oleh

Pertobatan Kaum Kristiani Sebagai Kesadaran Wabah COVID-19

-Opini-455 views

Oleh : Oktavianus Baylon

Relevansi dengan konteks kehidupan dalam satu tahun lebih terakhir, di abad ke-21 terutama sejak di akhir tahun 2019 sampai pada masa tahun 2021 ini, dunia sedang atau masih dilandai dengan kehadiran suatu problem  yaitu Covid-19. Kehadiran Covid-19 secara illegal ini sangat nampak mengganggu kenyamanan sendi kehidupan manusia. Manusia memang sudah menjadi objek atau sasaran utama dari serangan wabah Covid-19 ini. Serangannya dasyat yang melintasi begitu cepat kepada setiap raga manusia kemudian berdampak buruk terhadap psikis dan mental.

Masalah Covid-19 adalah masalah serius bagi dunia global, yang mana dapat mempengaruhi ke pelbagai  sendi-sendi kehidupan. Sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, politik, merupakan dampak buruk yang ternampak pada kehidupan global karena kehadiran epidemic (wabah) covid-19. Serangan wabah ini tanpa mengenal sisi kelemahan dari manusia. Dalam artian, manusia belum mempersiapkan kekuatan dalam diri ( power in self) seperti mental, psikis dan emosional yang matang untuk menghadapi dari kemampiran wabah covid-19 ini. Bahkan manusia tidak tahu dari mana dan sebab wabah ini bermula.

Meskipun sebagian publik meyakini bahwa kisah awal penyebaran Covid-19 bermula pada akhir 2019 ketika seseorang terjangkit virus corona dari hewan yang diperdagangkan di pasar Seafood Huanan, Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Kisah tersebut kemudian berkembang menjadi tragedi memilukan dalam sejarah umat manusia era kiwari. Bermula dari infeksi di Wuhan, Covid-19 kini telah menyebar secara global dan menewaskan banyak orang.

Indonesia pun sebagai salah satu dampak dari wabah ini, berdasarkan data dari pihak satgas gugus tugas penanganan Covid-19 pada rabu,14 April, 2021 terdapat 1.589.359 jiwa dinyatakan positif terinfeksi. Sementara yang meninggal sebanyak 43.073 (LIPUTAN 6).

Jika manusia merupakan objek utama dari serangan wabah Covid-19, sejatinya, manusia juga yang berperan utama dalam mengendalikannya. Dalam menekan kencangnya roda penularan Covid-19, tidak mudah untuk semua pihak mengupayakannya.

Meskipun banyak upaya keras yang dilakukan baik dari pemerintah maupun masyarakat, tidak akan membuat wabah ini bertuntas. Sebagai salah satu upaya berdasarkan perspektif penulis yaitu, menekan penularan wabah Covid-19 ini, semua pihak perlunya menstransisi pola pikir dan kesadaran yaitu kembali kepada kekuasaan  dan hukum Tuhan yang Dia sebagai penguasa.

Paus Fransiskus  merayakan Hari Bumi dengan kembali mengingatkan kepada jemaatnya soal perilaku manusia terhadap alam dan Virus Corona sebagai dampaknya. Menurut Paus, pandemi yang terjadi saat ini dan bagaimana efeknya membuat kembali segar adalah perhatian lebih harus diberikan kepada kondisi alam. “Saya mengapresiasi langkah-langkah aktivitas lingkungan hidup. Penting bagi mereka yang untuk turun ke jalan dan mengajari kita semua bahwa tidak akan ada masa depan apabila kita tidak memperlakukan alam dengan baik”, ujar Paus di Vatikan sebagaimana dikutip dari kantor berita reuters, rabu, 22 April 2020 (TEMPO.CO, Jakarta)

Paus yang berasal dari Argentina itu, mempertegas pesannya dengan mengutip peribahasa Spanyol. Ia berkata, Tuhan selalu mengampuni manusia, manusia terkadang mengampuni sesamanya, namun alam tidak pernah mengampuni. Dengan kata lain, jika kita memperlakukan alam dengan buruk, maka alam akan membalasnya dengan cara yang buruk pula. Pandemi Virus Corona, sebagaimana dikatakan Paus, adalah salah satunya. Paus bahkan berkata bahwa jika dirinya bertanya kepada Tuhan kenapa terjadi banyak sekali bencana tahun ini, Ia yakin Tuhan tidak akan memberikan jawaban yang mengenakkan. Sebab, kata Ia, manusia telah merusak hasil karya Tuhan yaitu alam dan bumi.

Kembali kepada kesadaran kita semua sebagai umat ciptaan Tuhan, sebagaimana atas wabah yang sedang dialami saat ini, semua pihak  perlu merefleksi diri atas ulah apa yang telah lakukan terhadap isi dari muka bumi ini terutama untuk alam. Secara sadar atau tidak kita telah membuat segala isi dan keadaan bumi pertiwi ini berkontras dengan ajaran Tuhan. Tuhan selalu membuka hati untuk kita apabila hendak bersedia mengaku dosa.

Hukuman Tuhan adalah hukuman tertinggi dari hukum kodrat manusia. Oleh karena itu, sebagai insan yang bertakwa kepada Tuhan, harus mampu tunduk di bawah hukuman itu. Situasi Covid-19 yang dialami manusia sekarang merupakan suatu kutukan nyata dari Tuhan. Situasi ini menyadarkan kita untuk kembali kepada Tuhan sebagai Dia yang berkuasa. Orang yang beriman akan Tuhan terutama bagi kaum kristiani tidak sepantasnya lupa akan ajaran-Nya.

Situasi Covid-19 mengajak kita semua lebih khusus kaum kristiani, untuk kembali kepada kekuasaan Tuhan. Dalam gereja katolik ada sakramen pengampunan dosa atau sakramen rekonsiliasi. Sakramen ini merupakan suatu momen manusia menyesali segala perbuatan dosanya dan segera untuk mengampun kepada belas kasihan Tuhan. Santo Ambrosius mengatakan bahwa dosa diampuni melalui Roh Kudus, namun manusia memakai para pelayan Tuhan (imam) untuk mengampun dosa. Para pelayan Tuhan tersebut tidak menggunakan kekuatan mereka sendiri; bukan atas nama mereka, tetapi atas nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Mereka meminta, dan Tuhan memberikannya. Imam sebagai kepercayaan Tuhan semestinya kita bersyukur dan meminta ke mereka untuk sebagai jalan kita  mengampun belas kasihan dari Tuhan atas segala dosa yang telah perbuat di muka bumi ini.

 

Penulis adalah Calon Biarawan/Imam Misionaris di Kongregasi Scalabrinian

Komentar

Jangan Lewatkan