oleh

Jesus, Jokowi, Jemaat di Minggu Sengsara

-Opini-1.417 views

Oleh: Paul Bolla

Kunjungan Presiden Joko Widodo atau Jokowi ke Nusa Tenggara Timur, di Sumba Tengah dan Sikka, bukan kebetulan jatuh pada saat umat Kristiani sedang menghayati minggu-minggu sengsara Yesus Kristus.

Cuaca yang kurang bersahabat, hujan sangat lebat, angin bertiup kencang, yang sedang melanda NTT adalah alasan yang masuk akal jika Jokowi sepantasnya menunda kunjungannya. Demi keselamatan presiden dan para pejabat lainnya, masyarakat NTT bisa memaklumi bila terjadi penundaan sampai situasi menurut BMKG benar-benar aman.

Tetapi faktanya, Presiden Jokowi mengambil resiko. Rombongannya tetap menerobos cuaca buruk. Segenap protokoler pengamanan dia abaikan. Maka seperti yang kita saksikan foto dan video yang beredar, dengan baju putih lengan panjang, bersepatu, memegang payung sendiri menerobos derasnya hujan menuju pematang sawah yang untuk kepentingan pengamanan sudah dibuat titian menuju ke tengah sawah.

Mengapa Jokowi nekad? Karena di tengah sawah, sudah menunggu rakyatnya, tanpa payung, berdiri kuyup di tengah derasnya hujan, dan kakinya berkubang lumpur. Maka Jokowi ambil kesempatan itu. Bertemu dengan rakyatnya. Mewahnya pertemuan itu, karena terjadi pada waktu dan tempat yang sangat istimewa dan tak terlupakan. Bersejarah, Presiden berada di tengah sawah di Sumba Tengah, di tengah hujan lebat.Rakyat pun rela berkorban. Hujan dan lumpur adalah kesempatan terdekat, terbaik, yang datang sekali seumur hidup, bisa berada dalam posisi paling dekat, tanpa diusik paspampres, berada sangat dekat dengan orang nomor satu di negeri ini. Lumpur dan hujan hanyalah ornamen alam, yang membuat rakyat sangat bangga bertemu dengan presidennya yang dikagumi banyak orang.

Saya pun membayangkan bagaimana seorang petani Makata Keri, Sumba Tengah akan bercerita dengan mata berbinar-binar kepada anak cucu dan orang lain bagaimana bisa bertemu presidennya. Syukur jika ada yang akan memberikan foto pertemuan itu. Betapa bangganya petani Makata Keri.Saya pernah bertugas satu tahun lebih di Sumba Barat, saat itu masih masuk Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya. Nikmat sekali mendengar cara orang Sumba membanggakan dirinya.

Silakan membaca imajinasi saya dengan gaya dan aksen khas Sumba. “Supaya kau tahu… tidak sembarang orang bisa ketemu sama presiden. Supaya kau tahu juga… sa bisa ketemu, bukan karna sa pergi ke rumahnya istana di jakarta. Bukan sombong… tapi presiden yang datang ketemu saya. Supaya kau tahu lagi…. kami tidak ketemu di saya punya rumah tinggal. Tapi kami ketemu di saya punya rumah yang asli, di tengah sawah… Kita ketemu di tempat yang ada air dan tanah, tempat kami ubah tanah jadi lumpur untuk tanam padi, yang nanti bisa ubah saya dan keluarga, kami orang Sumba punya hidup dan masa depan. Pak presiden ketemu di tempat yang tepat. Langsung di jantung hidup kami orang Sumba. Kalo dia sudah pernah ke sini… maka kami harus berubah, supaya dia mau datang ulang lihat kami lagi yang sudah berbeda.” Narasi ini bisa diparodikan dengan gaya dan aksen khas Rote, Bajawa atau Manggarai. Cara bangga khas nyata saat bercerita.

Kita tahu bahwa kesengsaraan Yesus berawal dari keputusannya berinkarnasi menjadi manusia. Mengalami hidup sebagai manusia tulen, adalah satu-satunya cara merasakan langsung, melihat dan mengetahui cara terbaik menolong manusia, menyelamatkan hidup manusia. Yesus menemukan cara terbaik, bukan hanya membebaskan manusia dari belenggu dosa, tetapi memberinya keselamatan, suatu hidup baru. Yesus meninggalkan kemewahan dan kekuasaan yang Dia miliki untuk menyelamatkan manusia.

Kesengsaraan disimbolkan dengan palang salib. Sesungguhnya, moral salib bukan pada kesengsaraannya saja, tapi pada ketaatan pada setiap perintah Tuhan. Salib adalah salah satu bentuk ketaatan. Ada pengorbanan. Dan hakekat pengorbanan adalah cinta kasih. Jokowi mungkin tidak tahu perayaan minggu sengsara. Tetapi dia punya cinta pada rakyatnya. Dia mempraktekkannya. Dia mengorbankan kemewahan dan kekuasaan yg dia miliki, lalu datang, melihat, merasakan berada di dapur orang Sumba, orang Sikka. Orang Timor di Kupang, dan di Belu, sudah merasakan di Bendungan Raknamo, dan Rotiklot. Sebentar lagi orang TTS akan merasakan hadirnya bendungan Temef, sekaligus memberi orang Malaka bebas dari rasa takut banjir bandang. Sehingga aneh sekali jika ada orang-orang yang jika benar sengaja menghalang-halangi pembangunan Bendungan Kolhua. Sedih. Jokowi yang tidak tahu menahu tentang hakekat pengorban di minggu sengsara, apalagi kita yang memutuskan adanya tradisi minggu sengsara. Seharusnya si empunya minggu sengsara lebih baik dari Jokowi.

Jangan menghabiskan waktu sekedar ritus, ibadah, khotbah, atau bersidang saja. Minggu sengsara seharusnya adalah saat yang tepat untuk ikut merasakan langsung di dapur soal-soal jemaat. Minggu-minggu sengsara adalah saat yang tepat berada ditengah-tengah permasalahan jemaat. Jangan hanya menelpon dan bersurat, tetapi berada ditengah-tengah. Bertindak nyata karena tahu, melihat dengan mata kepala sendiri. Bukan “katanya”.

Saya bisa melihat kenikmatan yang Pendeta Meri Kolimon rasakan saat berkunjung ke Alor baru-baru ini. Betapa bahagianya Pendeta Yermias Klakik yang mengakhiri karya pelayanannya sebagai pendeta GMIT dihadiri oleh seorang ketua sinode. Foto-foto yang dibagikan Ibu Meri, memperlihatkan suasana penuh kegembiraan bertemu jemaat dalam keterbatasan mereka. Nikmat sekali melihat foto-foto dan video suasana perjalanan darat melewati medan berat harus dilewati menggunakan mobil dobel gardan.

Ibu Meri mengungkapkannya dengan ungkapan sangat khas Alor: “Ada titik kami naik oto, ada titik kami pikul oto.” Ini ungkapan tidak akan lahir jika tidak berada di Polbur. Satire orang Alor yang jenaka. Itulah medan layan Pendeta Klakik setiap hari, mungkin dengan jalan kaki atau pakai sepeda motor di Wilayah Polbur, meliputi Us Akan, Halmin, Longkap, Hirang, dan Worgowat. Ekspresi Ibu Meri begitu puas dan bahagia sekali. Itulah rasa yang akan didapat jika kita mau berada ditengah-tengah dan merasakan pergumulan jemaat.

Mungkin tidak cukup tersedia kata-kata yang bisa mewakili apa yang dilihat, didengar, dialami dan dirasakan Ibu Meri saat menghadiri proses emeritasi Pendeta Klakik. Kehadiran itu sendiri sudah merupakan suatu penghargaan di garis akhir pengabdian sang pendeta yang akan dikenangnya bersama keluarga. Saya menghayati ada 3 J dalam berbagai peristiwa di tengah minggu sengsara 2: ada Jesus-Jokowi-Jemaat. Jesus memberi teladan pengorbanan, Jokowi mempraktekkannya, Jemaat (rakyat) merasakan bahagia atas kehadiran pemimpinnya.

Barangsiapa bertelinga hendaklah ia mendengar…Yang memiliki mata hendaklah ia melihat….Jangan keraskan hatimu… ***

 

Sumber: sinodegmit.or.id

Komentar

Jangan Lewatkan