oleh

Perginya Orang-Orang Baik

-Opini-528 views

Oleh: Isidorus Lilijawa

Pandemi Covid masih terus berlangsung. Awan kelabu selalu menggantung di langit NTT. Provinsi yg terlanjur percaya dengan akronim NTT sebagai Nanti Tuhan Tolong, seolah-olah mati gaya karena Covid. Tuhan pun mungkin enggan menolong selagi urusan ‘melawan’ covid pun masih setengah sadar, kurang serius, anggap remeh bahkan apatis. Per 6 Pebruari 2021 data Covid NTT sebanyak 6.368 kasus positif. Dari jumlah itu, 3.245 orang sembuh, 159 orang meninggal dan 2.964 pasien positif yang menjalani perawatan di rumah sakit maupun karantina mandiri. Ini fakta, bukan ilusi. Masihkah kita meremehkan Covid dengan segala argumentasi dan urusan birokrasi yang berputar-putar?

159 orang yang meninggal adalah saudara kita, keluarga kita, sahabat dan kenalan kita. Kita mengenal, mengalami dan merasakan mereka sebagai orang baik. 159 orang baik pergi satu demi satu meninggalkan kita. Mereka pergi dalam kesunyian, kesepian. Bahkan dalam ‘ketakpantasan’ kebiasaan dan tata cara kita mengurus dan memuliakan orang meninggal. Dalam protokol Covid zona normal baru, orang yang meninggal karena Covid harus cepat-cepat dikuburkan, dalam makam yang seadanya, lokasinya jauh dari pemukiman, dibungkus peti mati sederhana, tanpa disaksikan, diratapi dan dilayat keluarga serta para sahabat. Orang-orang baik ini seperti momok menakutkan. Tidak boleh didekati tanpa pakaian astronot. Bahkan penghormatan terakhir dari orang-orang yang merasa memiliki, mencintai, membanggakan tidak mereka dapatkan.

Kematian orang-orang baik ini, yang dilarikan secepat-cepatnya ke kuburan khusus dengan raungan sirene kematian memunculkan banyak pertanyaan. Termasuk pertanyaan eksistensial (mendasar) ini. Mengapa Tuhan mesti cepat-cepat memanggil orang-orang baik ini kembali ke rumah-Nya? Mengapa bukan yang lain? Jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa hanya dengan kacamata manusiawi kita, apalagi kacamata minus tetapi mesti menggunakan mikroskop iman kita. Tuhan memanggil orang-orang baik ini karena Tuhan sayang mereka. Tuhan tidak mau terlalu lama mereka di dunia yang pada akhirnya bisa dipengaruhi oleh banyak kejahatan dunia. Tuhan sudah menyiapkan tempat bagi mereka di rumah-Nya. Mereka mendoakan kita dari keabadian. Dalam teologi kebangkitan, mereka yang meninggal tidak binasa. Badan mengalami kehancuran tetapi jiwa diselamatkan oleh Kristus yang sudah bangkit. Kematian tidak membinasakan, ia hanya mengubah hidup. Dalam iman Katolik yang saya imani, demikian.

Kepergian orang-orang baik tidak boleh menjadi suatu peristiwa biasa saja. Apalagi karena lonceng kematian itu berdentang setiap saat. Kematian itu tidak sia-sia. Kematian dengan cara itu ada maknanya. Jika kematian itu begitu menyakitkan kita, maka merawat kehidupan, menjaga dan menghormati kehidupan adalah keharusan. Nonsense jika kita takut mati karena Covid tetapi tidak taat protokol kesehatan. Juga omong kosong, tidak taat prokes lalu bilang nanti Tuhan tolong. Tuhan menghargai orang-orang yang berkehendak baik, bukan sebaliknya. Cara kita merawat kehidupan dalam masa Covid sudah jelas aturannya, 3 M hingga 5 M. Lakukan itu. Bila kita menjaga dan merawat kehidupan, kehidupan akan menjaga dan merawat kita. Itu saja rumusnya.

Di kota kami, ibukota Provinsi NTT, sirene ambulans meraung setiap hari. Itu tandanya ada lagi orang baik yang pergi. Kematian demi kematian terjadi. Banyak orang mulai mencemaskan ancaman Covid yang kian serius. Sementara masih ada yang melihat itu sebagai ajal belaka. Berbagai himbauan untuk taat prokes sudah dilakukan pemerintah. Namun, pencegahan dan penanganan yang tidak serius serta TSM (terstruktur, sistematis dan masif) malah menjadikan Covid seperti bola liar yang sulit terkendali. Berawal dari anggapan remeh bahwa Covid itu penyakit remeh temeh, yang bisa dihalau dengan hirupan minyak kayu putih dan minum tuak, saat ini kita memanen hasilnya. Orang-orang baik yang masih kita butuhkan, yang sangat berjasa bagi banyak orang, yang sangat dirindukan keluarga, pergi satu-satu dengan label gugur karena Covid.

Seorang rekan menulis status di FB demikian. ‘Kita yang kena flu saja sudah merasa demam, meriang, tidak enak badan, lebih baik ke mana-mana pakai masker karena Covid lebih jahat dari itu.’ Benar. Tubuh kita ini bagai bejana tanah liat. Mudah retak dan pecah. Kita bukan superman atau ironman. Kita mudah sakit. Jangan menantang Covid. Kita memang diminta berdamai dengannya tetapi bukan menjadi lengah dan terlena. Covid itu buta. Ia tidak memandang siapapun. Di kota kami yang namanya kota kasih ini, Covid belum ditangani dengan sepenuh hati. Kasih sering tak sampai dan cenderung tersesat di saat Covid tak pernah pilih kasih.

Mungkin masih ada yang bertanya apakah Covid benar ada atau tidak? Apakah ini hanya permainan politik? Apakah ini ekses persaingan dagang internasional antara Amerika dan China? Dan berbagai pertanyaan lain. Bertanya itu baik. Cikal bakal filsafat adalah bertanya. Tetapi seharusnya kita yang tidak mudah percaya ini sudah harus percaya seperti Thomas, yang percaya karena melihat. Apakah kita belum percaya 159 orang baik yang meninggal itu? Apakah makam-makam seadanya di tempat sunyi sepi itu belum membuka mata kita? Silakan anda meragukan Covid. Silakan melihatnya dari sisi politik ekonomi. Mau menilainya sebagai proyek atau bisnis, terserah. Tetapi yang tidak boleh terserah, pasrah dan silakan adalah diri kita, keluarga kita, orang-orang yang kita cintai menjadi korban Covid. Mungkin ketika itu terjadi di pihak kita barulah kita insyaf. Apalah artinya air mata berguguran jika tubuh menjadi jenazah berkalang tanah tanpa penghormatan terakhir para karib dan sahabat. 159 orang baik yang sudah pergi mesti menjadi tanda bahwa kematian mereka tidak boleh disia-siakan. Mereka pergi supaya kita sadar bahwa hidup harus dijaga dan dirawat.

Dari deretan 159 itu, saya mengenal baik beberapa orang baik. Bapak Felix Pulu dan bapak Soter Parera. Ini dua orang tua yang sangat berjasa bagi daerah dan bagi banyak orang. Mereka memotivasi dan menginspirasi banyak generasi. Mereka memfasilitasi banyak kebaikan. Kepergian mereka meninggalkan duka. Namun, mereka pasti bangga jika kita tahu merawat kehidupan ini agar kita tetap hidup. Saya mengenal dengan baik Pater Servulus Isaac, SVD dan Romo Bene Daghi, Pr. Keduanya adalah imam Tuhan gembala umat, dosen dan guru besar kami ketika di Ledalero. Apakah kita mau kematian mereka menjadi sia-sia? Saya kenal mama Pendeta Lory Foeh. Seorang pendeta yang suka bertani dan menginspirasi banyak pelayan jemaat dan jemaat untuk memberdayakan lahan pertanian agar dapur bisa mengepul, pasar bisa hidup dan mimbar dapat bergetar. Apakah kita merasa tidak penting peristiwa kepergiannya? Yang baru pergi, kakak dan senior saya Berto Lalo. Kami dari kampung yang sama. Beliau adalah harapan banyak orang. Menghubungkan banyak kepentingan agar kebaikan dapat difasilitasi. Seorang birokrat yang menggerakan banyak perubahan termasuk mengurus perbatasan Ngada dan Manggarai Timur. Apakah kepergiannya tidak menggerakan hati kita untuk semakin peduli pada kehidupan? Bila kita menyia-nyiakan kematian mereka, kita telah kehilangan sebagian teks dari panduan memuliakan kehidupan.

Komorbiditas. Ini memang kondisi yang membuat seseorang cepat terserang Covid dan pemulihannya tidak ringan. Komorbid adalah penyakit bawaan atau penyakit penyerta. Orang-orang dengan penyakit bawaan sangat rentan terhadap covid. Penyakit jantung, gula darah, kolesterol, darah tinggi, dan lainnya lebih cepat memicu orang -orang baik pergi meninggalkan kita. Kita mungkin merasa strong dengan stok imun yang full, tetapi harus ingat orang-orang terkasih di rumah yang komorbid. Jika kita orang baik, maka tidak cukup menjaga dan merawat kehidupan sendiri tetapi haruslah peduli pada hidup dan kehidupan orang lain. Ketika orang-orang baik satu demi satu pergi, kita mesti terus menjadi orang baik dengan peduli pada kehidupan kita dan orang lain.

Nyawa tidak ada cadangannya. Tidak dijual offline apalagi online. Karena kita satu orang satu nyawa maka jagalah itu. Dengan logika ini pakai masker bukan hukuman. Menjaga jarak bukan kutukan. Mencuci tangan bukan permainan. Ini cara bertahan agar kita hidup, agar nyawa selamat, supaya kita terus bergiat. Covid mungkin masih dibilang hoaks. Tetapi 159 pusara itu bukan hoaks. Itu orang-orang baik yang pergi mendahului kita. Selamat jalan orang-orang baik. Kami terus belajar menjadi orang baik dengan peduli pada kehidupan, merawat kehidupan agar kehidupan kami dimuliakan.

 

Penulis adalah Warga Kota Kupang tinggal di Liliba 

Komentar

Jangan Lewatkan