oleh

Mencintai Papua, Mencintai Kemanusiaan

-Opini-387 views

Oleh: Setyo Budiantoro

Mungkin, Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah presiden yang paling memperhatikan Papua. Hari ini, Jokowi akan membuka acara Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Jayapura. Memperhatikan Papua, mengingatkan saya pada tulisan refleksi “perjalanan spiritual” ke Eropa dan Papua. Juga tentu saja, harapan besar pada anak-anak muda di Papua dan peran teknologi informasi.

Perjalanan Spiritual ke Eropa dan Papua

Saya beruntung pesawat yang saya tumpangi terlambat di Doha (Qatar) dalam perjalanan dari Jerman ke Indonesia. Artinya, saya dapat fasilitas hotel di Doha untuk menunggu pesawat lainnya ke Jakarta. Menikmati fasilitas hotel yang “wah” dan makanan Timur Tengah yang ternyata enak sekali. Namun, bukan itu sebenarnya yang membuat saya exciting.

Hal yang menakjubkan adalah terlihat modernnya kota Doha, saya berkesempatan mengamati mobil-mobil mewah berseliweran, keteraturan, museum dan terang-benderangnya kota. Mungkin sekitar 30-an negara sudah saya kunjungi di 6 benua, namun tak pernah terlintas di pikiran saya untuk mengunjungi Qatar atau negara-negara Timur Tengah. Saya terus terang khawatir dengan konflik yang sering terjadi, kalau sudah cukup damai dan terbuka mungkin akan segera masuk daftar saya. Sungguh beruntung saya tiba-tiba bisa “terpaksa” sampai di Qatar, negara terkaya di dunia.

Qatar menggenapi “perjalanan spiritual” saya beberapa waktu lalu, sekitar dua minggu menelusuri pinggiran Jerman, Perancis, Belgia dan Luxemburg. Mungkin bagi “wisatawan konvensional”, hal yang menarik adalah spot-spot indah dan terkenal. Tentu saya tertarik dan sebagian juga seperti itu, namun hal yang lebih menarik perhatian saya adalah mengamati areal pertanian yang begitu luas seperti tanpa batas, peternakan sapi yang luas dan efisien, kincir angin listrik sepanjang jalan bebas hambatan, solar panel yang luas dan juga di atap rumah, obsesi mengurangi emisi dengan lintasan listrik jalan untuk truk-truk besar, benteng dan perumahan yang didukung pertanian sudah tertata rapi sebelum tahun 1000-an, sungguh menakjubkan.

Lalu museum sains dan teknologi, serta museum BMW, sebuah evolusi dan revolusi keteknikan serta sains yang penuh passion dan semangat serta menjadi spirit Jerman (uber alles). Lalu juga museum peradaban Eropa di Belgia, perjalanan pahit getir Eropa yang penuh konflik hingga perang dunia 2 yang traumatis dan memaksa perdamaian, berkembang menjadi negara-negara yang modern dan beradab, serta seperti menanyakan akan kemanakah Eropa ke depan. Di depan museum ada poster besar tulisan dengan 4 bahasa, “Eropa mempunyai tugas menjadi contoh demokrasi dan penghormatan pada hak asasi manusia”. Lalu yang membuat terkesan dari Luksemburg adalah tagihan harga makan siang yang lumayan.

Qatar dan negara Eropa terutama Luksemburg adalah dua negara terkaya di dunia (versi PPP dan nominal). Dua negara ini tiba-tiba terbayang. Pendapatan per kapita Luxemburg mendekati 30 kali lipat Indonesia, tak mengherankan saya merogoh kantong yang cukup dalam. Qatar juga tentunya, untung dapat fasilitas gratis.

Kilatan memori perjalanan beberapa bulan lalu ini begitu cepat berkelebat muncul, ketika saya berkesempatan mengikuti acara di Papua dan Papua Barat. Perjalanan ini tampaknya menjadi “perjalanan spiritual” yang lain. Kesempatan ini tentu saja saya pergunakan untuk mengamati kehidupan masyarakat di sini. Mungkin ini perjalanan yang terlalu singkat memberikan gambaran, tapi biarkanlah subyektifitas ini.

Biaya hidup di Papua/Papua Barat mungkin juga tidak murah dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia, karena bahan pangan agaknya cukup banyak “diimpor” dari pulau lain. Namun, yang menyentuh hati adalah mama-mama yang berjualan pinang ditumpuk kecil-kecil, pisang, ikan, jambu biji besar, sagu, mangga, dll yang dijual dengan jumlah tak seberapa. Harga ikan begitu murah disini, ikan tuna besar yang beratnya kira-kira satu setengah kilo hanya dijual 50 ribu, yang lebih besar dan besar sekali 60 ribu dan 100 ribu. Minggu ini di rumah saya pesta makan ikan tuna. Pinang lupa saya tanyakan, namun saya dapat informasi djual sekitar 5-10 ribu.

Berdesir saya tiba-tiba malam-malam teringat “perjalanan spiritual” saya ke Eropa waktu lalu dan kini di Tanah Papua. Sebenarnya mungkin tidak tepat bila dibandingkan, karena Eropa Barat memang jauh lebih maju dari pada wilayah Indonesia pada umumnya. Namun, hati dan perasaan bukanlah logika. Sungguh kontras perbedaan dunia ini. Malam terasa sangat panjang, matapun jadi sulit terpejam.

Paginya tak mengherankan, acara yang saya pandu penuh dengan ungkapan kegelisahan, cerita yang menyentuh hati dan kemarahan. Tentang kesehatan yang buruk, kampung-kampung tanpa guru, kualitas hasil pendidikan, dll. Memang banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan di Tanah Papua untuk pembangunan. Semoga gotong royong semua pihak akan segera mengakselerasi pembangunan.

Akan tetapi, ada hal yang sungguh melegakan hati yaitu pas acara untuk anak muda. Di Jayapura, dari target paling tidak sampai 100 orang namun yang datang sekitar 300 orang. Panitia awalnya kesulitan meng-handle peserta karena antrian yang panjang dan kapasitas kursi yang terbatas, ketegangan sangat terasa. Untunglah hal ini segera bisa diatasi, peserta ternyata berjubel berdiri tanpa keberatan.

Acara tersebut dishare melalui social media, sungguh luar biasa ternyata yang datang ini jauh lebih banyak dibandingkan di 6 provinsi lain di Indonesia. Sharing dari anak muda yang menginspirasi juga salah satunya menggunakan social media (youtube) untuk mengembangkan pariwisata dan kerajinan. Mereka juga belajar dari internet. Sungguh luar biasa teknologi informasi dan anak muda ini. Internet mengatasi persoalan geografis dan keterisolasian. Siapapun bisa belajar.

Apa yang disampaikan anak-anak muda di tanah Papua tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang disampaikan di daerah-daerah lain. Anak-anak muda ini adalah energi dari kemajuan.

Gojek (Go Food)/Grab ternyata juga sudah merambah tanah Papua. Mungkin pasar virtual (online market) juga akan bisa mempercepat dan membantu mendorong kesejahteraan dan ekonomi Papua. Dunia digital akan mendorong perubahan. Saya jadi teringat tulisan saya 16 tahun lalu (https://bit.ly/3mgPYux) tentang mengatasi “digital divide”, bila ini sudah dijalankan dari dulu, mungkin akselerasi pembangunan di daerah terpencil dan terisolasi lebih bisa dipercepat.

Komentar

Jangan Lewatkan