oleh

Mencari Benang Merah Konflik Israel-Hamas

-Opini-285 views

Oleh :Andreas Ambesa

Sebenarnya konsep yang ditawarkan presiden Donald Trump melalui anak mantunya, Jerad Kushner, di tahun 2019 bagus, dengan mencari dana investasi US$50 miliar atau setara Rp707 triliun dari negara-negara donor. Negara-negara Arab Teluk seperti: Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Emirat Arab, Maroko, Bahrain, Yordania dan juga Mesir setuju, dan siap membantu. Justru Palestina tidak mau, dengan alasan, konsep itu merupakan taktik Trump mengisolasikan Palestina. Padahal dari Rp707 triliun itu hampir Rp400 triliun untuk pembangunan di Palestina, baik di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Untuk apa?

Untuk pembangunan infrastruktur, pembangunan sarana air minum, pariwisata, pendidikan, rumah sakit, situs sejarah, dan lain-lain. Dana itu juga rencananya akan diberikan kepada Yordania sekitar Rp125 Triliun, sedangkan sisanya untuk Mesir dan Lebanon. Kenapa Yordania, Mesir, dan Lebanon juga masuk dalam skema investasi tersebut, karena ketiga negara-negara itu kunci bagi perdamaian Israel-Palestina.

Lalu kenapa Qatar tidak diikutsertakan, padahal dia salah satu kunci perdamaian Israel-Palestina? Trump memiliki rencana tersendiri untuk membuka hubungan diplomatik antara Israel dan Qatar, karena kedua negara telah menjalin hubungan dagang sejak 1996, namun perdamaian Israel-Palestina dan pembangunan ekonomi Palestina lebih menjadi prioritas, karena ketertinggalan Palestina yang sangat jauh dengan Israel. Lagi pula hubungan Qatar dengan negara Arab Teluk lainnya seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, tidak mesra. Ketika pertemuan di Bahrain yang populer dikenal sebagai “Deal of the Century” (Kesepakatan Abad Ini) diselenggarakan Juni 2019, guna membahas rencana investasi tersebut, Palestina (Fatah dan Hamas) memboikot pertemuan itu.

Padahal semua negara calon donor, mengatakan siap hadir dan komitmen untuk membantu. Bahkan Israel pun bersedia membantu sumbangkan dana dan alih teknologi. Pertemuan Bahrain pun gagal. Malah Israel-UAE dan Israel-Bahrain yang teken perdamaian.

Semua negara-negara sponsor termasuk AS sepakat Palestina harus maju dan setara dengan Israel. Ternyata memang kesulitan ada di internal Palestina, karena antara Fatah dan Hamas terjadi konflik yang tajam. Mereka tidak pernah akur. Sepeninggal Trump rencana itu mandek. Presiden Joe Biden awal April lalu memang membantu dana sebesar US$ 235 juta atau sekitar Rp3,4 triliun. Sepertinya ini salah satu faktor terjadi konflik baru Israel-Palestina (Hamas). Israel protes, karena dikuatirkan dana terdebut tidak tepat digunakan untuk para pengungsi di Gaza. Hamas pun protes karena dana itu dikelola oleh pemerintah Palestina yg dikuasai Fatah.

Dulu di era Trump memang dana itu ditarik mencegah terjadinya friksi di dalam Palestina. Ternyata benar, konflik sekarang bisa lebih besar daripada konflik Israel-Palestina di tahun 2014 yang akhirnya merembet ke seluruh dunia dengan isu agama. Padahal isu itu tidak ada kaitannya sama sekali. Saya duga Hamas saat ini sedang dilanda krisis keuangan hebat, apalagi ekonomi di Jalur Gaza merosot tajam sejak lima tahun belakangan ini.

Hamas masih bisa bernafas karena keuangannya masih disokong Qatar, alutsistanya didukung oleh Iran, lalu sampai kapan Hamas tergantung terus dengan Qatar dan Iran? Karena semakin tersudut oleh serangan balik Israel dan ekonominya makin murat-marit, Hamas menghubungi Rusia, Mesir, dan Qatar agar turut membantu gencatan senjata dengan Israel. Namun Israel sudah kadung kesal dan memberikan jawaban, kalian yang memulai konflik ini dan menyerang kami, kalian pula sekarang ingin gencatan senjata.

Israel pun hingga kini belum menjawab tawaran gencatan senjata itu, dan tetap melanjutkan serangan militer kepada Hamas. Bahkan pasukan militer Israel (IDF), salah satu pasukan terbaik di dunia itu sudah di ujung perbatasan Jalur Gaza menunggu perintah untuk masuk Gaza City menyerbu Hamas.

Dalam negeri Amerika Serikat sendiri, bantuan sebesar Rp3,4 Triliun yang diberikan kepada Palestina oleh presiden Joe Biden awal April lalu, menuai protes, mulai mantan presiden Donald Trump, George Bush, para mantan jenderal dan jenderal aktif di Pentagon, senator, dan politisi. Menurut mereka bantuan itu akan melemahkan Israel dan dapat menimbulkan friksi dalam negeri Palestina sendiri. Atas berbagai pendapat tersebut Biden langsung memberikan pernyataan, Amerika Serikat adalah pendukung utama Israel dan tak akan meninggalkan Israel dalam situasi apapun.

Tapi konflik Israel-Hamas terlanjur meluas ke seluruh dunia dengan berbagai macam gorengan dari berbagai sudut pandang agama yang ada. Semua orang akhirnya berduyun-duyun menjadi ahli kitab, dan lupa perdamaian adalah tujuan utama dari konflik itu. Padahal dunia butuh pulih dari pandemi Covid-19. Itu esensinya. Perang bukan pilihan.

 

 

Penulis adalah Pengamat Politik Luar Negeri

Komentar

Jangan Lewatkan