oleh

Epilog untuk Mama Guru Delfina

-Opini-345 views

Oleh: Isidorus Lilijawa

Dulu kita percaya di ujung rotan ada emas. Itu berlaku bagi anak-anak sekolah. Sekarang kita menyaksikan di ujung pisau ada kematian. Itu dialami mama guru Delfina Azi, Kepala Sekolah SDI Ndora Desa Ulupulu Kecamatan Nangaroro Kabupaten Nagekeo. Mama Delfina mengalami kekerasan fisik, ditikam dengan sebilah pisau oleh orang tua murid berinisial DD pada Selasa, 8 Juni 2021 di sekolah. Setelah melalui serangkaian perjuangan paramedis untuk menyelamatkan nyawanya, pada Rabu, 9 Juni 2021, mama guru Delfina pergi menghadap Sang Guru Abadi. Mama Delfina purna tugas di dunia. Saya percaya oleh karena cinta, dedikasi, pelayanan, totalitasnya sebagai mama guru bagi begitu banyak generasi, mama Delfina pensiun dengan bahagia bersama para kudus di kerajaan surga.

Jika merunut peristiwa ini secara kronologis dalam hukum kausalitas (sebab akibat), kita sangat menyayangkan solusinya begitu singkat, nyawa mesti dipertaruhkan. Selasa, 8 Juni 2021 itu adalah hari pengharapan ketika anak-anak menguji jerih lelah mereka dalam ujian di sekolah. Mungkin saja sudah menjadi ‘kesepakatan bersama’ bahwa sebelum ujian para siswa harus melunasi uang komite sekolah. Pada saat itu, seorang murid mesti ‘dipulangkan’ karena masih berutang Rp 1.700.000. Murid ini dipulangkan dengan misi untuk menyampaikan kepada orang tua agar melunasi uang komite supaya bisa ujian. Cara penyampaiannya seperti apa, kita tidak tahu persis. Tetapi yang jelas, selepas itu sang orang tua DD ke sekolah, memarahi para guru dan menikam sang kepala sekolah.

Tidak Biasa

Respons orang tua yang memarahi dan menikam guru adalah tindakan yg tidak biasa terjadi di daerah kita, Flores di NTT. Guru adalah figur yang dihormati dan dihargai di kampung, menjadi referensi banyak urusan bahkan yang tak terkait pendidikan. Guru masih menjadi profesi yang diminati dan dihormati. Maka respons DD yang ke sekolah dan menikam mama guru Delfina patut ditelisik lebih jauh.

Menunggak uang komite sebanyak itu adalah indikasi bahwa DD sebagai orang tua siswa sedang mengalami kesulitan ekonomi. Satu dua tahun terakhir ketika pandemi Covid-19 melanda, ekonomi nasional hingga lokal mengalami kelesuan. Mungkin itu pula yang dialami DD. Di tengah kegalauan dan kecemasan itu, menghadapi kondisi anak yang dipulangkan dari sekolah adalah suatu kenyataan yang memprihatinkan. Hati orang tua mana yang tak teriris ketika anaknya menyampaikan mungkin disertai tangisan bahwa ia tak bisa mengikuti ujian karena belum melunasi uang komite. Dalam situasi galau, cemas bercampur geram, marah dan kecewa, jalan pintas dipilih. Otak tak lagi berpikir jernih, hati tak dapat mengendalikan rasa, membunuh adalah cara menghapus kegeraman dan menggugurkan kebuntuan.

Lantas, bagaimanakah posisi DD sang penikam? Ia bersalah dan harus dihukum karena menghilangkan nyawa orang. Ini tindakan biadab. Kita mengutuk kekerasan fisik itu. Maka DD harus dihukum setimpal perbuatannya. Tetapi ini juga melahirkan pembelajaran bagi orang tua agar bertanggung jawab terhadap anak-anaknya di sekolah. Salah satunya dengan melunasi kewajiban yang sudah ‘disepakati’ bersama komite sekolah. Selain itu, pola komunikasi orang tua dan sekolah mestinya ‘mencair’. Jika ada kesulitan perlu keterbukaan untuk menyampaikannya ke pihak sekolah. Sekolah bukan penjara. Para guru bukan sipirnya yang kaku seperti tembok. Mereka punya hati, punya rasa. Datang dan sampaikan baik-baik, mungkin bisa dicarikan solusi bersama atau bisa dibicarakan kebijakan lain yang disepakati bersama. Ini adalah cara kita. Jalan kita. Pola kita.

Posisi Mama Guru

Di sekolah-sekolah yang merekrut guru honor, uang komite sangat penting untuk membayar honorariumnya. Uang itu dipungut dari para orang tua yang anaknya bersekolah di situ. Besaran uang komite adalah hasil kesepakatan bersama para orang tua bersama pengurus komite. Kesepakatan bisa mufakat ketika semua pihak merasa yakin dapat memenuhi kewajiban itu. Tentu termasuk si DD.

Dalam posisi sebagai kepala sekolah, mama guru Delfina tentu menjadi pucuk pimpinan di sekolah itu. Ia paling tahu ‘isi perut’ sekolahnya. Di satu sisi ia wajib mengamankan keputusan komite sekolah, di sisi lain ia tidak tega membiarkan para guru yang mungkin saja menjadi honorer di sekolah itu merana karena honor bulanan sering terlambat. Di lain sisi, tak mungkin ia mesti mengorbankan anak muridnya. Dalam urusan uang komite, siswa tidak perlu tahu. Itu urusan orang tua. Saya yakin, pihak sekolah sudah menempuh ‘cara-cara baik’ untuk menyampaikan kepada orang tua agar membayar kewajibannya. Saya menduga ‘memulangkan’ anak saat ujian adalah cara terakhir yang ditempuh sekolah agar orang tua/wali ‘sadar kewajibannya’.

Pada titik ini, posisi dan kebijakan mama guru Delfina sudah tepat. Ia bersolider dengan semua pihak tetapi tetap menjaga komitmen. Bahkan ketika diancam secara verbal oleh DD untuk melaporkan ke polisi, mama guru mengatakan ‘silahkan lapor.’ Artinya, dalam posisi sebagai kepala sekolah dan disposisi batin sebagai mama yang guru, mama Delfina sudah bijak di tempatnya. Sayang memang kebaikan ini direspon secara brutal oleh DD. Apakah ia merasa dilecehkan? Apakah ia merasa terhina? Apakah ia tak tega melihat anaknya dipulangkan? Yang pasti, anda harus memenuhi ‘kewajiban’ supaya bisa menuntut ‘hak’. Jangan merasa dilecehkan jika kewajiban tidak dipenuhi apalagi kewajiban itu adalah kesepakatan dan mufakat bersama.

Pembelajaran Kita

Guru itu manusia biasa. Perasaannya bisa tersakiti. Kulitnya dapat terluka. Ia bisa salah dan keliru. Tetapi ia patut dihargai dan dihormati. Karena guru bukan superman maka ia butuh juga dilindungi. Dalam konteks kasus ini, sudah saatnya sekolah-sekolah memikirkan aspek security dan safety di sekolah. Minimal di sekolah ada pagar dan kakau bisa ada satpamnya. Saat sekarang semakin banyak ‘orang aneh’ yang bisa kapan saja ke sekolah dan merusak suasana pembelajaran atau mencelakai para guru dan siswa.

Kasus ini juga menggugat sejauh mana peran pemerintah daerah setempat. Menghidupkan sekolah hanya dengan mengharapkan uang komite memang berat rasanya. Di sinilah kadang-kadang kepala sekolah mesti ‘putar otak’ supaya kebutuhan-kebutuhan yang bersumber dari uang komite bisa terpenuhi. Nah, Pemda tidak boleh diam. Mestinya ada intervensi, ada sentuhan, ada perhatian. Sedikit pun tidak apa. Karena guru-guru itu mencerdaskan generasi daerah.

Kita bersepakat urusan uang sekolah adalah urusan orang tua, bukan anaknya. Karena itu pihak sekolah mesti tetap memperlakukan siswa sebagai anak yang berhak mendapatkan pembelajaran dan ujian. Adalah lebih baik jika dalam urusan tunggakan keuangan di sekolah, orang tua yang diminta ke sekolah bukan anak yang dipulangkan ke rumah atau dilarang mengikuti pembelajaran atau ujian. Melarang anak untuk tidak boleh sekolah atau ikut ujian bisa merupakan pembunuhan karakter untuk anak-anak, yang mana mereka tidak tahu-menahu soal urusan uang sekolah dan lain-lain.

Sekolah di mana menjadi locus peristiwa ini adalah sekolah bentukan pemerintah yang berstatus SDI (Sekolah Dasar Inpres). Dalam urusan uang komite sebenarnya sekolah-sekolah negeri ‘tidak terbiasa’ menarik pungutan. Tetapi jika ada kesepakatan antara orang tua dan guru, maka itu bisa diberlakukan. Tetapi memang perlu dipertimbangkan besarannya. Dalam situasi pandemi saat ini, hidup semakin susah. Bertani susah, berdagang susah, beternak susah, berguru pun susah. Covid membuat hidup itu ‘vivere pericolosomento’ (serempet-serempet bahaya). Karena itulah perlu kebijaksanaan untuk mengelola ini. Selain itu, urusan komite dan uang komite adalah ranahnya pengurus komite. Biarkan mereka mengelola dengan tetap berada dalam pengawasan guru atau kepala sekolah. Ekosistem sekolah yang humanis, responsif dan ber-hati memang harus terus diupayakan dan dihidupkan agar komite mendukung sekolah bukan meracuni sekolah.

Ada banyak persoalan di sekolah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik antara pihak sekolah, komite, orang tua/wali dan pemerintah setempat. Mudah-mudahan kita bisa belajar dari peristiwa ini. Mama guru Delfina telah pergi. Namun budi baik dan jasa tulusnya pasti tetap terkenang. Guru itu pahlawan yang walau punya banyak jasa tetap didengungkan tanpa tanda jasa. Semoga segala jasa pengabdianmu mama guru menjadikanmu pemenang atas banyak bintang jasa di kehidupan yang kekal.

Saya tidak mengenal mama guru Delfina. Tetapi saya adalah anak seorang bapak guru yang pensiun sebagai kepala sekolah. Saya bisa paham seperti apa menjadi guru dan kepala sekolah di kampung halaman. Guru dihargai dan diabaikan. Dihormati dan digombali. Mendapat tempat di depan namun sering ditusuk dari belakang. Saya mengenal mama guru Delfina karena ia seorang guru, seseorang yang menjadi tempat dan alasan untuk digugu dan ditiru.

Selamat jalan mama guru Delfina. Setahun lagi mama purna tugas. Namun, Tuhan membutuhkanmu lebih cepat di sana agar bisa mempersiapkan dan merayakan masa pensiunmu secara lebih meriah dalam pujian para kherubim dan serafim. Ini epilog saya. Catatan akhir tetapi bukan terakhir. Karena dari sana pun mama guru senantiasa mengajar dan mencatat, membimbing dan mengarahkan generasi demi generasi. Banyak catatan yang dibuat untukmu mama guru oleh banyak orang. Mereka mencintaimu karena mama telah terlebih dahulu mencintai mereka. Di Ende, the life is end but it’s not for ending life. It’s just for a big longing.

 

Penulis adalah Pemerhati Sosial  tinggal di Liliba Kota Kupang

Komentar