oleh

Psikologi Agama: Kekuatan untuk Kebaikan atau Kejahatan

-Opini-279 views

Oleh: Pater Garsa Bambang, MSF

Tragedi ledakan bom yang diduga bom bunuh diri di dekat Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu, (28/03) pukul 10.35 WITA menyisakan duka panjang sebab terus mencabik tata kelola hidup beriman, beragama dan persahabatan.

“Di saat yang lain menyediakan waktu untuk berjumpa dengan Tuhannya, justru ada yang bangun pergi menyiapkan neraka. Adakah Tuhan yang bangga dengan cara itu. Atas nama siapa sampai sampai harus membiarkan kemanusiaan disembelih, dibunuh. Atas nama kesucian?”. Absurd.

Sudah tersedia banyak contoh betapa praktek hidup keagamaan kerap dibarengi aksi berdarah, aksi teror. Ateis militan seperti Richard Dawkins membandingkan kerja agama dengan virus yang menginfeksi pikiran manusia dan mengubah orang berpotensi rasional menjadi robot dogmatis, bersedia membunuh dan mati demi keyakinan mereka. Ajaib.

Harus diakui agama selalu dapat menginspirasi tindakan manusia yang paling biadab dan paling mulia. Beberapa perbuatan manusia yang paling bijak dan mulia dilakukan atas nama agama. Banyak reformis dan aktivis moral terbesar dalam sejarah terinspirasi oleh prinsip-prinsip agama mereka, seperti Martin Luther King Jr, Mahatma Gandhi dan William Wilberforce (yang berjuang untuk penghapusan perdagangan budak Inggris pada tahun 1807).

Juga salah satu tokoh kontemporer yang paling dikagumi, Uskup Agung Desmond Tutu, dari Gereja Anglikan yang telah menghabiskan hidupnya tanpa lelah mengkampanyekan keadilan dan penindasan, dan mewujudkan prinsip-prinsip Kristiani tentang kasih sayang dan pengampunan sampai tingkat tertinggi.

Bagaimana agama bisa menghasilkan kebiadaban dan kemuliaan seperti itu? Bagaimana prinsip-prinsip keyakinan agama dapat digunakan untuk membenarkan terorisme, dan di waktu lain mendorong tindakan altruisme dan keadilan yang hebat?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu membedakan antara dua jenis agama yang berbeda secara fundamental: agama dogmatis dan agama spiritual .

Orang yang secara dogmatis religius adalah orang yang berpikir bahwa dirinya benar dan orang lain salah. Bagi mereka, agama bukanlah tentang pengembangan diri atau mengalami “yang transenden”, tetapi tentang mengikuti seperangkat keyakinan yang kaku dan mengikuti aturan yang ditetapkan oleh otoritas agama.

Agama dogmatis berasal dari kebutuhan psikologis akan identitas dan kepemilikan kelompok, bersama dengan kebutuhan akan kepastian bahwa dia “tahu”, dia memiliki kebenaran, bahwa dia benar dan orang lain salah. Selesai. Tak lebih.

Di pihak lain ada agama spiritual. Agama “spiritual” mempromosikan atribut yang lebih tinggi dari sifat manusia, seperti altruisme dan kasih sayang, dan menumbuhkan rasa sakral dan luhur.

Orang-orang yang “religius secara spiritual” tidak merasa bermusuhan dengan kelompok agama lain. Pada kenyataannya, mereka dengan senang hati menyelidiki kepercayaan lain, dan bahkan mungkin pergi bertamu dan mau belajar kebaktian kelompok lain.

Ide dasarnya bahwa agama yang berbeda cocok untuk orang yang berbeda dan bahwa semua agama adalah perwujudan atau ekspresi yang berbeda dari kebenaran esensial yang sama, yakni Tuhan itu sendiri.

Dengan demikian tujuan agama dogmatis adalah untuk memperkuat ego melalui kepercayaan, label dan identitas kelompok sementara tujuan agama spiritual adalah untuk melampaui ego, melalui belas kasih, altruisme, dan latihan spiritual. Agama yang mengesampingkan kebahagiaan dengan sendirinya merendahkan jiwa manusia.

 

Penulis adalah Rohaniwan Katolik

Komentar

Jangan Lewatkan