oleh

Degradasi Nilai Integritas dan Kepemimpinan Dalam Injil Sinoptik

-Opini-53 Dilihat

Oleh: Karolus Lwangga Sai Yunior

Manusia dalam segala keberadaannya di dalam hidup tentu menjadi satu subjek dan objek yang paling istimewa dan memiliki peran penting dalam setiap aspek kehidupan. Hal ini tentunya bukan lagi menjadi asing bahwa, dalam peroses pencarian jati diri tentu banyak hal baik yang dialami ataupun juga sebaliknya hal yang buruk. Namun bagi sebagian orang dalam usaha-usaha tertentu untuk mengahadapi situasi hidup yang semakin berkembang, baik dalam aspek sosial interaksi, komunikasi dan berbagai hal lainnya orang-orang mulai bersaing dan mencari kebenaran dengan caranya serta mengandalkan kecerdasan intelektualitasnya masing-masing.

Secara konkrit bahwa manusia yang hidup pada masa ini tidak lagi menerapkan serta meneladani nilai-nilai lama yang telah ada secara khusus tentang bagaimana seharusnya menjadi seseorang pemimpin yang memliki karakter serta meningkatkan nilai-nilai hidup yang sudah ada. Dalam hal ini bahwa manusia yang hidup pada masa ini tentu memiliki cara pandang dan keterpengaruhan oleh banyak aspek kehidupan. Kesadaran setiap individu pada saat ini tentu mengalami degradasi yang berkepanjangan baik berpola dalam individu ataupun dalam suatu kelompok manusia.

Kepemimpinan merupakan sebuah proses mempengaruhi atau memberi teladan bagi  setiap pengikutnya dalam mencapai satu tujuan. Dimana proses dalam menjalankan kepemimpinan itu harus berdasar pada stukruktural yang terencana serta berjalan dinamis dengan perkembangan waktu dalam situasi hidup manusia. Dengan begitu bahwa hidup manusia tentu perlu melihat kembali nilai-nilai yang sudah ada dan kemudian menjadikannya sebagai dasar untuk meningkatkan nilai itu agar lebih terarah dan tetap berjalan secara baik.

Nilai Integritas Manusia

Nilai pada dasarnya dapat diartikan sebagai satu penghargaan,penyempurnaan. Artinya bahwa sebuah pengahargaan yang melekat pada satu titik atau objek. Objek yang dimaksudkan bisa seperti, benda, keadaan, tindakan atau perbuatan. Nilai merupakan suatu yang abstrak tidak konkret. Sehingga nilai-nilai itu hanya bisa dipahami, dan dihayati. Dalam hal ini bahwa nilai menjadi hal dasariah yang amat penting karena dengan mengetahui dan menghayati nilai itu sendiri, setiap individu mampu mempertimbangkan suatu perbuatan yang direncanakan dengan baik serta mengambil keputusan yang tepat.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Integritas artinya mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. secara umum dimengerti sebagai keutuhan atau kelengkapan. Pemahaman tentang integritas ini, merujuk pada satu prinsip dasar yang menekankan harmonisasi dan keselarasan antara apa yang dipikirkan dan dirasakan serta tindakan sesuai dengan kebenaran. Pemahaman ini juga memberikan penekanan bahwa sekalipun manusia melakukan apa yang dipikirkan dan dirasakan namun jika itu tidak sesuai kebenaran atau tindakan kejahatan maka itu bukanlah integritas.

Bertolak pada prinsip utama integritas, tentunya menjadi satu persoalan yang tidak mudah ketika harus kembali berdasar pada apa yang disebut dengan integritas serta tindakan integritas itu sendiri. Setiap personal perlu membangun dan mempertahankan sebuah sikap diri dalam proses pencapaian satu nilai kebersamaan pada konteks tertentu. Puncak dari hidup dalam nilai integritas itu sendiri tidak hanya bermanfaat tetapi juga membuat hati orang tenang dan bahagia. Hal-hal dasariah inilah yang akan membawa orang-orang atau organisasi dalam masyarakat dalam menghasilkan karya yang bermutu baik dengan adanya kesadaran dan kerja sama.

Pemimpin Dalam Injil Snoptik

Pandangan tentang ciri khas seorang pemimpin pada dasarnya terbentuk dari setiap individu dalam proses pembelajaran serta pengalaman-pengalaman yang dialami. Hal ini juga tidak sepenuhnya bahwa akan menjamin satu pemimpin yang berciri baik atau sempurna, namun lebih dari itu untuk menciptakan suatu kinerja dalam menjadi pemimpin serta perlu adanya usaha-usaha yang bertolak dari nilai-nilai hidup yang sudah ada. Nilai-nilai hidup yang sudah ada tentu menjadi dasar agar setiap orang yang nantinya akan bergelut dalam tugasnya sebagai pemimpin dan berusaha untuk meningkatkan nilai-nilai yang telah pudar.

Oleh karena itu, dalam pandangan Injil Sinoptik sebenarnya memperlihatkan jelas tentang bagaimana menjadi pemimpin yang memiliki kinerja pada setiap fungsi dan nilai yang ada. Pemimpin dalam injil sinoptik dalam hal ini berdasar pada Yesus yang pada masanya telah menampilkan sikap pemimpin yang jujur dalam kata dan perbuatan. Lebih jauh lagi bahwa seorang pemimpin perlu adanya rasa tanggungjawab terhadap keputusan serta perbuatan dalam menjalankan tugasnya.

Jika kita mengetahui dan memahami isi dari Injil Sinoptik tentu juga akan memahami bahwa peran Yesus sebagai seorang pemimpin tentu jauh luar biasa. Mengapa demikian? Yesus sebagai teladan dalam masa kepemimpinan telah menunjukan diri-Nya sebagai satu ciri khas pemimpin yang sangat menjunjung nilai-nilai kehidupan. Hal ini bukan semata-mata mengandalkan dirinya, tetapi segala komitmen yang ditanamkan untuk menciptakan nilai hidup yang utuh yaitu karena kuasa Allah.

Segala yang dikatakan dan diperbuat tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi Allah. Keteladanan Yesus sebagai pemimpin tentu menjadi panutan yang tepat bagi hidup manusia  pada masa kini. Manusia dalam hidup kepemimpinan masa kini dengan caranya berusaha untuk mencapai segala yang mereka inginkan dengan cara yang tidak tepat.

Banyak orang menjalankan tugas secara tidak jujur dan tidak bertanggungjawab secara baik sehingga dapat menimbulkan persoalan baru. Oleh karena itu hal yang ditekankan dalam menjalankan satu tugas kepemimpinan yang baik adalah selalu menjaga dan mengutamakan nilai keutuhan dalam hidup. Demikian juga hal ini perlu adanya dorongan dari dalam diri yang selalu ingin mengalami kemajuan dalam setiap aspek kehidupannya.

Oleh karena itu, aspek utama dalam membangun suatu kepemimpinan yang baik adalah berlandaskan kepemimpinan Yesus serta perlu meningkatkan nilai kesatuan dalam sebuah relasi. Relasi yang baik dalam kehidupan sangat membantu dalam menjalankan setiap tanggungjawab yang ada. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berintegritas, sikap tulus dan konsisten, memiliki keteguhan hati dan karakter, dan merupakan seseorang yang mampu bertahan sampai akhir.

 

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Komentar