oleh

Kupang Kota Kita

-Opini-463 views

Oleh: Isidorus Lilijawa

Siapakah yang empunya Kota Kupang? Pertanyaan ini mudah dijawab oleh anak saya kelas 1 SD. Dengan polos ia katakan, Kupang kota kita. Lalu serta merta mengulang apa yang diajarkan oleh guru-guru di sekolahnya: bae sonde bae katong pung Kupang lebe bae. Jika ditanyakan ke politisi yang bukan saja sudah ‘makan dan minum garam’ tetapi bahkan ‘mandi garam’, mungkin saja pertanyaan ini merepotkan.

Kupang itu kota kita. Bukan kota kami, kota kamu, kota mereka. Kupang kota kita: kota orang Timor, orang Rote, orang Sabu, orang Flores, orang Sumba, orang Alor, orang Lembata, orang Adonara, orang Jawa, orang Bali, orang Maluku, orang Papua, orang Sumatera, orang Sulawesi, orang Lombok. Kupang kota orang NTT. Miniatur NTT dan Indonesia. Kupang ditenun dalam benang-benang perbedaan etnis, agama, budaya, bahasa, kebiasaan menjadi kain tenunan yang indah dan menarik. Kupang indah karena aneka keragaman ini bukan oleh keseragaman. Maka menjaga dan merawat Kupang yang harmoni adalah tanggung jawab kita. Tidak soal ber-KTP Kupang atau tidak. Merawat harmoni adalah tugas moral setiap orang yang menjejak kakinya di kota ini.

Mungkin saja ada yang belum tahu. Kota Kupang itu dibangun dalam wadah kebersamaan, di atas wadas keberagaman dengan filosofi LIL AU NOL DAEL BANAN. Artinya, bangunlah aku dengan hati yang tulus. Ini sangat luhur dan mulia. Filosofi yang sarat makna mengalirkan energi positif yang kuat dalam membangun Kota Kupang. Walaupun akhir-akhir ini mungkin saja ada yang memahami secara lain: bangunlah aku dengan hati yang rasis dan fulus.

Dalam berbagai group WA orang-orang mendiskusikan ‘rasisme’ yang lagi viral di kota ini. Karena ini kota kita, maka ini jadi keprihatinan kita bersama. Rasa-rasanya kebanggaan rakyat Kota Kupang karena penghargaan sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi di negeri ini beberapa tahun kemarin menjadi sirna karena ujaran-ujaran rasis yang nota bene diduga diucapkan oleh figur pejabat publik di kota ini. Mungkin saja itu ungkapan emosional sesaat. Tetapi kontennya tetap beraroma rasis, dan itu amis.

Ada yabg bertanya kepada saya, apa pandangan saya perihal rasisme. Saya katakan ujaran-ujaran rasis yang terjadi di mana-mana itu adalah bahasa sampah. Bahasa sampah diucapkan oleh mulut sampah. Di era di mana kesadaran masyarakat semakin tinggi menjunjung toleransi dan mengapresiasi keberagaman, mengungkap politik identitas ke publik serta memainkan isu SARA adalah tindakan yang konyol, mencari simpati murahan serta jauh dari kategori cerdas. Warga kota kasih yang punya ‘otak’ tentu tidak akan terprovokasi bahasa sampah semacam ini. Tetapi warga punya memory box. Jejak digital tentu membekas.

* * *

Sering ada paradoks dalam cara berpikir dan bersikap kita. Selalu tepuk dada sebagai nasionalis. Sering mengumbar jargon marhaenis, banyak bikin pendekatan populis. Tetapi ucapan malah rasis. Tidak adanya keseimbangan antara ruang atas dan ruang bawah kadang membuat orang kehilangan keseimbangan. Ruang bawah itu nafsu, hasrat berkuasa dan mempertahankan kekuasaan. Ruang atas itu ruang cerebral, ruang refleksi, ruang kendali. Kalau pasokan vitamin untuk ruang kendali sedikit saja maka bisa masuk kategori malnutrisi. Efeknya penampilan boleh mentereng, jabatan boleh menawan tetapi ngomongnya ngawur, ngelantur, tidak substansial. Karena apa? Ya karena itu tadi, malnutrisi otak, ruang refleksi dan kendali itu.

Dulu waktu dilantik sebagai wakil rakyat, saya masih ingat kami mengucapkan ‘sumpah’. Isinya kira-kira demikian, ‘saya akan memperjuangkan kepentingan rakyat (di daerah pemilihan saya)’. Tidak ada sumpah memperjuangkan kepentingan etnis saya atau agama saya. Kita punya etnis. Kita punya agama. Tetapi itu bukan tujuan pelayanan kita. Kita melayani rakyat, dari etnis apa saja dan agama manapun. Maka sebutan lain anggota DPR/DPRD itu wakil rakyat, bukan wakil rakyat suku tertentu atau wakil rakyat agama tertentu. Kami politisi kadang jatuh dalam dosa ini. Saat ‘mengemis’ suara kami bicara soal altruisme, kebersamaan, keragaman. Tetapi ketika sudah berkuasa kami lebih tampil sebagai kepala suku ini, pengurus agama itu. Altruisme lenyap. Ego etnis dan agama menguat. Mea maxima culpa. Ampunilah dosa-dosa kami ini.

Seberapa dekatnya agama dan politik? Agama adalah landasan moral politik. Maka politisi yang beragama minimal mengaktualisasikan nilai-nilai positif ajaran agamanya dalam ucapan, sikap dan tindakannya setiap hari. Agama adalah pengudus politik. Politik bisa saja jadi arena yang berlumuran darah dan dosa. Tetapi untuk politisi pendosa selalu saja ada jalan pulang, jalan metanoia, jalan pertobatan. Jalan itu disiapkan agama. Di arena politik kita adalah pendosa tetapi agama memberi rambu-rambu agar kita tidak menjadi pendosa yang bejat, tetapi pendosa yang bertobat. Maka membawa nama agama dalam diskursus politik yang tidak elok adalah suatu ketidakelokkan itu sendiri.

Dalam harmoni keberagaman agama dan etnis, melakukan dikotomi agama karena saya lebih baik dan yang lain kurang baik itu tidak dibenarkan. Dikotomi melahirkan pengkotakan. Kalau kita hanya nyaman dengan kotak kita dan menganggap kotak lain sebagai pengganggu, bagaimana mungkin kota tanpa pengkotakkan bisa terwujud? Anda punya kotak. Saya punya kotak. Dia punya kotak. Kita membentuk kotak-kotak yang indah dalam ‘kemeja kotak-kotak’ khas Kupang. Di situlah kota kita menjadi indah karena ditunjang oleh warga yang memang punya otak.

* * *

Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia, bapak bangsa kita, guru nasionalisme kita pasti sedih jika melihat maraknya kasus rasisme di tanah air. Bung Karno adalah sosok nasionalis yang bersahabat dengan semua kalangan dari beragam agama di negeri ini. Tak terkecuali dengan kalangan Katolik. Persahabatan Bung Karno dengan Pastor Huijtink, SVD ketika Bung Karno dibuang pemerintah Hindia Belanda ke Ende pada tahun 1934 sangat luar biasa.

Di tempat pembuangan Bung Karno merasakan kesepian yang menyiksa. Sangat sedikit kawan diskusi, dan tidak ada buku penawar dahaga ilmu. Namun, ketersiksaan Bung Karno itu agak terobati ketika dia mendatangi Santu Yosef, sebuah biara yang letaknya tak jauh dari rumah pengasingannya di Ende.

Tempat ini menjadi tempat yang sangat berarti bagi Bung Karno. Sebab di biara inilah Bung Karno sering menghabiskan waktu untuk membaca buku di perpustakaan. Mereka sering bertukar pikiran tentang segala hal, mulai dari cara pandang terhadap dunia, hingga kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan Bung Karno.

Sebagai anak bangsa, marilah kita belajar toleransi, respek terhadap keberagaman dari guru bangsa kita Bung Karno. Apalagi untuk kita di kota berlabel kasih ini. Kupang kota kita, kota bagaya tetapi anti rasis.

Salve…

 

Penulis adalah Warga Kota Kupang tinggal di Liliba

Komentar

Jangan Lewatkan