oleh

Kerumunan Maumere dan Energi NTT

-Opini-701 views

Oleh: Isidorus Lilijawa

Hampir sepekan setelah Presiden Jokowi mengunjungi NTT, ke Sumba Tengah dan Sikka, pembicaraan tentang itu masih menghangat hingga saat ini. Yang bikin hangat dan cenderung panas adalah seputar dugaan pelanggaran prokes dalam bentuk kerumunan massa baik di Sumba dan khususnya di Sikka. Tensi ini kian panas ketika publik NTT ramai-ramai memberi respons atas pernyataan beberapa politisi. Maumere, kota nyiur melambai jadinya viral. Energi publik banyak tersedot ke soal ini. Amati diskusi di sosial media, entah di FB maupun WA grup. Saling berbalas pantun, aneka ulasan, catatan kritis, respons singkat berseliweran. Ini juga bagian dari seni, yang khas NTT.

Saya tidak begitu tertarik untuk mengulas lebih dalam apakah kerumunan Maumere dibenarkan atau tidak. Toh itu post factum. Tetapi terminologi kerumunan Maumere muncul karena ada yang membandingkannya dengan kerumunan Rizieq. Jelas, kedua jenis kerumunan ini berbeda. Kerumunan Rizieq dilakukan by design. Ada panitianya. Ada undangannya. Lalu dinilai ada pelanggaran prokesnya. Sementara kerumunan Maumere mengalir apa adanya. Spontanitas. Tanpa didesain atau dipersiapkan pihak tertentu. Kerumunan Maumere adalah ungkapan kerinduan warga terhadap Sang Presiden yang mereka cintai. Penantian 29 tahun setelah Presiden Soeharto mengunjungi Maumere, tergenapi dalam kehadiran Presiden Jokowi dalam agenda meresmikan Bendungan Napun Gete.

Apakah ada yang salah dengan kehadiran Presiden di nian Sikka? Tidak. Itu berkat. Ia menjawab kerinduan rakyatnya. Maka spontanitas yang tergerak oleh kerinduan itu tidak cukup dijelaskan secara rasional. Ada ruang di mana perasaan dan hati punya logika tersendiri. “Hati memiliki logika yang tidak mampu dipahami oleh akal,” begitu kata Blaise Pascal. Saya setuju dengan kutipan itu. Hati memiliki otoritas tersendiri di dalam diri kita. Otoritas itu bahkan tak bisa diintervensi oleh akal atau logika. Ia (hati) seenaknya sendiri dalam pengambilan keputusan. Tanpa permisi, tanpa kompromi, dan tanpa sosialisasi. Ia tak membutuhkan persetujuan kita untuk melakukan sesuatu atau tidak. Saya memahami spontanitas kerumunan Maumere dalam kerangka ini. Lalu, apakah ada yg keliru dengan kerumunan itu? Saya melihat dari aspek antisipasinya. Kita belajar dari peristiwa ini bahwa mengantisipasi kerumunan-kerumunan ‘spontanitas’ dalam acara-acara semacam ini atau sejenisnya ke depan harus dilakukan supaya kita ‘aman dan sehat’ bersama.

Dalam konteks kerumunan Maumere, saya justru melihat dari perspektif lain. Luar biasa energi anak-anak NTT. Kerinduan yang menggebu-gebu, spontanitas yang mengalir, apa adanya, blak-blakan, keberanian, itulah kita NTT. Bagaimana the power of mama-mama di Maumere bisa menumbangkan Paspampres dari motornya? Hanya bisa dijelaskan dalam logika hati. Energi kita luar biasa. Kita orang NTT ini punya modal sosial yang besar. Bukan saja mengalir di media sosial tetapi juga membasahi fakta sosial kita. Cuma, energi kita ini kadang tidak dimanfaatkan secara baik untuk kepentingan besar kita di NTT. Kita royal membuang-buang energi di ruang sosial media membahas hal-hal yang tidak terlalu penting. Apalagi menguliti bahasa politisi. Seminggu ini energi kita terkuras untuk soal ini.

Padahal NTT kita ini punya banyak persoalan besar yang harus kita suarakan bersama-sama. Mesti kita keroyoki dengan gagah berani. Haruslah kita atasi secara spontanitas, apa adanya. Namun kita kadang melupakan ini. Kita berjalan sendiri-sendiri. Bahkan saling menonton dan berharap. Lalu persoalan NTT itu mengalir dari tahun berganti tahun. Di manakah kerumunan bersama kita, energi besar kita ketika NTT masih terpuruk dalam ranking ketiga termiskin serepublik ini? Di manakah suara-suara besar kita ketika di bulan kedua 2021 ini sudah 17 org pekerja migran ilegal asal NTT yang peti matinya kembali ke nusa tercinta ini? Saat NTT dilanda DBD, rawan pangan, kekurangan air bersih, kasus traficking, penambangan liar, gizi buruk, tingginya tingkat buta huruf, akses infrastruktur yang buruk, mafia hukum bergentayangan, di manakah kita? Manakah suara-suara kita?

Seandainya kegarangan kita di sosial media bisa dikonversi menjadi energi yang garang melawan ketidakadilan di NTT, andaikata kebersamaan dan persatuan kita di dunia maya bisa menjadi persatuan nyata dalam dunia nyata, maka saya percaya NTT mungkin bukan nusa tertinggal terus atau nusa termiskin terus. Memang keyakinan imani kita, NTT, nanti Tuhan tolong. Tetapi tanpa energi besar kita, tanpa kerumunan sosial kita melawan dan menghadapi aneka soal dan stigma NTT, kita hanya membuang-buang energi positif itu dan Tuhan mungkin enggan menolong. Kerumunan Maumere telah memicu kerumunan sosial kita di media sosial. Mudah-mudah itu bisa memicu lahirnya energi NTT di dunia nyata ke-NTT-an kita. Salve

 

Penulis adalah Warga Kota Kupang tinggal di Liliba

Komentar

Jangan Lewatkan