oleh

Jalan Sempit WAG Menulis

-Opini-325 views

Oleh: Y. Joni Liwu, S.Pd

Gerimis hingga malam sejak senja sore enggan berhenti. Aku pun enggan mengatakan ini kepada teman di WAG ini, apalagi harus berpamitan. Saya sangat mengalami jalinan pertemanan selama ini, yang menurutku seperti sahabat rasa saudara. Begitu ikhlasnya bu Sulistiani, dkk membagi ilmu sedang mereka harus berbagi waktu untuk urusan-urusan yang lebih penting.

Sahabat-sahabaku, kita telah merajut persahabatan ini sejauh ini. Dengan rendah hati, saya menyampaikan terima kasih kepada ibunda Sulistiani yang telah berkenan memberi kesempatan kepada saya untuk belajar bersama di WAG ini. Terima kasih juga kepada teman-teman sekalian para guru penulis yang telah berbagi ilmu.

Akhirnya, saya mohon undur diri dari WAG  ini sembari memohon berkat Tuhan atas setiap karya dan usaha teman-teman.

Di samping sutradara ada aktor,

Dalam taman mereka bersua.

Kutitipkan salam dari Kupang Timor,

Salam literasi untukmu semua.

Untaian kalimat  yang diakhiri pantun di atas adalah ungkapan hati seseorang dalam WhatshApp group menulis. Rupanya seseorang yang menulis itu hendak berpamitan setelah bergabung bersama dalam grup tersebut. Bahwa apa penyebab pengunduran diri itu menjadi persoalan tersendiri. Tetapi bahwa seseorang itu telah tergabung dalam sebuah group belajar menulis bersama yang menarik.

Di media sosial WhatshApp akhir-akhir ini muncul banyak pegiat literasi yang menyemarakan gerakan literasi dengan caranya masing-masing. Salah satu di antaranya yakni dengan memrakarsai kegiatan menulis bersama. Wujudnya pun berjenis-jenis. Menulis fiksi atau nonfikisi. Melalui pelatihan menulis yang tersaji secara daring, semua karya itu kemudian dibukukan. Al hasil buku antologi pun dihasilkan bersama. Banyak pula penulis yang rata-rata guru yang membukukan karya-karyanya. Bukan tidak mungkin  karya-karya mereka itu menghasilkan koin juga poin.

Kesempatan belajar bersama seperti di atas sangat mungkin terealisasi karena waktu yang cukup bagi guru di masa pandemi Covid-19. Melalui berbagai media sosial, mereka memperoleh ilmu secara cuma- cuma. Selanjutnya berbekal latihan secara bertahap, kemampuan menulis diasah. Mulai dari ilmu menulis hingga belajar tentang kaidah bahasa Indonesia semisal Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Beberapa guru yang semula “sangat tidak bisa menulis” pada akhirnya bisa menulis. Para penulis buku yang semula belum sepenuhnya memahami kaidah penulisan menurut PUEBI akahir banyak memahami kaidah bahasa Indonesia. Secara tidak langsung peserta pealtihan belajar mandiri tetang bahasa Indonesia. Sesuatu yang selama ini terabaikan.

Hasil belajar menulis bersama berwujud buku antologi. Peserta yang rata-rata guru itu tentu dengan bangga memiliki buku antologi ber-ISBN. Sesuatu yang tidak terbayangkan ssebelumnya. Betapa tidak, beberapa di antaranya bahkan mengatakan bahwa hal tersebut sungguh merupakan sebuah kebanggaan karena sebelumnya memiliki buku ber- ISBN hanya sebuah harapan bahkan mimpi. Menjadi sebuah lompatan, karena memang sebelumnya sangat sulit untuk mulai menulis. Namun dengan buku antologi, itu sebuah bukti bahwa siapapun dapat menulis.

Kasak-Kusuk tentang Menulis

“Menuliskan sebuah paragraf saja sangat sulit,” tulis beberapa orang guru dalam sebuah WAG menulis.

Sesuatu yang membebani mereka yakni bahwa ilmu paragraf dengan ide pokok, ide pendukung, kalimat utama, juga kalimat penjelas, sangat menjadi beban tersendiri ketika hendak menulis sebuah paragraf. Syukurlah para pemateri dalam kegiatan menulis bersama sangat sabar menuntun hingga akhirnya bisa menulis. Semisal mengarahkan peserta agar menulis saja sesuatu yang dialami, terpikirkan, dirasakan, atau sangat menyentuh perasaannya. Bahwa tulisan itu kemudian berbentuk paragraf atau kalimat-kalimat pendek itu urusan setelah itu. Tetapi bahwa menuliskan saja sesuatu yang sedang dipikirkan atau membekas di pikiran itu tentu menjadi sebuah langkah awal menggerakan seseorang agar mulai menulis.

Hingga di titik ini mungkinkah para guru telah mengambil bagian dalam gerakan literasi nasonal? Sebagaimana kita ketahui bahwa Gerakan Literasi Nasional (GLN) menjadi salah satu program prioritas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Gerakan ini  diharapkan dapat memacu peningkatan literasi masyarakat. Program ini mewujud dalam Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan Literasi Bangsa, serta berbagai program lainnya untuk mendorong aktifnya gerakan literasi baik di sekolah maupun di masyarakat

Setidaknya para pemrakarsa kegiatan menulis di WAG merealisasikan literasi digital. Gerakan literasi digital yang dilakukan pada masa pandemi Covid-19 adalah gerakan literasi digital keluarga dan gerakan literasi digital masyarakat. Gerakan literasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan positif dalam menggunakan media digital dalam kehidupan sehari-hari. Literasi digital dimaksukan pula merupakan kecakapan (life skills) yang tidak hanya melibatkan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi, tetapi juga kemampuan bersosialisasi, kemampuan dalam pembelajaran, dan memiliki sikap, berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetensi digital.

Jika mencermati hal tersebut, maka sebenarnnya siapan pun dapat berpartisipasi tanpa harus digerakan. Guru-guru dapat memanfaatkan kesempatan-kesempatan emas yang tersaji di beberapa group menulis di media sosial untuk mengasah kemampuan menulis. Setidaknya bisa belajar bersama tanpa harus bersusah payah mencari guru menulis, bahkan dengan ongkos yang cukup. Di dalam WAG misalnya, setiap peserta dapat saling berbagi ilmu secara cuma- cuma.

Belajar menulis bersama melalui WAG ataupun media sosial lain adalah salah satu dari sekian banyak cara agar seseorang bisa menulis. Bukankah karya seseorang akan abadi dengan menulis? Sebuah pengalaman menarik bahwa hampir sebagian besar budaya-budaya daerah yang kaya nilai tergerus hanya karena diwariskan secara lisan. Sastra daerah dengan berbagai bentuk terlupakan dari generasi yang satu ke generasi yang lain.kalau pun masih diingat atau masih ada itu karena warisan budaya itu telah dubukukan melalui sebuah penelitian.

Ketahuilah dengan menulis seseorang dapat pula mengaktifkan otak untuk berpikir. Dengan demikian, ia tentu saja dapat meningkatkan kreativitas. Waktu yang tersaji di masa pembelajaran daring dapat pula menjadi peluang untuk meningkatkan kreativitas tersebut. Selain sebagai wadah menuangkan emosi dan perasaan, sebenarnya dengan menulis kehidupan seseorang menjadi lebih terorganisir. Sesuatu yang secara tidak sadar telah dilakukan seorang penulis dalam mengorganisir tulisannya.

Apapun yang dilakukan para guru menulis atau pemateri dalam sebuah WAG menulis akan menjadi isapan jempol belaka jika peserta pelatihan tidak memiliki kemauan. Guru atau peserta penulis setidaknya memiliki kemauan, ketekunan, dan konsisten. Jika disederhanakan, demikian seorang pemateri dalam sebuah WAG, dalam menulis bukan soal siapa yang ahli tetapi siapa yang mau.

Akhirnya jangan takut untuk gagal, karena jika tidak mulai melangkah, kegagalan itu tetap berada di tempat yang sama di tahun yang akan datang.

 

Penulis adalah Guru di SMP Negeri 13 Kota Kupang

Komentar

Jangan Lewatkan