oleh

Nusa Terus Terang (NTT)

-Opini-506 views

Oleh: Isidorus Lilijawa

Kemarin saya ditandai dalam tautan yang dibagikan oleh Pastor Humberto Verbita perihal bantuan 30 unit panel solar dari Yayasan Steyler Mission milik Serikat Sabda Allah (SVD) di Jerman sana untuk 30 kepala keluarga di kampung Wukir Desa Sangan Kalo Kecamatan Elar Selatan Kabupaten Manggarai Timur – Nusa Tenggara Timur. Dalam postingan itu, pastor Humberto berharap mainstream media lokal dan nasional bisa memberitakan ini sebagai kabar baik. Dalam obrolan di FB itu, saya katakan Yayasan Steyler Mission sudah membantu agar Wukir yang di NTT bisa terang terus melalui 30 panel solar. Namun apakah pemerintah di NTT mau terus terang menyampaikan terima kasih karena sedikit tanggung jawab mereka sudah diambil alih? Itu soal lain. Tetapi saya yakin, jika Sabda sudah menjadi daging, maka ia berdiam di antara kita. Suatu diam yang aktif karena tentu menghasilkan buah berlimpah.

Wukir baru saja mengukir asa. Sejak menjadi daerah merdeka karena NKRI sampai saat ini, 30 kepala keluarga baru benar-benar merasakan kemerdekaan dalam arti sesungguhnya. Mereka baru rasakan merdeka dari kegelapan setelah bangsa ini merdeka 75 tahun. Peretas kemerdekaan itu bukan dari daerah dan negara sendiri, tetapi dari negara lain. Ini benar-benar spektakuler.

Pemerintah kita kadang omong di panggung kampanye berapi-api tetapi janji itu lekas hilang dan pergi begitu saja. Janji sejahterakan rakyat diumbar habis-habisan. Tetapi sampai periode jabatan habis, mereka sering tidak bisa bikin apa-apa untuk rakyatnya. Lihatlah di Wukir sana. Apakah mereka bukan rakyat NTT? Apakah mereka bukan warga Indonesia? Rasio elektrifikasi NTT masih rendah. Tetapi omongan pejabat melampaui gunung Nampar Nos. Listrik dibaptis pintar. Tetapi membiarkan rakyat merana dalam kegelapan, itu bukan pemerintah yang pintar apalagi bijak.

Kita memang tidak sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab kepada orang dari luar untuk membangun kampung kita. Kita sendirilah yang harus berusaha. Keyakinan inilah yang saya kira menggelisahkan salah seorang generasi muda Wukir yang sedang bermisi sebagai pastor di negeri Jerman. Pater Agateus Ngala, SVD berpikir keras bagaimana bisa membangun kampung jika pemerintah yang punya tanggung jawan belum terbangun nuraninya. Dalam koordinasi dgn tokoh umat, bapak Ferdinandus Rondong, dibuatlah proposal dan dikirim ke Jerman. Kebutuhannya satu saja, agar segera habis gelap dan terbitlah terang. Puji Tuhan, proposal dijawab dengan 26.399 Euro atau setara Rp 435.000.000 untuk pengadaan listrik tenaga surya sebanyak 30 unit panel solar.

Bantuan solar cell melalui Yayasan Styler Mission adalah bantuan dari Yayasan H.+W. Winkler di Jerman. Bantuan itu sudah tiba di Wukir. Warga patungan mengumpulkan dana untuk mendatangkan teknisi dari Surabaya. Panel-panel listrik itu sudah terpasang di rumah-rumah warga dan pastoran Paroki Wukir. Panel-panel listrik itu dipesan langsung dari perusahaannya di Surabaya. Saya bisa membayangkan bagaimana ekspresi kegembiraan warga Wukir setelah 75 tahun merdeka dan baru merasakan kemerdekaan sebenarnya saat menjelang malam lampu-lampu menerangi rumah-rumah mereka. Anak-abak bisa belajar dengan baik di malam hari. Kampung Wukir bukan lagi kampung yang mati di malam hari. Tetapi sudah ada tanda-tanda kehidupan yang bakal memicu tanda-tanda perubahan.

Rasio elektrifikasi di NTT belum 100 persen atau dalam kondisi mantap. Masih ada daerah yang belum terpasang listrik. Masih ada daerah yang belum merdeka dari kegelapan. Pemerintahan silih berganti. Wakil rakyat silih berganti. Tetapi kegelapan masih jadi langganan wajib. Lalu apa yang mereka-mereka itu buat? NTT: Nusa Terang Terus masih dalam perjuangan. Tetapi NTT: Nusa Terus Terang, ini yang kadang tidak jalan. Kita tidak berterus terang kepada rakyat apakah kita bisa menolong mereka atau tidak. Kita malah sibuk membangun jargon-jargon untuk meninabobokan rakyat. NTT bangkit NTT sejahtera itu salah satu indikatornya mesti ada listrik. Bagaimana mau bangkit kalau rakyat berkutat dalam kegelapan tahun demi tahun. Bagaimana mau berubah jika rakyat hanya punya modal ‘lampu pelita’ di zaman revolusi industri 4.0 ini. Kita pasti paham. Kalau listrik belum ada, dampak ikutannya pasti banyak. Salah satunya program cegah stunting bisa jadi tidak jalan.

Wukir sudah mengukir asa. Terima kasih banyak untuk orang-orang yang berkehendak baik. Bahkan yang jauh di Eropa sana. Terima kasih banyak Serikat Sabda Allah yang sudah banyak menabur, memberi dan membangkitkan. Terima kasih fasilitator kebaikan Pastor Teus, SVD. Untuk terang terus, kami di NTT sedang belajar untuk terus terang. Apa adanya. Tidak perlu pakai jargon-jargon segala.

Komentar

Jangan Lewatkan