oleh

Covid, Logika dan Logistik

-Opini-345 views

Oleh: Isidorus Lilijawa

Dalam grup alumni angkatan 1998 SMA Seminari Mataloko. Kami berdiskusi soal Covid dan dampaknya tidak saja bagi kesehatan, tetapi ekonomi dan sosial. Diskusi yang berlangsung pada suatu malam itu, saya pikir topik itu berakhir semalam. Ternyata pada pagi besoknya  berlanjut dan lebih seru. Saya menarik beberapa benang merah, yg mungkin ada gunanya buat yg membaca ulasan singkat ini.

* * *

Dalam diskusi bersama teman-teman itu, persoalan Covid dibedah dalam perspektif LOGIKA dan LOGISTIK. Seorang teman yang tinggal di Bali menekankan pentingnya logika dalam menghadapi Covid. Logika kita terhadap Covid harus benar dan jelas. Logika inilah yang bakal menentukan apakah kita bisa bertahan terhadapnya atau malah terlempar karenanya. Memang pandangan tentang Covid ini beragam. Bukan cuma dalam logika awam tetapi bahkan dalam persepsi para ahli yang lebih paham soal Covid.

Teman di Bali menekankan pikiran sebagai kunci menghadapi Covid. Jika pikiran kita positif, itu akan memproduksi energi positif dan bakal menjauhkan kita dari positif Covid. Yang berpikiran positif tentang Covid itu begini: bahwa Covid itu ada. Bukan dibuat-buat. Covid itu bisa dilawan dengan menerapkan dan menjalani prokes yang ketat. Covid itu bisa bikin orang mati. Covid itu menular.

Maka supaya kita tidak tertular Covid, tidak sakit dan tidak mati karena Covid, ya harus taati prokes Covid, cukup istirahat, asup makanan bergizi dan berolahraga. Logika yang baik akan menyelamatkan kita dari Covid. Namun, logika yang tidak matang, sepotong-sepotong bahkan premature akan mencelakakan kita dan banyak orang. Dengan demikian jelas, supaya bertahan hidup kita harus pakai logika kehidupan bukan logika kematian.

Pikiran negatif akan melahirkan energi negatif. Orang yang punya pikiran negatif tentang Covid, logikanya negatif. Contoh logika negatif: Covid itu tidak ada. Covid itu proyek global. Covid takut sopi (tuak). Tak perlu vaksin karena bisa mati cepat. Covid adalah kutukan. Prokes bikin hidup tersiksa. Kekuatan pikiran negatif ini yang membuat orang menjadi bebal dan tidak cerdas. Akhirnya, kehidupan dikorbankan.

Setelah logika, diskusi kami beranjak ke logistik. Teman yang sekarang tinggal di Mbay-Nagekeo merasa prihatin dengan kehidupan ekonomi masyarakat. Apalagi ada pembatasan-pembatasan saat ini. Rakyat semakin susah. Belum lagi katanya ada dana Covid tetapi belum menyentuh hingga ke akar rumput.

Teman yang tinggal di Jakarta menimpali dengan frekuensi yang sama. Mungkin di kampung lebih baik. Kalau tidak ada uang tetapi ada kebun. Kalau di Jakarta, Covid benar-benar meluluhkan sendi-sendi ekonomi rakyat. Hidup mulai berharap pada uang tabungan yang kian menipis. Belum lagi uang sekolah anak tetap dibayar tanpa diskon walau belajar secara online. Maka di Jakarta ketika tidak ada kebun lalu tabungan menipis, itu persoalan berat.

* * *

Teman-teman saya bicara soal uang, soal kebun, itu bicara soal logistik. Covid memang membuat kita harus berpikir tentang logistik dan mesti ‘putar otak’ agar stok logistik selalu ada. Logistik ini juga soal bagaimana agar asap dapur terus mengepul. Saya membaca status di FB, seorang sahabat menulis: ‘untuk yang punya gaji bulanan, dampak Covid tidak terlalu terasa. Tetapi untuk pekerja swasta, hari-hari ini adalah masa yang berat’.

Ini benar. Covid tidak hanya soal kesehatan tetapi juga ekonomi. Ada pilihan: mati di luar rumah karena Covid atau mati di rumah karena lapar. Itulah mengapa upaya menghadapi Covid dilakukan seiring sejalan antara kesehatan dan ekonomi.

Saya merespon teman yang bicarakan soal rapuhnya ekonomi kampung saat ini akibat Covid. Betul. Jika ukuran ada atau tiada, bisa atau tidak, berdaya atau tak berdaya adalah uang, maka soalnya terasa. Persoalan orang-orang di kampung adalah uang tidak banyak beredar di sana. Supaya mereka bertahan hidup tak perlu kita gurui. Sejak nenek moyang sampai hari ini, dengan apa yang ada dan dengan apa adanya mereka bisa bertahan hidup.

Problemnya hidup tidak bisa hanya dengan sistem bertahan tetapi mesti mengembangkannya agar hasilkan buah. Karena itu ada banyak yang harus diurus misalnya urusan pendidikan anak-anak, kesehatan, urusan pertanian, peternakan, dll. Kalau saja sistem barter masih berlaku, tak ada banyak kekurangan di kampung. Namun ketika uang jadi ukuran, banyak soal yang timbul.

Di kampung orang punya sawah, punya kebun, punya hasil pertanian, punya ternak. Cuma mereka tidak bisa naik bus dan dibayar dengan kelapa. Uang sekolah anak-anaknya tak bisa dibarter dengan beras atau kambing. Ketika sakit, ke puskesmas tak mungkin mereka membawa garam atau kopra.

Dalam situasi seperti sekarang ini, harga-harga atas pengorbanan seorang petani atau peternak terlalu murah. Ternak harganya jatuh. Mau bertahan, butuh uang. Terpaksa dijual tapi hasilnya tak seberapa karena kebutuhan banyak. Di kampung orang kesulitan pasar dan didera permainan harga. Covid punya pengaruh sampai di situ.

Di masa-masa sulit macam ini, membangun lagi solidaritas logistik itu penting. Tujuannya agar kita bisa bertahan hidup bersama-sama. Banyak orang memang tidak sakit karena terpapar Covid. Tetapi mereka sakit karena beban ekonomi bertambah. Ketika hal itu terjadi, lalu pikiran positif tidak bangun memberikan energi positif, maka orang akan sakit benaran. Penyakit-penyakit lama kambuh lagi. Imun menurun. Saat Covid mampir, tak bisa dipertahankan kehidupannya.

Covid, logika dan logistik. Ini tentang kita saat ini. Ada yang tidak cemas karena logistiknya selalu ada. Gudangnya penuh terus. Ada yang gelisah karena stok logistik mulai menipis. Untuk makan saja sudah berat memikirkannya. Apalagi urusan lain.

Covid tidak pilih kasih, tak pilih buluh. Hanya butuh logika yang benar dan pikiran yang positif agar kekurangan logistik atau kelebihan logistik tidak menjadi petaka karena kita meremehkan prokes. Keep fighting. Vita est militia (hidup adalah perjuangan). Jaga pikiran. Jaga hati. Positive thinking. (*)

Komentar

Jangan Lewatkan