oleh

Politik dan Filosofi Pening Manuk

-Opini-809 views

Oleh: Alfred Tuname

Politik itu soal kekuasaan. Karena itu, selalu ada saja usaha untuk merebut atau mempertahankan posisinya. Usaha politis itu tentu saja selalu melibatkan rakyat. Prosesnya, pemilihan secara demokratis.

Pemilihan yang demokratis bertujuan melahirkan pemimpin politik yang legitimate. Dalam pemilihan, pemimpin adalah orang yang menang secara sah dan meyakinkan. Karena itu, ia punya pengaruh kuat dalam mengontrol alur kebijakan. Pemimpin itu biasanya konsisten dalam ide untuk mewujudkan visi dan misi-nya.

Pemimpin yang konsisten dalam ide adalah pemimpin yang selalu hadir untuk membangun dan mensejahterakan masyarakatnya. Ia dipilih karena ide, karena itulah ia berjuang untuk merealisasikan ide. Ide itu tidak lain adalah perwujudan keadilan di dalam masyarakat.

Dalam merealisasikan ide sebagai political will itu, tantangan, biasanya, lebih menohok berasal dari lawan-lawan politiknya. Apalagi, bila political will itu justru bisa melorotkan posisi kekuatan lawan politik. Secara paradoks, kesuksesan kebijakan pemimpin politik akan menjadi duri di pikiran lawan politik. Lantas, lahirlah kritik.

Dalam demokrasi, kritikan itu baik. Tujuannya mengkaliberasi dinamika politik. Ada kritik yang setali dengan niat baik; ada kritik yang menubuh dengan konspirasi perebutan kekuasaan. Kritik yang baik, biasanya memacu adrenalin lingkar kekuasaan dan birokrasi dalam memaksimalisasi pelayanan publik. Itu demi perbaikan dan kebaikan bersama.

Kalau intensinya baik, kritik itu baik. Kritik itu “konsultasi gratis”. Itu baik bagi eksekutor kebijakan, baik pula bagi penerima manfaat. Artinya, setiap kebijakan itu tak berjalan sendirian, selalu ada yang memantau. Di sanalah abuse of power dapat dikendalikan.

Kritik yang berdarah konspirasi biasanya melahirkan resistensi. Kritik hanya menjadi isapan jempol dan basa-basi busuk apabila kritik itu bermata politis. Kritik seperti itu tidak bermula dari kebijakan publik tetapi hanya bersumber dari sentimen dan sakit-hati politis.

Bacalah redaksi atau komentar panjang di media (sosial): jika ada sarkasme pada bahasa, maka itulah simptom sentimen dari irasionalitas politik. Di sana terdapat kertak emosional dan ratapan elite yang haus tak berkesudahan pada kekuasaan.

Mungkin saja, politik itu dekat dengan definisi Otto von Bismarck: “ilmu tentang yang mungkin, yang dapat dicapai”. Dengan terus mengkritik secara sarkasme (:menghina, mengejek, memaki, dll), harapannya ada gerombolan orang akan bersimpati, dan siapa tahu berada dalam satu kolam emosi.

Mungkin juga, itu manuver politik. Dalam konteks kekuasaan, setiap simpul selalu punya arus berpikir sendiri; setiap posisi pasti punya argumentasi untuk “agresi” politik.  BJ Habibie juga benar soal ini.  Silakan mengkritik, itu hak (freedom of expression). Membalas kritik itu cukup dengan bekerja lebih maksimal.

Namun, dengan nalarnya, publik sudah bisa berpikir politis untuk melihat situasi yang ada. Dengan nuraninya, masyarakat pun bisa merasakan kemesraan politik antara warga dan pemimpinnya. Kemesraan politik tercipta karena relasi kebijakan, relasi pembangunan dan komunikasi sosial-politik berjalan dengan baik. Ada semacam “mutual understanding” antara warga dan pemimpinnya.

“Kesaling-pengertian” itu bukan berasal dari relasi patron-klien atau feodalisme, melainkan atas instrumental kebijakan yang memenuhi kebutuhan rakyat. Bukan itu saja, seorang pemimpin pun mampu bercakap-cakap secara akrab dengan rakyatnya. Bahasa yang digunakan adalah bahasa rakyat (diaologis, bukan imperatif) yang bisa dipahami secara bersama.

Relasi intimasi pemimpin dengan rakyatnya dapat digambarkan dalam filosofi “pening manuk” (bahasa Manggarai). Pening manuk adalah kebiasaan untuk memberi makan (feeding) ternak ayam. Biasanya, orang memberi makan ayam pada pagi dan sore hari. Dari kebiasaan itu, ayam akan mendekati tuannya pada pagi dan sore hari. Ayam pun tahu siapa tuannya.

Seekor ayam mendekat apabila tuannya memberi makan. Ayam tak akan mendekat apabila ia tak mengenal si pemberi makan. Ayam hanya akan mendekat jika si pemberi makan itu telah pergi.

Psikologi politik pun berlaku demikian. Rakyat hanya akrab (“jinak”) dengan pemimpinnya apabila ada komunikasi yang dialogis. Dengan sendirinya, rakyat akan lari (disobedience) apabila pemimpin sukar diajak berkomunikasi. Tentu saja ada respek, yang melahirkan rasa segan. Pemimpin yang peka tak akan menikmati rasa takut rakyat yang disangkanya segan.

Selain itu, rakyat mengenal pemimpinnya dari kebiasan kecil pelayanan publik yang baik. Pemenuhan kebutuhan dasar dan kemudahan akses terhadap kebutuhan itu membuat rakyat semakin dekat dengan pemimpinnya. Rakyat pun tidak akan pernah bosan terhadap pemimpin setiap hadir bersama rakyatnya dan menyediakan apa yang butuhkan rakyatnya.

Maka tidaklah heran bila ada fenomena akar rumput bahwa rakyat mengharapkan seorang pemimpin untuk terus hadir di tengah-tengah mereka. Jika ia seorang petahana (incumbent), misalnya, harapannya terus jadi petahana. Tetapi itu tidak mungkin. Seorang bupati, misalkan, hanya boleh dua periode kepemimpinan. Itu menurut aturan perundang-undangan. Itulah fenomena politik akar rumput yang sering terdengar.

Jika sudah demikian, setiap hujatan (hate speech) dan umpatan yang dituduhkan kepada pemimpin, tidak berpengaruh secara politis pada rakyatnya. Rakyat justru tutup telinga. Itu hanya dilihat sebagai tingkah seekor anjing pada saat “pening manuk”. Seperti seekor anjing hendak mengahalau ayam dan mengembat pakan ayam.

Selebihnya, rakyat justru semakin bersimpati pada sosok pemimpin itu. Sebab, rakyat sudah mengerti dan merasakan apa yang dibuat oleh pemimpinnya. Soal itu, memori politis rakyat tidaklah pendek. Bahkan ada semacam fenomena “political stockholm syndrome”, yaitu simpati dan pembelaan rakyat terhadap pemimpin yang jadi subyek “political bullying” (:hujatan dan umpatan)  dari lawan politik.

Akhirnya, jika ingin berpolitik, cakaplah membuat penghitungan. Tak cukup soal propobabilitas, politik juga soal proksimitas. Lalu biarkanlah yang membuat perhitungan. Sekian!

 

Penulis adalah Penulis Buku “ le politique” (2018)

 

Komentar

Jangan Lewatkan