oleh

Menulis adalah Berkorban

-Opini-324 views

Oleh: Isidorus Lilijawa

Saya mendapat pesan melalui whatsapp. “Pak Isidorus, terima kasih. Tulisannya enak dibaca.” Sambil mengirim tulisan saya yang terakhir tentang “mahalnya keteladanan”. Lalu ada pertanyaan, mengapa sekarang tidak menulis lagi (di koran)? Ini dengan Pak Theo Widodo. Demikian pesan itu.

Wah, senang sekali mendapat pesan tengah malam dari seorang tokoh ini. Saya menjawab, “saya tetap menulis om. Cuma sudah jarang dikirim ke media cetak. Sekarang zaman sudah bergeser ke platform online. Koran-koran oplah terus menurun. Sementara trend kekinian adalah media online. Nanti saya juga akan hadirkan tulisan-tulisan saya melalui youtube biar bisa semakin menjangkau banyak kalangan dengan efek yang lebih up to date.”

Kemarin siang, saya mendapat telepon dari seorang sahabat di Denpasar, Mario Kundus Bano. Beliau mengapresiasi berbagai tulisan saya dan mendorong segera memasuki babak baru di platform youtube. Kata beliau, menulis bukan sekedar peluang tetapi juga uang. Saya senang sekali mendapat pencerahan ini.

Sore hari kemarin saya lapor ke konsultan terselubung saya, bos boxcafe di Ende, ka’e Zarathustra. Saya mau serius memasuki platform youtube. Bagaimana jalan masuk dan rambu-rambunya. Beliau menjelaskan banyak hal praktis soal itu. Memang beliau sudah pakar. Saya agak gatek. Jadi kadang beliau ‘meremehkan kegatekan’ saya. Tetapi saya senang saja karena hanya dengan begitu kita bisa memiliki wadah kosong untuk dialiri wawasan baru.

Saya mendapatkan banyak pesan dukungan, apresiasi, ada juga pujian terkait tulisan saya. Ada yang menulis, tulisan saya berhasil memantik diskusi, diulas, dibahas, dikritik, dan memicu pro kontra di sosial media. Ada yang minta untuk dibagikan dan diteruskan. Bagi saya, ketika tulisan sudah dilepas ke ruang publik, itu adalah milik publik. Silakan dicerna dan dikelola sesuai kepentingan.

Tugas saya adalah terus menulis. Tugas yang lain mungkin terus membantah. Tugas yang di sana menganalisis dan mengkritik. Bagi saya itu lumrah. Itu risiko mau menulis dan mempublisnya di ruang sosial. Ada yang suka. ada yang alergi. Ada yang senang. Ada yang dongkol. No problem. Di situlah enaknya menulis. Ketika kata-kata kita bisa movere (menggerakkan), docere (mengajar), delectare (menyenangkan), dulce et utile (menyukakan dan berguna).

* * *

Namun, tidak banyak orang yang mengira bahwa menulis adalah berkorban (scriptura sacrificium est). Korban apa saja? Korban waktu, korban tenaga, korban pikiran, korban perasaan, mungkin juga korban uang.

Saya sering menulis ketika suasana rumah sudah terlelap. Ketika hanya lampu-lampu tidur yang bernyala. Saat teriakan si kecil sudah pergi. Saat hanya mendengar desiran angin malam. Pukul 23.00 ke atas hingga 01.00 adalah masa-masa saya menikmati mengalirnya kata-kata. Saya menulis dalam hening karena saat itu saya sangat peka mendengar ide. Ini adalah pengorbanan kecil.

Belum lagi harus meriset data. Membaca koran. Membaca informasi online. Ditambah tekanan urusan-urusan lain yang harus membutuhkan fokus, memilih malam sepi adalah jalannya. Saya menikmati pengorbanan ini. Bukan karena saya mengorbankan orang lain tetapi karena saya bisa mengorbankan diri untuk orang lain.

Saya pasti terus menulis. Karena menulis bukan untuk hidup melainkan hidup itu sendiri. Terima kasih untuk yang memberikan apresiasi. Terima kasih untuk yang mengirimkan kritik. Terima kasih untuk yang mau membagikannya. Saya hanyalah pemulung kata. Kata-kata ysng jatuh, yang tercecer dipungut, disusun dan ditata jadi makna. Jika tulisan itu madu, minumlah. Jika tulisan itu empedu, buanglah. Tapi ingat! Yang manis jangan cepat-cepat ditelan. Yang pahit jangan cepat-cepat dibuang. Mungkin saja yang pahit itu baik dan yang manis belum tentu berguna.

Komentar

Jangan Lewatkan