oleh

NTT, Kelor dan Stunting

-Opini-312 views

Oleh: Isidorus Lilijawa

Tanggal 30 September 2020 lalu, PT Moringa Organik Indonesia (MOI) yang mendukung program duet pemimpin NTT saat ini untuk menjadikan NTT sebagai Provinsi Kelor, buang handuk. Perusahaan asal Blora, Jawa Tengah itu mundur dari setelah berjalan beberapa bulan melakukan kerja sama dengan sejumlah keloris di NTT. Alasannya, mereka tak pernah mendapat kiriman bubuk kelor dari NTT sesuai perjanjian kerja sama dengan para keloris NTT.

Bukan cuma karena alasan itu saja. Menurut Dudi Krisnandi, direktur PT MOI, standar-standar produk kelor yang dipatok PT MOI tampaknya tidak bisa dipenuhi sejumlah keloris di NTT. Mereka memilih mundur karena perusahaannya sama sekali tidak memperoleh keuntungan, padahal biaya yang dikeluarkan tinggi. Terlalu banyak biaya, tapi tidak menghasilkan profit. Kelor asal NTT tidak memenuhi syarat (TMS) oleh BPOM. Standar produksi kelor PT. MOI sama seperti BPOM Kupang, tapi harus memiliki sertifikasi organik. Namun itu belum bisa dilakukan karena masih TMS.

Dalam pandangan Dudi, program kelor di NTT belum begitu tampak. Gubernur VBL dan Wagub JNS berkeinginan kuat, namun jajaran di bawahnya masih melihat program ini sebagai proyek. Lalu apa kata pemilik PT MOI ini? “Iya, harus simultan. Ini kan NTT gak jelas road mapnya. Padahal Pak Gubernur dan Pak Wagub berkeinginan kuat menjadikan NTT Provinsi Kelor. Tapi yang lainnya malah pada rebutan dijadikan proyek, bukan kerja sosial. Yang ada dalam pikirannya uang dulu, bukan kerja dulu. Kasihan Pak Gubernur dan Pak Wagub,” katanya (VN, 30/9)

* * *

Untuk sementara waktu memang kita perlu menahan diri dari mimpi-mimpi besar para pemimpin yang hendak menjadikan kelor NTT go global dan masuk pasar industri. Wacana ini ketika ditambah bumbu politik memang menggiurkan. Namun, pengalaman Dudi Krisnadi di atas adalah gambaran bahwa kita belum siap untuk itu. Menjadikan kelor go global dan masuk pasar industri besar masih perlu perjuangan panjang. Tentu harus ada nafas panjang dan jiwa yang besar.

Lalu yang realistis dengan kelor NTT itu apa? Biarkan kelor NTT tetap membumi dengan lokalitas NTT. Tidak perlu membuatnya melayang-layang dalam hembusan angin surga. Tanpa ada janji politik, kelor sudah menjadi sahabat orang NTT sejak dahulu kala. Sejak dalam kandungan ibu, banyak orang NTT sudah makan kelor. Kalau sekadar menjadikan kelor sahabat dapur yang setia, teman periuk dan tacu, tak perlu diajarkan itu kepada masyarakat. Otomatis mereka tahu. Karena itu biasa dan sudah terbiasa.

Yang perlu saat ini adalah memberi bobot pada kelor lokal kita. Bukan untuk masuk pasar industri. Kejauhan itu. Bukan juga hanya sekadar rutin masuk dapur. Tetapi bagaimana kelor bisa menguasai pasar cerebral, dapur pikiran kita sebagai nutrisi otak. Ini yang penting. Makan dan minum kelor itu sudah biasa. Tetapi menjadikan kelor lokal kita bervariasi dalam penampakkannya itu penting. Menjadikan kelor sebagai nutrisi otak, stimulan pertumbuhan fisik, sangatlah penting.

Dengan tidak masuk pasar industri pun, kelor kita tetap penting. Mengapa? Karena kita punya stunting. Kita tahu, sampai saat ini, dalam data riset, NTT menjadi provinsi dengan kasus stunting tertinggi di Indonesia dengan angka-angka yang terus menggeliat. Di sisi lain, meski pertumbuhan ekonomi dilaporkan meningkat, tetap saja, rata-rata rasio gini NTT dalam beberapa tahun terakhir tidak berubah signifikan.

Para ahli menilai stunting dan rasio gini yang meningkat adalah penanda bahwa indeks kesejahteraan masyarakat kita belum bisa dikatakan baik. Situasi kesejahteraan yang tidak terpenuhi akan menyisahkan ruang investasi bagi lahirnya aneka masalah lain seperti; tindakan kriminal, angka putus sekolah, buruknya indeks literasi, ketiadaan lapangan kerja, human trafficking, dll.

Pos Kupang, 16 Maret 2021 halaman pertama paling bawah menulis topik “NTT menuju zero stunting”. NTT saat ini menjadi provinsi dengan angka stunting tinggi yakni 24,2 persen. Wakil Gubernur NTT optimis dapat menekan dan bahkan menciptakan NTT bebas stunting salah satunya dengan terobosan memanfaatkan kelor sebagai sumber nutrisi utama. Optimisme Pak Wagub mestinya menjadi optimisme kita. NTT kaya kelor. Kita punya kelor. Seharusnya itu meniadakan stunting.

Hasil penelitian organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan agar bayi dan anak anak dalam masa pertumbuhan dianjurkan untuk mengkonsumsi daun kelor, karena berkhasiat untuk menjaga dan meningkatan kekebalan tubuh dan mencegah gizi buruk pada anak. Kelor mengandung 7 x vitamin C dari jeruk; terdapat 4 x kalsium pada susu, 4 x vitamin A pada wortel, 2 x protein pada susu, 3 x potasium pada pisang dan 15 x kalium pada pisang dan berbagai jenis asam amino esensial, vitamin dan senyawa anti oksidan lainnya yang sangat bermanfaat untuk kesehatan.

* * *

Beberapa tahun lalu, dalam sidang paripurna istimewa DPRD Provinsi NTT di Kupang, Gubernur NTT menyampaikan pidato perdananya. Saat itu kelor disinggung. Saya mengutip Savanaparadise (8/12/2018), Marungga atau kelor akan dikembangkan menjadi sumber devisa baru bagi Nusa Tenggara Timur. Kalau di Eropa, di Jepang, dikenal dengan revolusi putih minum susu putih, NTT ingin memperkenalkan kepada dunia revolusi hijau lewat marungga.

Kelor menjadi pohon masa depan yang diandalkan untuk mengatasi kekurangan gizi dan “stunting” yang mencemaskan. Tumbuhan kelor di NTT termasuk yang terbaik di dunia sehingga bisa membuatnya menjadi “emas hijau” yang akan bernilai ekonomi tinggi. Untuk itu, Gubernur Viktor mengajak masyarakat NTT menanam kelor secara massal sebagai tanaman produksi.

Diberitakan Savanaparadise, gubernur NTT juga menegaskan bahwa NTT harus punya minimal 1 juta pohon kelor yang dibudidayakan di wilayah NTT. Menurutnya, kelor di NTT merupakan Kelor endemik NTT yang memiliki jenis yang hampir sama dengan jenis pohon kelor di Spanyol, dengan cita rasa bau seperti daun pandan dan memiliki khasiat yang luar biasa untuk kesehatan, baik itu untuk merangsang kecerdasan otak, maupun mengobati berbagai macam penyakit lainnya termasuk untuk menghilangkan unsur narkotik dalam darah.

Kelor tak pernah ingkar janji. Ia setia dalam lokalitas NTT kita. Tidak saja di lahan tetapi juga dapur-dapur rakyat. Mimpi besar tentang kelor dengan jargon ‘revolusi hijau’ sudah dicanangkan di NTT. Mudah-mudahan mimpi besar ini bisa terwujud dalam road map yang jelas, tindakan terukur dan strategi yang simultan. Singkat kata, jika kelor tidak bisa mengobati covid, ia mesti bisa mencegah dan membasmi stunting. Anda optimis? Saya optimis karena kelor adalah NTT dan kita NTT. Salam revolusi (hijau).

 

Penulis adalah Warga Kota Kupang tinggal di Liliba

Komentar

Jangan Lewatkan