oleh

PPKM dan Matinya Rasa Solidaritas dan Keteladanan Pemimpin

-Opini-644 views

(Sebuah catatan kritis atas kerumunan di Pulau Semau)

Oleh: Petrus Plarintus

Beberapa hari belakangan ini, jagad media sosial di Flobamora gencar memberitakan acara keramaian yang terjadi di pulau Semau (27/8).

Momen tersebut memang tidak bisa luput dari pantauan media, karena dalam acara tersebut dihadiri oleh para pejabat penting di bumi Flobamora yang memang layak diangkat untuk menjadi berita yang menarik dan pantas menjadi head line.

Terlepas dari betapa urgennya acara tersebut harus diadakan, namun satu hal yang tidak bisa diterima oleh masyarakat umum adalah bahwa acara tersebut berlangsung di tengah aturan PPKM level 3-4 yang dibuat oleh pemerintah sendiri.

Dalam hal ini, pemerintah yang menetapkan aturan dan pemerintah pulalah yang melanggarnya sendiri. Ini mirip dengan syair sebuah lagu: kau yang memulai kau yang mengakhiri, kau yang menetapkan kau pulalah yang melanggarnya. Miris memang.

Namun dalam kondisi seperti ini, siapa yang berani berteriak lantang dan melakukan proses hukum atas pelanggaran atas aturan PPKM tersebut.

Apakah Satgas Covid akan melakukan proses hukum atas pelanggaran tersebut? Atau Polisi kah? Rasanya mustahil, karena ini ibarat menepuk air di dulang.

Sebagaimana yang terlihat kasat mata selama ini, aturan tersebut berlaku tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Bagi masyarakat kecil, aturan ini diterapkan secara ketat, namun bagi para pejabat mereka boleh bebas melakukan apa saja.

Melihat pemandangan yang terjadi di Pulau Semau tempat asal orang nomor satu NTT ini tentu sangat menggugat rasa keadilan dalam pemberlakuan masa PPKM.

Masyarakat kecil, para pedangang dan pemilik warung makan, dituntut harus mematuhi aturan PPKM.

Bahkan agar mereka patuh dan taat atas aturan tersebut merek harus dipukul, disiksa dan dibuat hidup dalam serba ketakutan.

Namun di seberang sana, di Pulau Semau semua pejabat berkumpul, bersenang-senang, bernyanyi dan menari-nari tanpa mempertenggangkan penderitaan dan kesengsaraan yang sedang dialami oleh rakyat yang dipimpinnya.

Dimanakah nuranimu hai para pemimpin?

Hai para pejabat, engkau dipilih dan dipercaya untuk melayani rakyatmu. Namun ketika rakyatmu menderita dan diperlakukan tidak adil karena aturan PPKM, engkau diam dan seakan tidak perduli. Malah engkau mencari kesenangan di pulau seberang, dengan alasan yang jelas-jelas mengada-ada.

Ya, memang dengan alasan mengada-ada karena untuk tujuan acara tersebut google meet atau pun zoom meeting masih bisa mengakomodir dilaksanakan acara dimaksud. Namun dengan seribu satu alasan, akhirnya semua aturan diabaikan demi memuaskan hasrat untuk bersenang-senang di sana.

Sebetulnya dalam suasana serba memprihatinkan seperti ini, para pejabat mestinya lebih solider dan peka terhadap penderitaan rakyat. Ibarat pepatah: verba movent, exempla trahunt (perkataan mendorong, teladan menarik).

Akan tetapi yang terlihat di Pulau Semau adalah, sebuah keangkuhan pemimpin dan sikap tidak berbela rasa dengan rakyatnya.

Mudah-mudahan saja, acara di Pulau Semau tidak menimbulkan klaster baru dalam persebaran virus corona yang sudah memakan banyak korban. Semoga.

Komentar

Jangan Lewatkan