oleh

Profesor dan Mie Singkong

-Opini-441 views
Spread the love

Oleh: Setyo Budiantoro

Minggu lalu, saya sungguh beruntung. Keberuntungan saya antara lain, bertemu dengan Profesor Elfindri. Tentu saja, saya lumayan banyak mengenal profesor. Akan tetapi, profesor ini mempunyai keunikan tersendiri. Beliau bukan hanya tekun menulis buku atau jurnal, namun kini juga fokus mengembangkan kesejahteraan masyarakat daerah secara konkret.

Bermula dari diskusi yang intens tentang gizi dan pembangunan manusia, lalu menukik pada hal yang beliau kembangkan yaitu produksi mie mocaf (modified cassava flour). Mie tepung itu tidak berbasis gandum, namun dari tepung singkong.

Saya coba baca-baca, mie mocaf ini tinggi serat, bebas gluten dan rendah kalori. Ada pengalaman, anak-anak penderita autis mengalami kesulitan (cenderung hiperaktif) mengkonsumsi mie (konvensional) karena kandungan gluten yang tinggi. Ini berbeda, bila mengkonsumsi mie mocaf. Lalu, ternyata tepung mocaf juga mengandung beta karoten dan vitamin C yang tinggi, sangat baik untuk kesehatan termasuk kesehatan mata.

Konsumsi mie di Indonesia sangat tinggi, secara bisnis ini prospek yang bagus. Lalu, beliau menceritakan besarnya biaya untuk riset. Kini, akhirnya produk mie mocaf itu telah diproduksi puluhan ribu kemasan dengan beberapa rasa. Permintaan meloncat sangat tinggi, pesanan bukan hanya dari dalam negeri namun juga luar negeri.

Beliau bercerita, kini sedang fokus juga berupaya mengembangkan ribuan hektar penanaman singkong di Sumatera Barat dengan teknik penanaman tertentu yang membuat produksi lebih besar. Setidaknya ini bisa membantu sekitar 3500 rumah tangga miskin desa (pada tahap pertama), ucapnya. Memang ada investor yang berinvestasi dengan modal besar namun tidak diterima, spirit koperasi tetap dijaga agar kesejahteraan bisa terbagi lebih banyak dan bukan hanya menguntungkan sebagian kecil orang. Selain itu, persaudaraan dari diaspora Minang kini juga telah membantu mendorong mengembangkan maupun menjadi jaringan pemasaran.

Setelah lama berdiskusi intens, saya menyampaikan ada salah satu tugas utama yang harus dipenuhi beliau. Prof Elfindri pun dengan cepat bertanya, “apa itu?”. Saya sampaikan, “tidak boleh sakit”.

Menurut saya ini serius. Tentu, saya tidak akan menyampaikan rencana-rencana besar beliau disini. Saya yakin apa yang dilakukannya dengan ketulusan, sepenuh hati dan tinggal bersama masyarakat desa akan berdampak besar bukan hanya bagi Sumatera Barat, namun juga Indonesia bila terus berkembang. Peran inisiator dan inovator sangat penting pada tahap awal, ini menjadi main driver sebelum menjadi mesin yang berjalan sendiri.

Statistik impor gandum Indonesia sekitar tahun 1960-an, menurut Siswono Yudhohusodo dalam diskusi terbatas bertahun-tahun lalu, tidak terlihat saking kecilnya. Kini Indonesia adalah pengimpor gandum terbesar dunia. Gandum ini terutama menjadi bahan baku pembuatan mie. Jadi, kita makan makanan dimana bahan makanannya tidak bisa diproduksi sendiri di tanah air. Ini berisiko terjadi food trap (jebakan pangan). Terlalu tergantungnya produk pangan dari luar, tentu berisiko. Bagaimana bila terjadi kelangkaan atau harga melejit tinggi?

Sebagai seorang yang sering penasaran menelusuri sejarah makanan, sebenarnya makanan mie yang memasyarakat sejak dulu (bahkan sebelum ada mie instan), misalnya dari mie aceh, mie jawa hingga bakso memperlihatkan bahwa kita masyarakat kosmopolit (dalam hal makanan). Mie (gandum) jelas bukanlah makanan asli nusantara, karena bahannya juga tidak dihasilkan disini. Kemungkinan besar, ini dari kebudayaan China. Dulu masyarakat Jawa merasa aneh melihat makanan kok seperti cacing, yang menjulur panjang panjang. Namun, kini makanan seperti cacing itu menjadi salah satu santapan utama. Bahkan, ada juga inovasi makanan mie dari beras (bihun).

Lalu, sebenarnya makanan pokok Indonesia kebanyakan adalah sagu. Padi atau beras adalah makanan dari India yang dibawa bersama pengaruh Hindu yang kuat pada waktu itu. Inilah mengapa kata “sagu” sangat dekat dengan “segho” (nasi dalam bahasa Jawa, atau “sangu” dalam bahasa Sunda). Di Borobudur kita temui, reliefnya memperlihatkan sagu dan makanan makanan yang menjadi sumber protein pada waktu itu utamanya dari ikan, seperti belut atau ikan lainnya.

Sate ikan kini jarang ditemui, padahal dulu ini menjadi makanan biasa. Di Jawa bahkan ada peribahasa “kuthuk marani sunduk” (harafiahnya, ikan gabus menyongsong bahaya bakal disate dengan bilah bambu). Kini kita mengenal sate lebih banyak daging (kambing atau ayam), bukan ikan. Mungkin peternakan (domestifikasi hewan) saat itu masih belum jadi budaya, jadi daging masih sangat mahal.

Kembali ke topik singkong. Ketika saya ke rumah dan ngobrol dengan ibu (yang seorang entrepreneur), beliau bercerita kalau harga singkong kini sedang jatuh. Kasihan kini petani singkong, perkilo singkong hanya dihargai beberapa ratus rupiah, menurut beliau. Wah, bila mie mocaf bisa memasyarakat mungkin harga singkong akan bisa lebih baik, batin saya. Kita juga bisa makan mie dari bahan baku yang kita produksi sendiri, mengembangkan ekonomi rakyat, lebih hemat devisa dan menghindari food trap.

Diundang ke Sumatera Barat mengunjungi desa desa, langsung saya iyakan. Apalagi, Universitas Andalas akan merintis program studi tentang SDGs. Wow, ini juga luar biasa. Tentu saja, saya langsung bersedia diminta untuk membantu. Bukankah sesuatu yang hebat, universitas mengajarkan keilmuan dan riset pengembangan keilmuan itu juga berasal dari pendalaman daerah itu sendiri.

Tantangannya kini di waktu. Ini adalah komoditas yang paling mahal kini. Persiapan berbagai hal untuk pameran ke Dubai, penyelesaian rencana aksi nasional SDGs, persiapan annual coference dan G20, sangatlah menyita konsentrasi. Belum lagi secara moral mesti mempertanggungjawabkan inovasi “blended finance” yang saya sampaikan di pertemuan OECD, ini harus terealisasi.

Walk the talk, pasti bukan hal mudah. Tapi, saya kini optimis melihat kecerahan yang luar biasa. Terobosan yang menjadi model, semoga bisa teramplifikasi. Bila ini terjadi dampaknya akan sangat besar, termasuk berkontribusi membangun reputasi Indonesia. Jejaring utama sudah terpegang, semoga alam semesta merestui. Terus semangat.

Komentar

Jangan Lewatkan