oleh

Paradigma Mengenai Aksi Bunuh Diri di Manggarai

-Opini-415 views

Oleh: Florida Suryati

Saat banyak orang yang sedang merayakan kesemarakan hidup yang di dalamnya terdapat situasi saat menjumpai pelbagai keadaan eksistensial yang dialami manusia. Kesemarakan itu ditandai dengan adanya pengusahaan atas hidup maupun pada tingkat yang paling krusial adalah pengrusakan hidup itu sendiri. Namun malah pengrusakan hidup oleh segelintir orang yang tidak bertanggung jawab atas rahmat hidup malah menyia-nyiakannya. Bunuh diri adalah salah satunya. Kematian sebagai situasi batas yang untuk berziarah dalam dialami manusia yang sempat singgah di dunia membutikkan kesementaraannya. Lalu hidup yang dipercayakan kepada Allah sebagai asal segala sesuatu dan yang berkuasa atas segala ciptaan dapat menentukan hidup dan matinya seseorang. Lalu bagamana dengan seorang anak manusia yang dengan beraninya menentukan kematiaannya dengan mengambil jalan bunuh diri.

Fenomena bunuh diri yang kian marak terjadi di daerah Manggarai, menjadi salah satu contohnya. Kasus bunuh diri dalam berhadapan dengan berbagai realitas kehidupan tercebur dalam ketidakseimbangan untuk mempertahankan kehidupan dengang berbagai kopleksitas permasalahan di dalamnya. Dan juga akar ontologis dalam kasus bunuh diri adalah konsep dan pemahaman pelaku akan esensi diri yang minim. (Rio Nanto, “Bunuh Diri Sebagai Gambaran Kematian Rasio Dan Ketakutan Akan Diri Sendiri”, Fenomena Bunuh Diri, Vox, 63 (Januari 2017), p.40.).

Berikut beberapa telaah kritis atas fenomena bunuh diri, sebagai berikut.

Pandangan Moralitas Dekalog

Satu dari sepuluh perintantah Allah yang kelima jangan membunuh sebagai bagian dari hukum apodiktik. Dalam kalimat-kalimat apodiktik yang singkat dan langsung menyatakan elemen moral-religius yang ditekan secara tegas.(Paskalis Lina,S.Fil.,Lic., Moral Dekalog, Manuskrip. STFK Ledalero, 2016., p.12.). Larangan bunuh diri yang termaktub dalam dekalog dianggap sebagai suatu penyangkalan atas karunia hidup yang dipercayakan kepadanya dan martabat kemanusiaan yang dipercayakan Tuhan kepada setiap pribadi (bdk. KGK 2280).

Hukum dekalog yang dipatrikan pada dua loh batu dari Firman Allah membentuk kesatuan hukum dekalog (Ul.10:1-5; Kel.34:1-9). Hukum yang berasal dari Firman Allah itu menjadi pendasaran perilaku moral umat-Nya yang mempercayakan Yahwe sebagai satu-satunya Allah Israel-umatnya- begitu juga sebaliknya. Hal ini disebut sebagai perjanjian berith. Dalam perjanjian baru “firman” itu menjadi manusia dalam diri Yesus (inkarnasi). Jadi, tindakan bunuh diri bukan saja tindakan yang melanggar secara konsisten hukum dekalog tetapi juga penyangkalan akan kasih Allah dalam kelahiran, pewartaan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

Pelanggaran atas hukum ini adalah perbuatan dosa yang merubah cara kita mengalami batas hidup. Oleh karenanya dosa manusia telah membalikan arti hidup. Manusia tidak menjalakannya dengan penuh tanggung jawab terhadap dan syukur kepada Tuhan serta dalam sikap cinta kasih kepada sesama , melainkan orang berdosa “hidup untuk dirinya sendiri” (bdk. 2 kor.5:15).(Georg Kirchberger, Allah Menggugat: Sebuah Dogmatik Kritiani (Maumere: Penerbit Ledalero, 2007), P.290.). Kalau manusia menjalankan hidup dalam sikap dosa, maka kematian merupakan ancaman fundamental dan radikal, karena kematian mengosongkan tangan kita dan merobohkan identitas manusia sebagai pembangun kehidupan.(Ibid.)

Bunuh Diri: Sebuah Tindakan Immoral

Setiap tindakan yang diambil manusia mempunyai skemanya dalam bertindak. Hal inilah yang memungkinkan setiap manusia melakukan sesuatu dengan adanya motif dalam laku yang dibuatnya. Dalam kasus bunuh diri, pelaku tindakan tersebut yang mempunyai sebab yang memungkinkannya mengambil suatu keputusan untuk berbuat demikian.

Pengrusakan terhadap sudah bukan merupakan tindakan yang baik untuk dilakukan. Tindakan bunuh diri merupakan tindakan yang tidak bertujuan baik (in se) yang bertentangan dengan suatu kualitas tindakan yang selalu mengejar yang baik bagi hidup. Bonum est quod omnia appetunt, sesuatu yang bernilai baik (kualitasnya) yang kepadanya semua orang inginni, seperti melangsungkan kehidupan yang juga merupakan kecendrungan kodrati manusia (ius naturale).

Manusia yang berpikir bahwa setelah melakukan tindakan bunuh diri, ia dapat terlepas dari segala derita hidup yang ia alami selama masih hidup (finis operantis) adalah suatu yang salah dalam mengambil tindakan. Manusia dalam mengambil tindakan yang menunjukan tersumbanya rasionalitas dan kehendak yang tidak sempurna untuk dianut dalam pengambilan keputusan dan langsung sebagai niat yang diingini, kematiannya. Kedangkalan pikiran ini tentunya harus diubah, karena memang hidup selalu menyediakan potensi untuk selalu berubah.

Bila manusia adalah tuan dari segala tindakannya khsusnya yang relevan dengan penilaian moral, apakan tuntutan moral bisa dimintai dari pelaku bunuh diri yang sudah menjadi seoonggok mayat seperti saat seorang pembunuh dimintai pertanggungjawan moral?

Pelaku Bunuh Diri Sebagai Aksi Kaum Beriman/Beragama

Manggarai sebagai salah satu daerah yang penduduknya menganut iman katolik (sensus religiosus) terbanyak di Indonesia. Hal ini diperkuat lagi dengan hadirnya berbagai biara yang menyebar dimana-mana di daerah Manggarai. Dengan hadirnya begitu banyak biara religius banyak pula putra-putri Manggarai yang mengabdi dalam jalan panggilan religius dan sebagai imam. Panggilan sebagai seorang beriman yang memaknai manusia sebagai imago Dei ditandai dengan realitas capax Dei, sebuah kapasitas untuk masuk dalam relasi dengan Tuhan (Ferdinandus Sebo, S.Fil., Lic., Moral Dasar, Manuskrip. STFK Ledalero, 2017., p. 47.) melalui imannya.

Keadaan iman umat tidak didukungan oleh keadaan yang secara nyata menunjukan religiositas masyarakatnya dengan begitu banyak umat katolik serta biarawan-biarawati juga para imam. Realitas yang paradoks ini menunjukan kesenjangan yang begitu melebar.Walau asumsi yang mengungkapkan bahwa bunuh diri memiliki relasi dengan keimanan seseorang dapat saja dianggap keliru, sebab kejadian bunuh diri banyak ditemukan di negara-daerah- dengan populasi penganut suatu agama terbanyak.(Pengantar “Fenomena Bunuh Diri”, Vox, op.cip., p.ii.) Tindakan bunuh diri yang banyak ditemukan di daerah Manggarai, menunjukan bahwa perilaku umat yang berafiliasi dalam suatu ikatan agama secara nyata-praktis- nihil kesadaran dan implementasi norma moral keagamaan dalam imannya. Inilah yang biasa disebut sebagai “agama KTP”.

Bahwa manusia “harus” bertindak, itu melukiskan eksistensi manusia secara mendalam, karena tindakan manusia tidak hanya berkaitan dengan eksistensinya sebagai makhluk hidup, melainkan juga mencetuskan nilai-nilai manusiawi. Makna terminologi “harus” mengedepankan pemahaman bahwa tindakan manusia harus memenuhi syarat moral atau etis tertentu.(Dr. Agustinus W. Dewantara, S.S., M.Hum,   Filsafat Moral: Pergumulan Etis Keseharian Hidup Manusia (Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius, 2017), p.9.). Hal ini menandaskan bahwa setiap tindakan moral bukan saja bagian dari suatu kesadaran moral umat beragama secara eksklusif melainkan juga bagi setiap orang. Kemanusian setiap orang menunjukan keberadaannya yang mempuni untuk membentuk dirinya sebagai manusia yang bermoral. Peningkatan peran kaum religius maupun umat beriman (sebagai homo religiosus)-juga dari berbagai golongan agama lain- untuk mewujudkan sosialitas dalam mencintai kehidupan.  Kehidupan manusia juga dibentuk oleh pluralitas sosial yang membentuk dirinya. Manusia dibentuk oleh lingkungan sosial-agamanya juga.

Bunuh Diri: Tindakan Egoistis

Sikap egoistis adala pencetusan diri untuk menegasi yang lain. Bunuh diri sebagai sikap egoistis membangkitkan pengalaman akan dua sisi yang tajam, yaitu pengalaman saat kerabat ditinggalkan secara tragis lagi haru dan juga pengalaman disangkal keberadaaan yang lain karena sebab pemusatan hanya pada diri, egoistis. Kesendirian dan merasa sepi menjadi sebab munculnya pikiran yang berkecamuk. Sehingga berbagi pengalaman pahit hidup tidak bisa dibagikan kepada sesama sebagai jalan untuk menemukan jalan keluar. Bukan bunuh diri.

Actus humanus sebagai perlikau dalam cakupan moral identic dengan kehendak bebas. Pengalamaman eksistensial ini menentukan dirinya yang independen dan otonom dalam melangsungkan hak hidupnya, termasuk untuk menghabiskan nyawanya sendiri dan mencuri hak Tuhan atas kematiannya. Pola pikir yang hanya berpaut pada diri ini menimbulkan suatu kesenjangan yang mengakibatkan penyangkalan akan keberadaan yang lain, entah itu sesama manusia dalam lingkup yang paling akrab seperti keluarga ataupun Tuhan. Tindakan di sini dilihat sebagai manifestasi perealisasian diri. Egoistis -cinta akan diri sendiri- mengakibatkan banyak penyangkalan yang merusak. Hal ini diamini oleh Merloo yang menyatakan bahwa cinta -cinta yang berpusat hanya pada diri- bisa menjadi bentuk sublimasi tertinggi, sementara dan disisi lain kepemilikan yang dilakukan oleh dorongan itu sendiri sering mengarah pada pembunuhan dan perusakan diri (A.M. Krich (ed.), Anatomi Cinta, penerj. Nosa Normanda dan Dewi Anggraeni (Jakarta: Komunitas Bambu, 2009) p. 288. Hal ini mungkin juga bertalian dengan berbagai perealisasian tindakan cinta akan kematian, necrophilia.lih. Munawar Amin Maaruf, “Necrophilia Berbalut Agama”, Pos Kupang, Rabu 16 November 2016, p.4.).

Masalah yang dihadapi sebagai problem yang mengikat leher sehingga mencekik dengan ngerinya sehingga penghapusan segala kepenatan hidup dirasa selesailah sudah. Bunuh diri bukan saja penghabisan akan kehidupan dari si pelaku tetapi juga secara nyata meruntuhkan rasa kedekatan emosional yang tampak dari kerabat yang merasa sedih akan kepergian dan penyesalan dengan cara yang diambil untuk menghabiskan hidupnya. Adanya dialetika hidup untuk membangun komunikasi dalam setiap tindakan moral menjadi lebih baik. Karena dengan demikian terciptanya masyarakat yang prolife tentunya mengedepankan wujud keberadaannya bersama yang lain (ko-eksistensi). Demikian kebaikan bersama menjadi suatu bonum commune dalam mencintai kehidupan. Tetapi lebih baik bahwa moralitas itu tidak hanya berpihak pada kelompok komunitas yang sektarian tetapi lebih menekankan kecintaan moralnya untuk setiap manusia yang pada wajahnya mengisyaratkan bantuan dari sesama manusia (Emanuel Levinas).

Penghargaan Terhadap Hidup

Bunuh diri adalah suatu laku moral yang tidak diterima karena memang ia secara yakin tidak menghargai hidup apalagi memperjuangkan hidup. Penyangkalan atas martabat pribadi yang mereduksi pribadi menuju objek. Berpikir dan mempunyai niat untk bunuh diri saja sudah merupakan bagian dari dosa (bdk. Mat. 5:28), upahnya adalah maut, tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus (Rm.6:23). Allah tidak pernah meninggalkan manusia sendiri saat keputusasaan hidup menghampiri. Sehingga manusia patut untuk kembali merenungkan berbagai pikiran buruk untuk bunuh diri untuk bertobat mencari pengampunan sebagai seorang beriman.

Sosialitas yang berpihak pada kehidupan. Sehingga tidak terjadi begitu banyak pergesekan moral yang mengakibatkan berbagai tindakan buruk yang dialami. Selain karena semangat hidup yang kurang menggairahkan perlulah dukungan emosional dalam berbagi pengalaman pahit maupun pengalaman manis sehingga kehidupan yang komunikatif menjadi sesuatu yang terjangkau dan dapat meminimalisasi segala akibat buruk dari suatu tinndakan maupun pengambilan keputusan. Inilah yang membentuk keadaan atau situasi (circumstantiae) yang sehat, dalam lingkungan yang menjunjung norma moral. Sehingga pengungkapan diri dengan pemahaman reflektif kritis di hadapan kemajemukan pengalaman hidup yang kongkret-jamak akan memberikan penilaian yang membentuk perlakuan moral. Bunuh diri mungkin menuntut keberanian, tetapi hidup menuntut lebih banyak keberanian. (Simon dan Christoper Danes, Masalah-Masalah Moral Sosial Aktual: Dalam Perspektif Iman Kristen (Yogyakarta: Kanisius, 2000), p.159.).

Komentar

Jangan Lewatkan