oleh

Papua dan Penetapan KKB Sebagai Isu Terorisme

-Opini-513 views

Oleh : Oktavianus Baylon

Papua itu terkenal akan kaya sumber daya alam. Sumber daya alamnya yang membawa harum nama bangsa Indonesia di mata dunia. Burung Cenderawasih adalah salah satu instrumen yang membawa bangsa Indonesia menjadi salah satu kekayaan destinasi alam yang terunik di dunia. Papua menjadi titik buah kesenangan bagi dunia. Dunia telah mengaguminya dengan menjuluki cenderawasih sebagai salah satu keajaiban dunia. Sebagai warga negara Indonesia tentu bangga dengan hal itu.

Akan tetapi, ketika kita melihat sendi kehidupan lain di tanah Papua, lebih khusus pada periode akhir-akhir ini, begitu majemuk problem sosial di sana. Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) merupakan isu yang rentan terjadi di Tanah Cenderawasi ini. Tanah Papua telah menjadi titik responden utama bagi pemerintah  Indonesia. KKB di papua akhirnya dapat  setara dengan praktik teroris pada umumnya. Pasalnya, tindakan yang dilakukan  KKB adalah pembunuhan dan kekerasan. Tindakan semacam ini dikatakan setara dengan aksi para teroris, karena aksinya berupa kekerasan dan pembunuhan.

KKB yang terjadi di Tanah Papua tentu sangatlah mengganggu kenyamanan masyarakat di sana. Semua aktivitas bebas yang biasa dilakukan setiap hari sebelumnya, sekarang disekat dengan tembok kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan KKB. Tindakan kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan KKB di Papua, masyarakat sipil, TNI dan POLRI merupakan objek yang menjadi utama serangan dari kelompok ini. KKB berhasil menghantui masyarakat di sana dengan aksi kriminal mereka. Tindakan kriminal yang dilakukan KKB sangat berpengaruh buruk pada psikis, emosional dan mental masyarakat Papua.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua sebagai organisasi teroris. Penetapan ini tak lepas dari aktivitas KKB yang selama ini kerap melakukan pelanggaran tindak pidana, misalnya pembunuhan dan kekerasan secara masif nan brutal. Tindakan kelompok ini  telah mempuruk terhadap masyarakat di Papua. Hal ini dibuktikan pada Minggu (25/4/2021), Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Papua, Mayjen Anumerta TNI I Gusti Putu Danny Karya Nugraha gugur usia saat terlibat kontak tembak dengan KKB. Hal serupa pada (27/4/2021), seorang anggota Brimob Polri, Bharada Komang meninggal. Kemudian dua lainnya luka-luka usai terlibat kontak tembak dengan KKB. (kompas)-(Pos Kupang/30/4/2021).

Penetapan KKB sebagai teroris merujuk pada Undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang penetapan peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi UU. KKB yang marak terjadi di Tanah Papua membuat pemerintah menciptakan regulasi baru. Terakhir, ada Peraturan Presiden (Perpres) No 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme Berbasisis Kekerasan. Pepres ini diharapkan agar dapat menjadi instrumen yang ampuh dalam rangka mencegah dan memberantas aksi terorisme di Indonesia.

Publik dan pemerintah menduga apa motif sehingga KKB mampir di Tanah Cenderawasih, Papua. Sebagian publik menyakini bahwa tindakan kriminal dari Kelompok Kriminal Bersenjata yang terjadi pada masyarakat Papua bermula dari enam latar beragam motif yaitu, pertama, dendam pribadai karena kerabat atau orang tua. Kedua, motif  ekonomi, karena mereka umumnya pengangguran. Ketiga, menikmati eksistensi diri dan kelompok. Keempat, dimanfaatkan untuk menganggu lawan politik dalam pilkada. Kelima, menarik perhatian agar mendapat proyek bisnis. Keenam, dimanfaatkan sebagai bagian dari perebutan deposit emas.

Latar beragam motif di atas adalah semuanya masuk dalam air keruh problem sosial. Tidak salah itu terjadi di tanah Papua. karena papua itu, selain kaya akan sumber daya alam, kaya juga akan rentan masalah terpuruk sosial lainnya. Kemiskinan, politik, kekeluargaan dan pengangguran adalah problem yang nampak di mata publik. Perspektif penulis, Poblem Papua yaitu isu KKB juga disebabkan karena ada segelintir orang yang kontra-Republik Indonesia.

Segelintir mayoritas masyarakat Papua pro-Republik sedangkan sebagian minoritasnya kontra-Republik. Menteri Kordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko polhukam), Mahfud MD, mengatakan lebih dari 92 persen masyarakat Papua pro-Republik Indonesia. Hal itu disampaikan di tengah pengumuman atas penetapan status Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua sebagai teroris. Mahfud MD juga mengatakan, di luar masyarakat yang pro-Republik, ada segelintir orang yang melakukan pemberontakan secara sembunyi-sembunyi melalui organisasi KKB. Menurutnya , tindakan pemberontakan tersebut merupakan gerakan terorisme. “Ada beberapa segelintir orang yang melakukan pemberontakan secara sembunyi-sembunyi sehingga mereka melakukan gerakan separatisme dan kemudian tindakannya merupakan gerakan terorisme,” tegas dia. Ujar Mahfud MD dalam konferensi pers dikutip dari kanal Youtube Kemenko Polhukam, Kamis/29/4-(Pos kupang/30/4).

Respon Cepat dari Pemerintah

Demi menyelamatkan masyarakat Papua dari rasa ketakutan serangan tindakan kriminal oleh KKB, pemerintah harus meresponnya dengan cepat. Pemerintah segera bergegas dan terjun langsung ke objek yang terkena dampak dari serangan KKB di Papua. Jikalau tidak dilakukan sedemikian, maka kenyamanan masyarakat Papua berombang-ambing dengan rasa ketakutan. Kendati pun terjadi masyarakat bisa-bisa akan pro terhadap KKB. Dalam artian, mereka lebih memilih untuk bersama dengan KKB, jika KKB lebih dahulu dari pemerintah dalam merangkul masyarakat Papua ke dalam anggota mereka.

Pemerintah diharapkan agar selalu berkolaborasi dengan aparatur keamanan (TNI, Polri dan pihak keamanan lain) dan pemerintah daerah Papua beserta tokoh-tokoh masyarakat. Guna memberantas KKB di Papua. Dan semua jajaran pihak itu dituntut untuk transparansi dan kredibel dalam tugasnya sebagai keamanan. Sehingga publik dapat mengakui mereka sebagai subjek yang terpercaya.

Namun, patut diancung jempol terhadap usaha yang dilakukan aparat keamanan (TNI dan POLRI) yang dengan gigih memberantas tindakan kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan KKB di Tanah Cenderawasih, Papua. Meskipun nyawa mereka adalah taruhan  di atas permainan layang-layang dari tindakan KKB. Mereka rela berjauh dari istri, anak dan keluarganya demi menciptakan ketenangan dan kedamaian bagi masyarakat Papua. Oleh karena itu, semua pihak harus turut mendukung  semua program yang dirancang dari para aparatur TNI dan POLRI dalam rangka memberantas dan mencegah aksi kriminal yang dilakukan oleh KKB di Tanah cenderawasih, Papua.

 

(Penulis adalah Calon Biarawan/Imam Misionaris dari Kongregasi Scalabrinian)

Komentar

Jangan Lewatkan