oleh

Pentingnya Dialog dalam Melawan Hoaks Vaksinasi

-Opini-515 views

Oleh: Vinsensius Manuin Metan

Program vaksinasi Covid-19 adalah kabar gembira di tengah hiruk-pikuk penanganan pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 lalu. Program vaksinasi ini mulai dilakukan pada Januari 2021 dan berlangsung hingga kini.

Seperti yang dilansir dari situs covid.go.id, vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen berupa mikroorganisme atau bagiannya atau zat yang dihasilkannya yang telah diolah sedemikian rupa sehingga aman, yang apabila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu. Sedangkan, vaksinasi adalah pemberian vaksin dalam rangka menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan dan tidak menjadi sumber penularan. Apabila seseorang tidak mendapatkan vaksinasi, maka otomatis ia tidak memiliki kekebalan spesifik terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi tersebut.

Ada tujuh jenis vaksin di Indonesia yang telah mendapat emergency use authorization (EUA) dari BPOM, yakni Sinovac, vaksin Covid-19 PT Bio Farma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer dan Sputnik V. Setiap jenis vaksin ini memiliki karakternya masing-masing, misalnya jumlah dosis dan interval pemberian.

Program vaksinasi Covid-19 bagi seluruh rakyat Indonesia adalah jalan keluar dari pandemi ini. Vaksinasi tidak hanya bertujuan untuk memutuskan rantai penularan penyakit dan menghentikan wabah, tapi juga untuk memusnahkan wabah itu sendiri.

Hal ini penting untuk diketahui dan disosialisasikan kepada banyak orang agar membuat masyarakat sadar dan mempercepat terjadinya herd immunity. Namun, di era sekarang ini, kabar bohong (hoaks) seringkali menyebar lebih cepat lewat telepon pintar daripada kebenaran yang sahih. Yang patut disayangkan adalah hoaks itu lebih gampang dipercaya. Kabar bohong yang dikonsumsi setiap hari, lantas dianggap masyarakat sebagai kebenaran.

Dalam situasi pandemi ini, masyarakat mengalami kecemasan sebagai akibat dari menyebarluasnya hoaks mengenai vaksinasi Covid-19. Misalnya, berita mengenai haramnya materi yang digunakan untuk menciptakan vaksin atau kabar bohong tentang orang-orang yang meninggal setelah menerima vaksin Covid-19. Ini menjadikan vaksin sebagai momok yang menakutkan bagi masyarakat. Kecemasan ini membuat masyarakat enggan untuk menerima vaksin. Para tenaga kesehatan yang telah disibukkan untuk menangani pasien Covid-19, masih harus direpotkan lagi dengan keengganan masyarakat untuk menerima vaksin.

Salah kaprah masyarakat dan disinformasi di tengah wabah yang parah ini hanya bisa diatasi dengan dialog yang mendalam. Ada beberapa pendekatan intens yang perlu dilakukan guna menyelamatkan masyarakat yang merasa takut dan minder untuk menerima vaksin. Pendekatan itu berupa: 1) pendekatan yang sifatnya mengajak, 2) pendekatan kekeluargaan, dan 3) pendekatan yang bersifat komunikatif (Le Bon: 2017).

Pendekatan yang bersifat mengajak dan pendekatan kekeluargaan sudah dilakukan selama ini oleh para tenaga kesehatan, pemerintah dan juga oleh pihak-pihak lain yang bertanggung jawab mensosialisasikan bahaya Covid-19 dan efektivitas vaksin. Namun, pendekatan dialogal komunikatif lebih mutlak digunakan berhadapan dengan situasi dilema dan kecemasan masyarakat mengenai Covid-19 dan program vaksinasi (cf. Ekawarna: 1954).

Pendekatan dialogal komunikatif dianggap lebih mutlak dan tepat karena dialog akan selalu mengesampingkan sikap atau karakter mengajar dan merasa diri benar dan juga komunikasi intensif mengenai suatu persoalan keluarga oleh orang-orang terdekat dalam rumah dapat menjadi dasar kekuatan dialog. Ukuran kesuksesan dalam melakukan komunikasi adalah kesadaran yang akan timbul dalam diri masyarakat. Kesadaran adalah buah keberhasilan komunikasi dengan masyarakat yang sebelumnya menolak vaksinasi Covid-19. Apabila telah ada pendekatan dialogal komunikatif sehingga memunculkan kesadaran masyarakat, maka dengan tahu dan mau masyarakat pasti akan mendatangi tempat pelayanan vaksinasi covid-19.

Keengganan dan ketakutan masyarakat untuk menerima vaksinasi adalah tantangan bagi pemerintah dan tenaga kesehatan, bahkan juga tantangan bagi mahasiswa untuk mampu mengedukasi masyarakat. Salah satu pihak yang dapat memberikan kontribusi dalam upaya pemahaman bagi masyarakat adalah mahasiswa yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Mahasiswa sebagai bagian dari agen transformasi masyarakat patut mengambil bagian dalam upaya pemerintah untuk mengatasi pandemi Covid-19 ini lewat vaksinasi. Melalui kegiatan KKN dan dengan pendekatan dialog bersama masyarakat, pemahaman keliru tentang vaksinasi dapat diatasi. Penulis sebagai mahasiswa KKN memilih menggunakan pendekatan dialog dari hati ke hati (deep dialogue). Dialog biasanya berguna sebagai manajemen konflik, tetapi pada saat berhadapan dengan situasi yang penuh kecemasan seperti pandemi Covid-19 ini, deep dialogue juga dapat menjadi pilihan yang tepat.

Masyarakat di wilayah Kuan Kefa, RT 021, RW 006, Kelurahan Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang mengalami efektivitas dari sebuah dialog. Survei yang dilakukan di wilayah Kuan Kefa melalui dialog tentang“Mengapa vaksin?”pada tanggal 10-14 Agustus 2021 menunjukkan adanya peningkatan warga masyarakat yang siap melakukan vaksinasi, padahal dalam pengamatan awal, sebagian warga masyarakat menolak divaksin. Setelah berdialog, ada pula yang tidak menjalani vaksinasi karena faktor umur dan penyakit bawaan lainnya yang tidak memungkinkan mereka untuk menerima vaksin.

Dialog mendalam adalah strategi komunikasi efektif untuk membawa teman dialog pada pemahaman yang benar mengenai sebuah tema yang didialogkan. Dalam konteks ini, pendekatan dialog mendalam dapat menolong masyarakat di wilayah Kuan Kefa untuk memahami kebenaran bahwa vaksinasi itu penting bagi kesehatan dan tidak mematikan seperti berita bohong yang beredar di masyarakat. Dengan demikian, masyarakat terdorong untuk mau divaksin demi kesehatan bersama.

Dari pengalaman dialog mendalam bersama masyarakat di wilayah Kuan Kefa, penulis menemukan bahwa masalah kecemasan masyarakat untuk tidak menerima vaksinasi dapat dipecahkan melalui komunikasi yang efektif, yaitu pendekatan dialog mendalam. Dalam dialog itu, penulis membeberkan pentingnya vaksin dalam usaha menyelamatkan semua orang dari bahaya Covid-19. Proses pemecahan masalah dengan deep dialogue membutuhkan sikap memberi dan menerima.

Pada akhirnya, tetap perlu ada kerjasama dari pelbagai pihak terkait untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya vaksin. Semua pihak, baik pemerintah, TNI, Polri, tenaga kesehatan dan lain-lain, termasuk mahasiswa, hendaknya bersinergi dalam upaya membangun kesadaran masyarakat agar menjalani vaksinasi tanpa kecemasan. Semua pihak hendaknya mampu memberi penjelasan memadai tentang vaksin dan pengaruh vaksin dalam melawan Covid-19 melalui deep dialogue. Dialog mendalam dengan pendekatan informal, kiranya mampu menyadarkan masyarakat tentang pentingnya vaksinasi.

 

Penulis adalah Mahasiswa Semester 8 Fakultas Filsafat Unika Widya Mandira Kupang

Komentar

Jangan Lewatkan