oleh

Positif dan Negatif, Dua Kutub Simalakama 

-Opini-617 views

Oleh: Yoh. Joni Liwu, S.Pd

Sebuah istilah yang menjadi momok di masa pandemi Covid-19 ini adalah positif. Jika disematkan pada seseorang setelah mengikuti Tes Cepat Molekuler (TCM), polymerase chain reaction (PCR), maupun rapid test. Pemberitaan terhadap jenazah covid yang belum tentu kebenarannya semakin menakutkan masyarakat. Belum lagi mobil ambulans yang meraung tak tentu waktu dalam barisan mobil-mobil penghantar jenazah, menjadikan situasi hari-hari ini bak dunia hampir kiamat. Larangan berkumpul entah dalam hajatan keluarga juga beribadah turut pula memberi andil betapa covid itu cukup menyeramkan. Prediksi pakar epidemologi yang memperkirakan puncak covid pada pertengahan tahun ini, tentu lebih menuntut kesiapsiagaan seluruh bangsa. Mematuhi protokol covid adalah sebuah keharusan.

Kembali kepada gonjang-ganjing soal positif dan negatif. Tanda positif dan negatif yang  pertama adalah sebuah tanda dalam matematika, sehingga dapat disebut angka positif dan negatif. Bagi seorang siswa Sekolah Dasar (SD) misalnya, dikonkretkan dengan garis bilangan, kemudian titik tengah garis bilangan itu ditentukan dengan angka nol. Selanjuntya, semua angka yang berurutan di sebelah kiri itu adalah angka negatif. Sebaliknya, angka-nagka berurutan sebelah kanan adalah angka-angka positif. Suatu ketika, anak saya kemudian bertanya, mengapa di sebelah kiri itu negatif, atau dengan kata lain mengapa angka positif tidak berada di sebelah kiri. Agar jawaban tidak mengecewakan, saya hanya menjawab itu sebuah konsensus atau kesepakatan. Atau jika diingat-ingat pelajaran di masa SD, bapak ibi guru selalu mengajarkan bila angka-angka yang lebih besar dari nol itu positif, sedangkan lebih kecil dari nol itu negatif. Lalu rumusan itu tetap dihafal hingga kemudian seseorang baru memahami kebenarnya setelah dewasa.

Dalam hal penerusan keturunan misalnya angka positif dan negatif juga menjadi sebuah pergumulan. Sepasang suami isteri yang baru menikah yang hendak mempunyai momongan tentu tidak berharap jika tes kehamilannya negatif. Keceriaan dan kegembiraan menyelimuti sebuah keluarga jika ultrasonography (USG) dinyatakan positif. Positif dalam hal ini menyeringai lubuk hati, serasa penasaran seperti apa buah cintanya kelak. Oelh karena itu, bisa saja sepasang keluarga itu akan mempersiapkan segalanya, dari nama bahkan segala kelengkapannya. Tetapi bisa menjadi bencana atau malapetaka jika USG yang dilakukan itu negatif. Jika saja saling pengertian maka hasil USG yang negatif tidak merunyamkan kebahagiaan keluarga, sebaliknya berupaya secara medis atau lainnya agar mereka bisa memperoleh keturunan.

Dalam konteks komunikasi sosial hampir sering kita mendengarkan rumusan dampak positif atau dampak negatif. Orang cenderung mengambil hikmah dari sesuatu atau sebuah perilaku yang berdampak positif dibanding negatif. Lebih jauh, dengan mengetahui dampak negatif setiap orang akan meminimalisir sikap atau perilaku yang berdampak negatif. Atau dengan kata lain, dampak negatif sangat tidak nyaman bagi siapa pun jika itu merupakan hal ikutan dari ikhtiar yang dilakukan seseroang atau sekelompok masyarakat.

Lain halnya  jika kedua istilah itu disematkan pada Covid-19. Siapapun orangnya sangat berharap jika tes molekuler (RNA atau PCR) anitgen, atau antibodi menunjukkan negatif. Terlepas dari berapa lama hasil yang diperoleh dari tiga jenis tes tersebut, orang sangat berharap jika hasil tes negatif. Siapapun tentu tidak ingin jika hasil tes itu positif. Sebenarnya bukan soal jenis virus ini bisa terobati, tetapi bahwa stigma seseorang terinfeksi corona virus itu berujung pada kematian maka hampir dipastikan pasien hari-hari ini lebih memilih berdiam di rumah dibanding berobat ke rumah sakit. Bahkan terhadap pasien sekarat sekalipun keluarga tak berkehendak mengobatinya ke rumah sakit. Sungguh memilukan, walau sebenarnya jika ke rumah sakit akan mendapat perawatan lebih intensif.

Situasi hari-hari ini di kala jenazah yang dinyatakan covid sebelum hasil tes diketahui semakin merunyamkan. Masyarakat berasumsi jika seorang pasien dirujuk ke rumah sakit pasti di-covid-kan, belum lagi jika pasien itu memiliki penyait bawaan semisal asma. Asumsi-asumsi ini mengerucut kepada ketidakpercayaan kepada petugas kesehatan sampai pada asumsi jika Covid-19 dipolitiasi. Hal itu hingga berujung pada ketidakpercayaan masyrakat untuk divaksin.

Berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI, WHO, dan UNICEF pada 12 November 2020 dengan total responden 115 ribu, mendapati sebagian besar (53 persen) masyarakat percaya kepada tenaga medis dan tenaga kesehatan dalam mendapatkan informasi terkait vaksinasi. Dari  data tersebut dapat pula dijelaskan bahwa sekitar 47 persen masyarakat tidak percaya kepada tenaga medis. Pemerintah melalui dinas terkait tentu berupaya semaksimal mungkin memberikan pemahaman saksama tentang vaksin. Tidak saja dengan memberi perintah atas dasar peraturan tetapi sosialisasi dengan metode-metode persuasif agar masyarakat dapat divaksin.Sebagimana survei yang dilakukan Reuters (kantor berita yang bermarkas di London) pada 4 – 21 Januari 2021. Dari 470.000 respoden di seluruh dunia, disimpulkan bahwa Secara umum, kebanyakan orang mulai mempercayai khasiat vaksin. Dua pertiga di antaranya menyatakan keyakinan kuat atau sedang. Sementara 12 persen lagi mengaku tidak percaya sama sekali. Dua pertiga lainnya meyakini secara penuh bahwa vaksin penting untuk kesehatan mereka.

Kita pun bisa mengurai dampak positif. Secara sederhana, setiap orang dibiasakan mencuci tangan. Anjuran mencuci tangan sebelum masa pandemi ini malah menjadi bermakna di masa kini. Setiap rumah selalu menyiapkan air untuk mencuci tangan, dan ini tentu merupakan hal yang sangat positif. Semua orang selalu menjaga jarak ketika berkomunikasi. Bukankan itu pun sebuah kesantutan yang patut dipertahankan. Yang agak janggal  yakni harus bermasker saat berkomunikasi, tetapi untuk mencegah virus karena droplet atau cairan air yang terpercik saat berbicara semakin menyadarkan orang bahwa masker itu sarana yang penting di mana pun kita berada.

Beberapa hal lainnya seperti social distancing juga berdampak pada menurunnya gangguan ispa pada anak-anak. Gangguan ini meliputi influenza, parainfluenza, respiratory syncytial virus, and human metapneumovirus. Karantina memungkinkan penerapan social distancing yang menurunkan risiko terinfeksi gangguan pernapasan. Penurunan juga disebabkan anak-anak dan keluarganya menerapkan usaha pencegahan dengan sangat baik. Usaha ini meliputi rajin cuci tangan, menjaga kebersihan pribadi, dan membatasi waktu ke luar rumah.

Ada pula perubahan perilaku kaum remaja dalam sebuah keluarga. Kebiasaan bepergian ke luar rumah menjadikan mereka lebih mencintai rumah sendiri. Bukan tidak mungkin kehangatan keluarga semakin terbina karena selalu memilki waktu bersama. Anak-anak dalam keluarga semakin merasa memilki rumah sebagai tempat berlindung, menuai kasih sayang.

Barangkali pula serangan Covid-19 mengkampanyekan tentang hidup bersih sebagai pangkal kesehatan dalam kehidupan setiap hari, disiplin terhadap aturan, pemulihan terhadap kharakter dan nilai luhur bangsa. Pandemi covid mungkin pula bukan racikan peristiwa dunia tetapi memviralkan sesuatu yang dahsyat bagi masa depan sendi-sendi kehidupan manusia. Boleh jadi pandemi virus masa kini akan melahirkan jejak baru kebudayaan bangsa dan masyarakat dunia membangun peradaban baru.

 

(Penulis, Guru di SMP Negeri 13 Kota Kupang)

Komentar

Jangan Lewatkan