oleh

Menanamkan Semangat Sumpah Pemuda

-Opini-240 views
Spread the love

Oleh: Paskalis Kongkar

Atmosfer  perjuangan semakin dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Dari level pemerintah hingga masyarakat biasa bereuforia mengekspresikan gaungnya “Sumpah Pemuda”. Ini menjadi sebuah inspirasi sendiri bagi pemuda, khususnya mahasiswa. Mengapa sebuah gagasan yang lahir dari tataran pemuda bertahan dan masih menjadi acuan gerak selama 90 tahun? Apa yang melatar belakangi lahirnya gagasan tersebut, apa tujuan dari gagasan tersebut?

Jika kita berikan apresiasi bersama, gagasan Sumpah Pemuda bukan sekadar sebuah eksistensi kaum pemuda. Tapi ada nilai yang dibawa, ada kemurnian yang terjaga, dan ada sebuah tujuan mulia. Yaitu memerdekakan masyarakat dari bentuk intimidasi dan kolonialisme dari penguasa.

Kita bersyukur berkat sumpah pemuda konsep sebuah negara semakin tercerahkan. Membawa sebuah gagasan  keadilan yang perlu diperjuangkan dan memunculkan sebuah peradaban yaitu baru peradaban tertinggi (pencapaian masyarakat adil makmur).  Pemahaman kita semua yang berkaitan  adil, tidak lepas dengan Hukum. Seperti kita ketahui bersama bahwa tujuan hukum sendiri untuk mensejahterakan.

Penerapan hukum bisa secara demokratis, artinya sesuatu tatanan hukum atas dasar kepentingan (umum) masyarakat. Ada pula penafsiran hukum sebagai alat politik /produk politik ( pencapaian ) untuk membuat sebuah tatanan yang lebih baik, tetapi secara substansi sama, bahwa hukum adalah untuk kesejahteraan. Hemat kata, jika sebuah keadilan tercapai maka kemakmuran (kesejahteraan) adalah manifestasinya.

Lantas apa iya? belum tercapainya kemakmuran karena belum hadirya keadilan. Sikap korektif perlu, bisa kita lihat dengan seksama penegak hukumnya, masyarakatnya, pemerintahanya, dan produk hukumnya semua perlu dikoreksi.

Ada aspek-aspek penting dalam mewujudkan keadilan, Trilogi yang digagas oleh Bung Karno yaitu mandiri dalam ekonomi, berdaulat secara politik, berkepribadian dalam kebudayaan. Ditinjau dari aspek ekonomi bisa kita lihat akhir-akhir ini banyak tumpang tindih (kesenjangan) sistem kartel subur tumbuh. Pemerintah kurang maksimal dalam mengawal pasar, atau memang kita harus mengembalikan apa yang diamanatkan oleh (Founding Father) Bung Hatta untuk menerapkan ekonomi terpimpin lawan dari ekonomi liberal.

Positifnya dalam ekonomi terpimpin ada regulasi ketat yang membatasi pasar untuk memonopoli. Sehingga tidak menimbulkan kesenjangan. Ibarat kata, yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Pernah kita dengar di berbagai daerah banyak petani (masyarakat) mempertanyakan terkait kebijakan pemerintah mengimpor bahan-bahan pokok seperti beras, garam, gula bahkan sampai kedelai. Akibat dari kebijakan itu adalah tidak menentunya harga di pasar. Implikasinya banyak petani yang mengalami kerugian. Di sini masyarakat berhak mempertanyakan antara kepentingan pasar dan kepentingan masyarakat.

Aspek yang kedua yaitu berdaulat secara politik, memanasnya suhu politik kian terasa dampaknya politik kekuasaan dan politik identitas menjadi trend dan memecah konsentrasi apa yang menjadi amanat founding father. Tanpa mengurangi harapan masyarakat terhadap para elit, ada hal yang lebih penting yaitu pengorbanan para pejuang-pejuang yang telah gugur, semata-mata untuk negara dan bangsa, bukan golongan ataupun kekuasaan.

Aspek yang ketiga berkepribadian dalam kebudayaan. Indonesia dikenal dengan negara heterogen (beraneka ragam). Tampaknya nilai kebudayaan yang menjadi ciri khas Indonesia mulai terkikis. Bahkan sampai presiden mengeluarkan Inpres No 12 tahun 2016 Tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental. Isi dari Inpres tersebut antara lain, Gerakan Indonesia Melayani, Gerakan Indonesia Bersih, Gerakan Indonesia Tertib, Gerakan Indonesia Mandiri, Gerakan Indonesia Bersatu.

Mungkin yang paling terasa mulai terkikis adalah kebersamaan (Gotong Royong). Padahal secara substansi nilai ini selalu kita jumpai di seluruh elemen masyarakat karena pada hakekatnya manusia senang membantu yang lemah. Ada amal yang kita laksanakan. Ada nilai ibadah dan ada juga jihad untuk sesama seperti yang dikatakan bung karno (BPUPKI, 1 Juni 1945) ”Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama.

Selamat Hari Sumpah Pemuda yang ke-93

Komentar

Jangan Lewatkan