oleh

Membaca Teks di Balik Konteks [catatan atas Video Viral Gubernur NTT di Sumba]

-Opini-151 Dilihat

Oleh: Alex Ofong

Bukan baru kali ini Video viral ‘miring’ tentang Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat. Cuplikan-cuplikan pernyataan, gesture dan sikap, bahkan sentilan dan candaan; semuanya dikemas lalu diviralkan dengan framing tertentu, ditanggapi beragam sesuai perspektif penerima, kemudian di-share dengan tambahan komentar, jadilah rantai ‘video viral’ yang menarik perhatian publik. Di grup-grup WhatsApp dan Facebook  menjadi topik diskusi hangat. Kontroversi pun terjadi atas fenomena dari gubernur yang memang fenomenal ini.

Terakhir ini, ‘video viral Sumba’. Video yang berdurasi sekitar 3 menit ini memuat tentang dialog dan perdebatan Gubernur NTT dengan Warga setempat tentang kepemilikan dan rencana pemanfaatan lahan di tempat itu. Gubernur tegas pada posisi pemilik lahan; bahwasannya, lahan tersebut milik pemerintah provinsi. Warga tetap bergeming sebagai pemilik ulayat tanah itu.

Dari video itu, terlihat perdebatan yang tegang, sedikit panas, yang berakhir dengan sikap warga meninggalkan tempat pertemuan dengan kesal dan amarah. Sebagaimana perdebatan, saling adu argument pun tak dapat dihindarkan; saling sambung kalimat, baku balas pernyataan pun terjadi. Ada terselip ucapan yang kurang enak didengar; tapi itu lah fakta yang diviralkan dari video singkat itu.

Gubernur teguh menegaskan sikap dan niatnya memanfaatkan lahan itu untuk pengembangan ternak Sapi Wagyu dengan daging berkualitas premium; niat membangun dan menghidupkan. Namun warga bersikukuh bertahan tak mau tahu sebagai sikap melindungi hak milik mereka.

Kini, video singkat itu sudah menghiasi media sosial, masuk ke ruang privat masing-masing orang pemilik smartphone; bahkan video itu pun  sudah dipotong, diedit dan diberi komentar dengan perspektif dan penafsiran beragam. Tentu saja, video itu pun menarik perhatian siapa saja yang ‘peduli dengan NTT’. Mereka tertarik dengan video itu, yang tentu dengan cara pandang dan sikap berbeda, namun punya harapan yang sama – NTT menjadi lebih baik. NTT sungguh bangkit, NTT jadi sungguh sejahtera.

Sebagaimana cuplikan video pendek yang diviralkan pada umumnya, video viral ini pun diambil dan di-share, bahkan diedit dan di-share untuk menarik perhatian orang sesuai framing-nya; dan umumnya dengan motif agar orang menanggapi apa yang didengar dan dilihat, tanpa pertanyaan kritis ke arah substansi kejadian. Konteks dibaca sebagaimana adanya yang tampak. Konteks dihadirkan sebatas fenomena yang dilihat dan didengar.

Padahal setiap fenomena itu bersifat intensional. Setiap fenomena selalu merupakan fenomena dari yang lain. Ada noumena, ada yang substansial, ada yang esensial; ada hal yang paling penting di balik yang dilihat dan didengar.

Belajar dari fenomenologi Edmund Husserl, kita menghindar dari jebakan ‘fenomenisme’. Belajar dari Jacques Derrida, kita bukan sekedar merekonstruksi, tapi justru mendekonstruksi. Husserl mengajak kita menyelami ‘noumena’ dari fenomena yang terjadi. Derida membimbing kita untuk melihat yang tersembunyi dari yang tampak; mendengar suara sunyi dari yang berbunyi. Kalau yang terlihat dan terdengar dalam video viral itu adalah konteksnya, maka kita berusaha membaca teks di balik konteks itu.

Apa teks yang bisa ditulis untuk dibaca dari konteks yang tampak pada video itu? Pertama, Keberadaan Gubernur VBL di Sumba Timur, khususnya di Desa Kabaru, Kecamatan Rindi merupakan bagian dari kunjungan kerjanya ke seluruh NTT untuk memantau langsung dan memastikan semua program dilaksanakan dengan benar, serta semua rencana program sudah sungguh disiapkan untuk dilaksanakan. Gubernur VBL bukan tipe pemimpin yang hanya duduk dengar laporan yang ABS – asal bapa senang. Tipe pemimpin yang tentu kita semua inginkan.

Keberadaannya di tempat itu sesungguhnya merupakan kunjungan untuk melihat langsung kesiapan untuk pelaksanaan program pengembangan Sapi Wagyu. Salah satu kesiapan yang terpenting adalah kesiapan lahan. Lahan yang disiapkan adalah lahan milik Pemerintah Provinsi yang selama ini sudah menjadi UPT Pembibitan Ternak dan Produksi Pakan Ternak Dinas  Peternakan Provinsi NTT.

Lahan seluas 500 hektar itu memang milik Pemerintah Provinsi NTT berdasarkan Berita Acara Penyerahan dari Pemerintah Pusat/Kementerian Dalam Negeri kepada Provinsi tahun 2001. Berdasarkan informasi, lahan itu diserahkan oleh swapraja Mangili Umbu Nai Pajaru kepada Pemerintah Pusat pada tahun 1952 untuk dijadikan tempat karantina sementara, khusus untuk ternak-ternak dari wilayah selatan dan timur, yang selanjutnya dikirim  ke karantina terpusat dekat pelabuhan Waingapu. Lahan seluas 500 ha itu bahkan kini sudah dipagar, di atasnya sudah dibangun kandang ternak yang di dalamnya ada sapi-sapi, ada kantor dan ada ASN Pemerintah Provinsi NTT yang bertugas di situ.  Selama ini, memang tidak ada persoalan. Persoalan muncul saat lokasi tersebut akan diintensifkan menjadi tempat pengembangan dan uji coba Sapi Wagyu, hasil kerja sama antara kementerian pertanian dan pemerintah provinsi NTT.

Gubernur VBL sesungguhnya tidak sewenang-wenang. Kendati lahan itu milik Pemprov NTT, namun dia memerintahkan untuk memilih jalur kebudayaan dan kekeluargaan untuk menyampaikan tujuan pemanfaatan lokasi UPTD tersebut sekaligus mendengarkan aspirasi dan mengajak mereka terlibat dalam proses pengembangan itu. Jadi, sebelum dilakukan land clearing, pendekatan budaya sebenarnya sudah dilakukan. Rumah kediaman Bapak Umbu Maramba Hau dan tokoh-tokoh lain pun sudah didatangi, dan sosialisasi umum bertempat di kantor UPT Kabaru pun sudah pernah dilaksanakan. Dan semuanya berjalan lancar, bahkan Bapak Umbu Maramba Hau menyetujui dan mengakui lahan tersebut benar miliki Pemprov NTT.

Tetapi kemudian Bapak Umbu Maramba Hau, mengklaim dan meminta kembali lahan seluas 100 hektar dan mempertanyakan siapa yang menyerahkan lahan tersebut pada tahun 1952. Beliau juga beberapa kali datang ke lokasi memaksa pekerja untuk berhenti bekerja, sehingga pihak pemprov menganggapnya telah dengan sengaja menghambat pekerjaan.

Sudah dijelaskan dengan baik oleh Kepala Badan Aset Provinsi saat sosialisasi maupun pertemuan terbatas, bahwa aset tidak bisa dipindahtangankan ke perorangan, bahkan diberi opsi berkolaborasi dalam pemanfaatan lahan  untuk berkebun atau membuat sawah.  Namun, beliau tetap bergeming sampai kejadian Sabtu, 27 November 2021, saat kunjungan Gubernur, di mana mereka meminta waktu untuk berdialog dengan Gubernur.

Setelah Bapak Umbu Maramba Hau dan keluarga meninggalkan tempat itu, masih dilanjutkan dialog dengan warga lain yang berakhir damai. Gubernur pun membuka akses bagi warga untuk mengolah lahan dan memanfaatkan embung yang ada di dalam lokasi itu. Gubernur juga siap menghadiri pertemuan berikut yang akan dilaksanakan secara adat di desa.

Kedua, terlepas dari persolan kepemilikan lahan tersebut, teks terpenting yang dibaca dari konteks itu adalah spirit, komitmen, tujuan dan visi Gubernur NTT membangun NTT, termasuk Sumba Timur. Wilayah selatan Sumba Timur, yang bertahun-tahun sangat terisolir, telah dibuka aksesnya melalui pembangunan infrastruktur jalan sejak 2019 dilanjutkan 2020 sampai 2021 dan 2022 ini. Pelbagai upaya lain pun terus dilakukan. Promosi pariwisata digalakkan melalui berbagai event. Ikhtiar membangun sumber energy baru terbarukan dengan memanfaatkan potensi lokal pun dilakukan.

Sebagai wilayah yang cocok dikembangkan ternak sapi, kini Gubernur VBL membangun kerja sama dengan Pemerintah Pusat/Kementerian Pertanian untuk pengembangan  Sapi Wagyu sebanyak 100 ekor – 96 ekor betina, 4 ekor jantan. Bibit sapi didatangkan dari Austrilia, yang akan dikembangkan dengan pola kerja sama Pemerintah dengan pihak ketiga, yaitu PT. Asia Beef. Sapi dengan daging berkualitas premium ini akan segera dihibahkan oleh Kementerian Pertanian dalam waktu dekat. Kita juga sudah menyiapkan dana sebesar Rp 5 Miliar yang telah disepakati dalam APBD Provinsi NTT Tahun Anggaran 2022. Karena itulah, segala prasyarat yang dibutukan mesti dipastikan siap.

Ketiga, teks yang lebih luas yang bisa dibaca adalah persoalan penataan dan pemanfaatan aset pemprov, secara khusus aset tanah. Ada banyak aset tanah milik Pemprov NTT yang secara administratif belum tertata dengan baik, dan dibiarkan bertahun-tahun tidak diurus, karena tidak ada gagasan untuk pengembangan lebih intensif. Ketika hendak dimanfaatkan baru muncul persoalan.

Beberapa contoh bisa disebutkan: Besipae, Labuan Bajo, dan Manulai. Masih ada banyak di dalam Kota Kupang ini, kabupaten-kabupaten, bahkan di luar NTT. Ini merupakan PR besar bagi Pemprov untuk segera memastikan status kepemilikannya, termasuk mendekati kembali pihak pemilik tanah sebelummya. Aset tanah adalah potensi kita yang mesti diaktualiasikan dengan memanfaatkannya demi kemajuan NTT.

Persoalan status kepemilikan tanah ini pun, dalam perspektif yang lebih luas, mengonfirmasi kompleksitas persolan agraria di Negara ini. Land Reform yang dicanangkan belum mampu mengurai benang kusut persoalan agraria yang ditinggal sejak Orde Baru.

Video pendek itu kini sudah diviralkan ke mana-mana. Sudah ada banyak tanggapan. Sudah banyak juga tulisan untuk mengulasnya dengan beragam perspektif. Tulisan ini pun berusaha memberikan perspektif lain.

Kita sangat menghormati rasa solidaritas warga Sumba yang diekspresikan dengan berbagai cara. Kita juga menghargai reaksi publik dengan spirit kecintaan akan NTT dan pemimpinnya. Sejauh yang saya kenal, Gubernur NTT suka akan kritikan, karena kritikan terlebih kritikan publik adalah jalan menuju kemajuan. Karena itu sebagai pengkritik, kita juga terus belajar mengeritik. Tidak sebatas hal sensasional; tapi jauh menukik ke kedalaman substansi konteks; berupaya membaca teks di balik konteks yang ada.

Kita mungkin kurang suka dengan gaya komunikasi Gubernur VBL, tapi satu yang pasti: Gubernur VBL tulus membangun Nusa Tenggara Timur. Seluruh kekuatannya dicurahkan untuk memastikan kebangkitan NTT. Dia tidak terjebak pada orientasi programatik. Dengan visi besarnya dia menjalankan program-program sebagai gerakan yang memberi efek ganda. Karena itu tidak heran, NTT kini tetap bangkit kendati dalam tekanan Covid-19, dan terus bertumbuh walaupun di tengah himpitan berbagai persoalan bencana dan tantangan lainnya. Mari bergandengan tangan membangun NTT tercinta ini.***

 

Penulis adalah Ketua Fraksi NasDem DPRD NTT

Komentar