oleh

Lindungi Perempuan Hentikan Pelecehan Seksual!

-Opini-571 views

Oleh : Saverinus Dosom

“Melindungi kaum perempuan, merawat masa depan Indonesia. Menghormati sosok perempuan menggenggam surga diakhirat nanti”. -CS- Makna kalimat di atas sebenarnya sangat mendalam tapi justru di tengah carut marut polemik dalam Negeri ini, aksi pelecehan seksual pun marak terjadi. Buktinya, beberapa hari yang lalu berita aktual membooming semua masyarakat NTT. Salah satu sampel fenomena pelecehan seksual terhadap perempuan terjadi lagi di Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Terungkap bahwa pelaku yang berinisial (DB) hendak memperkosa anak di bawah umur. (PK, 6/05/21). Sungguh sangat menyedihkan.

Ironi tersebut di atas sebetulnya menampilkan realitas vulgar ketidakadilan terhadap kaum perempuan di dalam Negeri ini terus terjadi tanpa henti. Aksi (DB) dalam pelecehan seksual tersebut di atas sebagai bentuk tindakan membunuh mental sekaligus menghancurkan martabat orang lain (perempuan).

Aksi serupa dalam ruang lingkup eksistensi manusia sebagai makhluk yang berakal budi, berkebebasan dan berhati nurani sebenarnya tidak lebih dari menampilkan kedangkalan cara berpikir dan keterbatasan tanggung jawab dalam bertindak. Miris, perempuan acap kali menjadi sasaran utama dari tindakan tersebut. Padahal kita tahu bahwa kaum perempuan sebagai figur sentral masa depan Negeri ini.

Pelecehan seksual yang dilakukan oleh (DB) berarti melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Persoalan berkaitan dengan HAM tentu ada hubungannya dengan hukum. Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan (Undang-Undang Perlindungan Anak No 23 Tahun 2002) : Tindakan pidana pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur merupakan sebuah kejahatan kesusilaan dan bagi pelakunya harus diberikan hukuman yang setimpal.

Tentu, hal itu dimaksudkan dengan tujuan supaya semua masyarakat di Negeri ini sadar diri bahwa aksi pelecehan seksual kuhsusnya terhadap kaum perempuan tidak boleh dilakukan. Larangan keras itu demi kaum perempuan dijujunjung, dilindungi, diayomi dan diperlakukan secara adil. Semua itu bukan menjadi ancaman tapi mesti dipandang sebagai himbauan agar berhenti melakukan tindakan serupa.

End Child Prostitution In Asia Tourism (ECPAT) Internasional melihat aksi pelecehan seksual sebagai bentuk interaksi pelaku terhadap obyek sasaran demi memuaskan kebutuhan seksualnya. Tidak hanya itu, tindakan serupa juga dapat terjadi melalui tampilan gambar atau pun video yang bersifat porno, memandang bagian bagian tubuh tertentu lawan jenis, menunjukkan bagian tubuh kepada orang lain secara tidak sopan. Yang lebih jahatnya lagi melalui mencium, menyentuh, mencolek, mengagahi tubuh pelaku tanpa dikehendaki lawan jenisnya.

Fenomena sampel aksi pelecehan seksual (DB) tersebut di atas termaksud dalam tindakan asusila yang sangat keji. Femomena itu sama halnya menampilkan diri kita sebagai insan tak bermoral. Bukankah kita adalah insan yang bermoral Memang demikian, meskipun bermoral tapi tindakan kitalah yang akan merusak image nilai-nilai moral itu dalam diri. Hal itu secara langsung digambarkan melalui fenomena aksi nyata asusila.

Tentu, kesedihan kita karena menyaksikan gambaran umum orang-orang saat ini (laki-laki) yang bertindak asusila tapi tidak mempertimbangkan konsekuensi di baliknya. Konsekuensinya berimplikasi buruk terhadap mentalitas dan eksistensi kaum perempuan. Dari polemik tersebut kaum perempuan pasti merasa terancam, terauma dan tidak bebas untuk hidup.

Aksi pelecehan seksual sebenarnya tidak hanya menimbulkan dampak yang secara fisik, tetapi juga dampak secara psikilogis. Dampak secara fisik tidak membutuhkan waktu yang terlalau lama untuk mengobatinya, tetapi dampak secara mental bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun agar dapat pulih seperti sedia kala. Bahkan, ada juga yang sampai menderita masalah kejiwaan sampai memutuskan melakukan bunuh diri, karena tidak kuat menahan penderitaan dan rasa malu akibat pelecehan seksual yang dialaminya.

Atas dasar itu, pertanyaan mendasar untuk kita sadari, ada apa dengan para penghuni (lelaki) Negeri ini? Kenapa incaran kita (kaum lelaki) selalu ingin mencederai martabat kaum perempuan? Sadarkah kita bahwa kaum perempuan berperan sebagai figur istimewa yang melahirkan generasi penerus Negeri ini?

Kaum perempuan sudah sepatutnya dinobatkan sebagai figur yang dapat melahirkan generasi penerus bangsa demi mempertahankan Negeri ini. Tentu, kita tidak menginginkan masa depan Indonesia berada dalam iming-iming tidak tentu. Tapi apa yang terjadi, justru pada momen tertentu kaum perempuan pun diperlakukan secara tidak adil. Ketidakadilan terhadap mereka secara tidak langsung dapat mencederai masa depan negeri ini.

Bukti faktual ketidakadilan itu pun sangat jelas melalui data Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Indonesia. Tercatat kasus kekerasan terhadap perempuan mencapai 75 persen (11.105 kasus) telah tertjadi. Situasi ini, sesungguhnya menggambarkan adanya intimidasi yang tak kunjung henti terhadap kaum perempuan. Semua itu, menampilkan tindakan kita (lelaki) yang tidak pernah memikirkan bahwa eksistensi kaum perempuan itu sangat penting demi melahirkan estafet masa depan bangsa ini.

Perempuan bukan semata-mata ‘budak’ untuk melempiaskan nafsu. Dalam konteks psikologi, aksi pelecehan seksual berimplikasi buruk terhadap korban. Pertama, korban akan merasa terpukul dan mengenyakan mental menjadi pupus. Kedua, korban mengalami trauma. Ketiga, korban memiliki beban batin ketika mengingat kembali pengalaman pahit masa lalu. keempat, situasi hatinya pun pasti mengalami ketidaktentraman dalam kehidupannya setiap hari.

Aksi serupa tidak baik dicontohi oleh semua generasi sekarang. Tindakan pelecehan seksual sebetulnya bukanlah suatu kewajiban yang harus diimplementasikan. Aksi serupa tidak lebih dari ketidakmatangan pola pikir (mindset) dan ketidakwarasan gaya hidup. Semua itu mesti diubah dan diminimalisasi demi membangun gaya hidup yang baik di tengah masyarakat.

Sebenarnya kita (lelaki) menciptakan kesamaan tanpa diskriminasi apa pun terhadap kaum perempuan. Kita mesti memiliki sudut pandangan positif bahwa mereka mempunyai harga diri, martabat dan kebebasan yang setara dengan laki-laki. Patutlah mereka mesti dianggap sebagai figur yang berperan penting demi generasi penerus Negeri ini.

Pemerintah dan pihak keamanan pun sudah berperanan penting dalam mencegah dan meberantas aksi tersebut. Terbukti melalui beberapa kasus terkait kekerasan seksual terungkap. Tugas dan tanggung jawab pihak keamanan patut diapresiasi dan didukung dengan baik demi memberantas pelaku pelaku yang bertindak asusila di Negeri ini.

Saatnya kita sama-sama ikut bertindak membongkar dan memusnahkan tindakan pelecehan seksual terhadap kaum perempuan. Upaya konkret kita dapat membangun kesadaran setiap orang membentuk kematangan cara berpikir yang positif dan menghidupi nilai-nilai moral demi tercipta situasi masyarakat yang harmonis. Semua itu demi menjaga dan melindungi eksistensi kaum perempuan di mata publik.

Kita mesti bersatu dan berkerja sama demi mencegah aksi pelecehan seksual. Semua pihak tanpa terkecuali tentu tidak menginginkan aksi serupa terulang kembali. Akhirnya, kita harus menjujung tinggi dan melindungi hak dan martabat kaum perempuan. Perempuan akan melahirkan generasi penerus masa depan Indonesia. Oleh karena itu, kita menciptakan relasi yang baik dengan kaum perempuan. Mari, hentikan aksi pelecehan seksual terhadap kaum perempuan! (*)

 

(Penulis adalah Calon Imam Misionaris Scalabrinian, Tinggal di Ruteng-Manggarai)

Komentar

Jangan Lewatkan