oleh

Pengikrar Sumpah Pemuda 1928, Gen Z yang Melampaui Zamannya

-Opini-221 views
Spread the love

Oleh: Primus Dorimulu

Pendidikan di era Hindia Belanda mampu menghasilkan generasi emas di zamannya. Meski tidak mengenyami pendidikan di luar negeri, generasi Z (gen Z) pada masa itu berhasil menunjukkan sebuah mahakarya yang dikenang hingga saat ini dan bakal abadi selama ada Indonesia. Sumpah Pemuda yang diikrarkan 28 Oktober 1928 adalah sebuah milestone, tonggak sejarah penting menuju Indonesia merdeka.

Kongres Pemuda II yang digelar 28 Oktober 1928 dipimpin oleh Sugondo Djojopuspito yang waktu itu berusia 23 tahun. Rekan Bung Kano yang pernah sama-sama “mondok” di rumah HOS Tjokroaminoto, ketua Serikat Islam di Surabaya, hanya mengenyami pendidikan dalam negeri, tapi memiliki wawasan yang luas. Pria asal Tuban, Jawa Timur, itu pernah menolak jabatan yang ditawarkan Bung Karno dan memilih pensiun dini di usia 46 tahun. Ia memiliki “values” yang tidak semata-mata ada di jabatan publik.

Sebelumnya, Kongres Pemuda I, 30 April tahun 1926 di Batavia, dipimpin Mohammad Tabrani Soerjowitjitro, pemuda asal Pamekasan, Madura, yang saat itu berusia 22 tahun. Mestinya Sumpah Pemuda sudah bisa diikrarkan pada tahun itu. Tapi, pandangan Tabrani sebagai ketua Kongres Pemuda tidak sama dengan Mohammad Yamin, rekan seperjuangan yang saat itu diakui sebagai ahli bahasa.

Pada bagian ketiga dari Sumpah Pemuda, Yamin menulis, “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Melayu.” Tabrani menolak keras pendapat Yamin yang saat itu berusia 23 tahun. Ia meminta Yamin langsung menulis “…menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Langsung saja menyebut bahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu. Meski belum ada dalam realitas, Indonesia harus sudah ada dalam pikiran para pemuda. Pada Kongres Pemuda II, Yamin menjadi sekretaris, dan saran Tabrani pun menjadi rumusan yang disetujui oleh semua peserta:

Pertama, Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua, Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga, Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Pada Kongres Pemuda II, lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman diperdengarkan. Pada Kongres Pemuda I, WR Supratman berusia 23 tahun. Ia lahir di Desa Somongarui, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, 19 Maret 1903. Lagu Indonesia Raya yang diciptakan saat ia berusia 21 dinyanyikan di berbagai pertemuan politik, termasuk pertemuan partai politik, organisasi pemuda, dan organisasi masyatakat.

Umumnya, para pemuda saat itu bekerja sebagai guru dan wartawan. Tabrani, WR Supratman, dan Ki Hajar Dewantara, adalah guru dan wartawan. Profesi yang digeluti menuntut mereka untuk memikirkan nasib sesama yang terjajah dan menggalang semua kekuatan untuk mewujudkan Indonesia merdeka.

Kita percaya, kualitas gen Z saat ini jauh lebih hebat dibanding gen Z 93 tahun silam, generasi pencetus dan pengkrar Sumpah Pemuda. Gen Z saat ini hidup di era digitalisasi. Semua informasi mudah diperoleh lewat jaringan telekomunikasi. Dunia sudah ada dalam satu tenggaman ponsel. Sistem pendidikan pun sudah jauh lebih maju.

Namun, sebagai bagian dari generasi baby boomers, kita tetap menyimpan keraguan: apakah gen Z, mereka yang kini berusia 7-23 tahun, mampu menjadi generasi emas tahun 2045, saat Indonesia merayakan kemerdekaan ke-100? Pada tahun itu, gen Z saat ini akan berusia 31 hingga 47 tahun. Saat itu, merekalah pemimpin Indonesia, baik di sektor publik —pemerintahan, legislatif, dan yudikatif— maupun di sektor korporasi, dan masyarakat.

Syair lagu Indonesia Raya, antara lain, berbunyi, “…bangunlah jiwanya, bangunlah badannya…”. Yang harus dibangun lebih dahulu adalah jiwa atau karakter. Bung Karno memberikan penekanan pada “pembangunan karakter”. Berulang kali, presiden RI pertama itu menegaskan pentingnya, “National and character building.” Pendidikan Indonesia tidak cukup hanya ilmu pengetahuan dan teknologi atau iptek, tapi harus diimbangi oleh pembentukan karakter bangsa.

Mas Tok, sapaan akrab Guntur Soekarno dalam wawancara dengan penulis menyatakan, Pancasila kian jauh dari praktik hidup sehari-hari karena terbaikannya pendidikan karakter dan budi pekerti. Akibat terabaikannya pendidikan karakter dan budi pekerti, intoleransi meningkat. Persatuan bangsa mulai digerogoti oleh anasir-anasir yang mengancam persatuan bangsa.

Pada tahun 2045 masih ada Indonesia! Tapi, Indonesia yang bagaimana? Apakah Indonesia yang maju dan sejahtera di bawah dekap sayap Garuda yang menggenggam erat Bhineka Tunggal Ika? Ataukah Indonesia yang dikuasai oleh pendukung ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD? Inilah tantangan kita semua sebagai bangsa, bukan hanya gen Z.

Selamat Hari Sumpah Pemuda!

Komentar

Jangan Lewatkan