oleh

Menggugat Sistem Pendidikan Dasar di Masa Pandemi Covid-19

-Opini-576 views

Oleh: Petrus Plarintus

Sudah dua tahun lebih negara kita dan bahkan seluruh dunia dilanda pandemi Coronavirus disease 2019 (Covid-19). Sudah dua tahun pula berbagai upaya sudah dilakukan oleh berbagai pihak untuk bisa keluar dari gempuran pandemi covid yang tidak hanya mengancam kehidupan nyawa manusia tapi serentak dengan itu merubah berbagai tatanan kehidupan sosial.

Pandemi covid dengan ini membangun kesadaran baru bagi manusia bahwa berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang merupakan capaian spektakuler manusia di abad ini, ternyata tak berdaya sama sekali untuk mengurai dan bahkan memutus mata rantai persebarannya.

Belakangan ini, disebagian besar media masa kita temui bahwa ada begitu banyak kritikan dan saran menyangkut kebijakan yang diambil oleh pihak terkait dalam mengatasi pandemi covid ini.

Dari sekian banyak kritik dan saran tersebut, ada yang bernada sinis, provokatif namun ada juga yang bersifat reaktif dan konstruktif.

Patut diakui, bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, sebuah keputusan yang bersifat umum tidak mungkin bisa memenuhi keinginan dan selera setiap orang. Apalagi kalau di balik keinginan dan selera pribadi tersebut tersembunyi niatan dan agenda tertentu.

Namun pada kesempatan ini, setelah melihat sistem pembelajaran yang berlangsung di lingkungan pendidikan dasar selama masa pandemi, saya ingin memberikan beberapa catatan kritis berdasarkan hasil pengamatan dan keluh kesah dari sebagian orangtua murid.

Sistem daring yang selama ini menjadi model pembelajaran selama masa pandemi, hanyalah perubahan istilah saja. Bahkan hanya sekedar memindahkan tempat belajar anak dari ruang kelas ke ruang belajar anak di rumah. Materi belajar umumnya masih sama, dengan target terselesaikannya materi belajar sesuai dengan bahan ajar yang sudah dipersiapkan.

Sistem belajar daring ini sangat menuntut keterlibatan orangtua siswa agar proses belajar bisa berjalan. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana kalau orangtua siswa adalah orang kantoran yang harus bekerja setiap harinya. Tentu hal ini sangat merepotkan.

Orangtua harus tetap bertanggung jawab terhadap biaya pendidikan yang tetap dibayar normal, ditambahkan lagi dengan biaya untuk beli paket internet dan disibukan pula dengan mendampingi atau lebih tepatnya mengerjakan tugas anak yang sangat banyak yang diberikan oleh pihak sekolah (guru).

Tidak heran kalau nilai evaluasi atau ujian siswa umumnya baik karena yang mengerjakan adalah orangtua.

Namuan di sisi lain kualitas siswa akan mengalami kemerosotan yang luas biasa. Bukan tidak mungkin kalau anak siswa kelas tiga atau empat di lembaga pendidikan dasar belum pandai membaca, menulis dan berhitung.

Hal ini sangat mungkin karena fokus guru adalah terselesaikannya materi belajar sesuai program belajar yang sudah dipersiapkan; dan mengabaikan esensi dari pendidikan dasar itu sendiri yakni kemampuan membaca, menulis dan berhitung.

Sementara itu, masih ditemui di beberapa sekolah, keterampilan guru dalam mengoperasikan alat-alat digital yang masih sangat minim.

Hal ini yang menambah carut marut pendidikan dasar dimasa pandemi, yang kalau tidak segera disadari maka akan merusak masa depan dan mendegradasi kualitas pendidikan dewasa ini.

Oleh karena itu pihak terkait khususnya dinas pendidikan dan yayasan yang membawahi lembaga pendidikan harus lebih responsif terhadap problematika yang seadang berlangsung di lembaga pendidikan dasar.

Pihak terkait perlu menyadari bahwa selain mengeluarkan kebijakan (blue print) mengenai metode belajar di masa pandemi; harus disertai juga dengan monitoring dan evaluasi agar kebijakan yang sudah digariskan tidak melenceng dalam pelaksanaannya.

Untuk itu, langkah pertama yang harus diambil adalah mempersiapkan tenaga pengajar yang adaptif terhadap perkembangan dunia digital, mempersiapkan fasilitas dan model belajar yang sesuai serta kurikulum yang cocok dengan situasi pandemi dewasa ini.

Tentu saja, belajar di masa pandemi tidak bisa disamaratakan dengan situasi normal atau pun situasi sebelum pandemi.

Situasi new normal memang harus menjadi model komunikasi dan interkoneksi dewasa ini. Namun konten dari model komunikasi tersebut juga harus menjadi esensi yang mendapat pertimbangan serius dalam setiap pelaksanaannya.

Bila tidak demikian, maka tidak ada bedanya dengan mengganti casing hand phone. Bagus di luar tapi keropos di dalamnya. (*)

Komentar

Jangan Lewatkan