah atau tidak kemana-mana. Berada dalam rumah atau sekitar rumah dalam kurun waktu tertentu membuat orang jenuh dan bosan, sehingga untuk mengatasinya orang memilih  keluar rumah menikmati  suasana lain. Jaga jarak atau tidak boleh berkumpul adalah suatu hal yang memang agak berat bagi masyarakat kita yang penuh dengan semangat kekeluargaan, yang menginginkan adanya waktu untuk berkumpul sekedar bercerita dan berbagi rasa.

Memakai masker yang awalnya hanya  untuk mereka yang sakit namun mengingat adanya peningkatan penderita  yang cukup signifikan sehingga WHO memberlakukan  program masker untuk semua merupakan pilihan yang tepat namun masih dijumpai juga adanya ketidaktaatan masyarakat . Menggunakan masker bagi sebagian orang bukanlah hal yang mudah, karena ada yang merasa tidak nyaman dan tidak dapat memakai dalam durasi tertentu karena dianggap   menganggu pernapasan.

Gambaran diatas  menunjukan bahwa memang sesuatu yang belum terbiasa ini terkadang mendapat penolakan,  namun tidak ada alasan untuk tidak melakukan karena inilah prosedur yang wajib hukumnya bagi semua untuk satu tujuan bersama yakni memutus rantai penyebaran virus yang membahayakan ini.

Mengatasi virus berbahaya ini butuh partisipasi dan kepatuhan semua, sehingga ketika mereka yang memilih  tetap berada di rumah dan  sebagian yang lain begitu bebasnya melanggar protokol yang ditetapkan disinilah letak permasalahannya karena sebagian orang  rela mengorbankan kebebasannya, sementara yang lain memanfaatkan kebebasannya yang sudah dibatasi. Pada titik ini maka upaya melawan Covid-19 berawal dari diri sendiri untuk melawan berbagai godaan untuk melanggar protokol covid.

Cara menuju kebiasaan

Upaya pencegahan saat ini terhadap Covid-19 adalah sesuatu yang  penting dan mendesak atau segera. Saat ini kita berpacu dengan kecepatan penyebaran virus sehingga tidak ada kata tunda bagi tindakan pencegahan. Tetap di rumah, jaga jarak, cuci tangan hingga wajib masker untuk semua yang pada awalnya dihadapi dengan kesulitan mendapatkan masker  bahkan jauh sebelum pemberlakuan masker untuk semua. Kondisi ini  tidak menyurutkan semangat sebagian orang untuk mengadakan masker yang memenuhi syarat sehingga saat ini dapat dikatakan bahwa semua orang sudah memiliki masker, sehingga yang perlu adalah menjadikan protokol pencegahan ini sebagai sebuah kebiasaan bukan sebagai beban.

Penerapan protokol pencegahan yang tengah dijalankan sejak Maret 2020 hingga saat ini mestinya  didorong dan digiring menjadi sebuah norma yang bisa diterima semua orang. Berdasarkan tingkatannya, norma di dalam masyarakat dibedakan menjadi empat:

Pertama, Cara (usage). Cara adalah suatu bentuk perbuatan tertentu yang dilakukan individu dalam suatu masyarakat tetapi tidak secara terus-menerus.

Kedua, Kebiasaan (Folkways) Kebiasaan merupakan suatu bentuk perbuatan berulang-ulang dengan bentuk yang sama yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan-tujuan jelas dan dianggap baik dan benar.

Ketiga, Tata kelakuan (Mores). Tata kelakuan adalah sekumpulan perbuatan yang mencerminkan sifat-sifat hidup dari sekelompok manusia yang dilakukan secara sadar guna melaksanakan pengawasan oleh sekelompok masyarakat terhadap anggota-anggotanya. Dalam tata kelakuan terdapat unsur memaksa atau melarang suatu perbuatan. Fungsi mores adalah sebagai alat agar para anggota masyarakat menyesuaikan perbuatan-perbuatannya dengan tata kelakuan tersebut.

Keempat, Adat istiadat (Custom). Adat istiadat adalah kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karana bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya. Adat istiadat adalah kebudayaan abstrak atau sistem nilai. Pelanggaran terhadap adat istiadat akan menerima sanksi yang keras baik langsung maupun tidak langsung.

Dari tingkatan norma ini maka untuk pelaksanaan  protokol kesehatan mayoritas masyarakat bergerak pada tingkat cara (usage) sehingga perlu ada gerakan bersama untuk menjalani protokol pencegahan ini sebagai kebiasaan dan bila perlu menjadi tata kelakuan (mores).

Bersama kita bisa 

Ada persoalan pasti ada jalan keluarnya. Vaksinansi  akhirnya menjadi salah satu cara untuk mengatasi pandemi ini.  Vaksinasi berdampak positif terhadap terbentuknya kekebalan komunitas. Sekalipun demikian, penolakan terhadap vaksinanasi juga cukup kuat dengan berbagai propaganda miring tentang Vaksin. Namun pada akhirnya propaganda miring tersebut dapat dikalahkan dengan kesadaran masyarakat menerima vaksin.

Dinamika kehidupan sosial memang sering dihadapi dengan dua kondisi yakni pro dan kontra. Ketika ada kepatuhan disana pasti ada  juga ketidakpatuhan, begitu juga dengan disiplin dan berbagai upaya lain untuk mencegah penularan Covid-19.

Membangun optimisme dalam diri dan lingkungan bahwa badai ini pasti berlalu juga penting, namun kita juga perlu realistis bahwa sampai saat ini Covid-19 masih ada di tengah kita, sehingga badai itu belum berlalu, namun satu hal yang penting adalah kita tak boleh lengah ditengah badai dengan  selalu taat protokol kesehatan.

Komentar

Jangan Lewatkan