oleh

Quo Vadis NTT Provinsi Literasi?

-Opini-761 views

Oleh: Isidorus Lilijawa

Dalam buku 15 Tahun Pos Kupang Suara Nusa Tenggara Timur, almarhum Pater John Dami Mukese, SVD menulis artikel tentang “Mendongkrak Budaya Membaca di NTT”. Dalam buku itu, Pater Dami telah memetakan secara jelas mengapa budaya membaca itu belum tumbuh dan mengakar di bumi NTT ini. Selain mengemukakan problem mentalitas yang lahir dari dalam diri, faktor-faktor luar seperti pengaruh alat telekomunikasi, sistem pendidikan dan persoalan ekonomi menjadi titik perhatian tulisan itu.

Ada anggapan bahwa membeli buku dan membaca buku adalah urusan kaum intelektual, para akademisi dan mahasiswa dan bukan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat umum. Anggapan ini ditunjang oleh asumsi bahwa membaca adalah kegiatan intelektual yang cocok dilakukan oleh kaum intelektual. Anggapan yang keliru ini terlanjur menjadi bagian dari konsep masyarakat kita jika kepada mereka diminta untuk membiasakan diri membaca buku, majalah atau koran. Padahal membaca buku adalah kebiasaan positif yang bisa dilakukan oleh siapa saja.

Persoalan yang selalu diangkat berkaitan dengan upaya membumikan budaya membaca adalah ketiadaan uang untuk membeli buku. Padahal alasan seperti ini seringkali terkesan dibuat-buat. Kalau masalah ekonomi, khususnya ketiadaan uang menjadi masalah utama orang tidak membeli buku, majalah atau koran, mengapa orang NTT bisa mengeluarkan uang banyak untuk hal-hal yang bukan kebutuhan pokok setara makan, perumahan dan pakaian, semisal rokok minum dan bahkan judi?

* * *

Pertanyaan saya, quo vadis gerakan literasi di NTT? Tak kita pungkiri berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi NTT, kabupaten/kota maupun pihak swasta untuk mendongkrak minat baca dan menumbuhkan budaya baca yang tujuannya adalah membentuk masyarakat baca (reading society).

Pemerintah dengan perpustakaan-perpustakaan daerah, perpustakaan keliling berupaya meningkatkan melek huruf masyarakat dan menyediakan pengetahuan bagi masyarakat. Lembaga-lembaga swasta semisal LSM pun pegiat literasi membuka taman bacaan masyarakat, taman bacaan anak untuk mendongkrak budaya membaca. Di sekolah-sekolah pun hampir selalu ada perpustakaan sekolah. Ini berarti sarana untuk membaca telah disiapkan walau masih ada kekurangan di sana sini.

Namun, mengapa membaca belum menjadi budaya kita orang NTT? Coba kita periksa, berapa banyak orang yang mampir di perpustakaan umum maupun perpustakaan sekolah/kampus setiap hari? Berapa jam seminggu dipakai untuk membaca buku? Berapa banyak uang dihabiskan untuk membeli buku-buku bacaan? Berapa banyak koleksi buku-buku bacaan kita? Apakah kita mempunyai perpustakaan pribadi?

Ini data lama tetapi penting untuk pembelajaran kita. Taufiq Ismail pada tahun 2000 mengungkapkan data yang menyedihkan mengenai perbandingan jumlah buku yang wajib dibaca dan dibahas oleh siswa SMA di 13 negara. Datanya sebagai berikut: USA 32 judul, Belanda 30, Prancis 30, Jerman 22, Jepang 22, Swiss 15, Kanada 13, Rusia 12, Brunei 7, Malaysia 6, Singapura 6, Thailand 5, Indonesia 0 judul.

Data Taufiq Ismail tahun 2003, mengatakan bahwa siswa SMU di Malaysia diwajibkan membaca novel 12 judul, cerita pendek 18, drama 8, puisi modern 18, puisi tradisional 18, prosa tradisional 12. Di Indonesia? Sangat memprihatinkan. Kalau dulu Malaysia berguru pada bangsa kita, sekarang mereka lebih maju dan berkembang dari pada kita.

Data statistik UNESCO tahun 2012 menyebutkan bahwa indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca. Kurangnya minat baca dalam masyarakat kita membuat minat menulis menjadi tidak tumbuh dalam masyarakat Indonesia. Indonesia kekurangan penulis, sangat minim buku yang diterbitkan.

Menurut Hikmat Kurnia dari Agromedia group, bangsa yang berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa ini, ternyata hanya mampu menerbitkan buku kurang dari 10.000 judul buku per-tahun. Itu pun mayoritas terjemahan dari buku-buku luar negeri. Padahal negara-negara ASEAN kira-kira 2-4 kalinya. Jangan lihat pula jumlah penerbitan buku-buku di negara lain seperti Jepang, Amerika Serikat atau negara-negara di Eropa. Mereka sepertinya ada di langit dan kita masih jongkok di bumi. Tahun 2015, Perpustakaan Nasional dalam rilis hasil kajiannya, menempatkan minat baca masyarakat pada angka 25,1 berkategori rendah [kompas.com)

* * *

Gerakan menjadikan NTT sebagai provinsi literasi mesti menjadi gerakan bersama seluruh elemen: pemerintah, swasta dan masyarakat. Jika duet pemimpin NTT saat ini mau menjadikan NTT provinsi literasi maka mau tidak mau harus dilakukan secara massif, terstruktur, terfokus dan berkelanjutan. Literasi itu bukan soal wacana atau omong-omong semata. Harus ada aksi nyata. Sudah cukup lama NTT hidup dalam wacana-wacana dan ide-ide besar namun minus tindakan nyata.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 2015 dalam Permendikbud 23 Tahun 2015, melalui kebijakan afirmatif khusus telah mendeklarasi gerakan literasi nasional. Namun, sampai sejauh ini Provinsi NTT belum membaptis dirinya sebagai provinsi literasi. Dari 22 kabupaten/kota di NTT, hanya satu dua kabupaten yang geliat literasinya mulai terasa. Yang lain masih suam-suam kuku. Agenda literasi pun masih dilakukan secara sporadis oleh kelompok-kelompok peduli dan komunitas literasi.

Organisasi non pemerintah pun belum banyak terlibat dan peduli. Beberapa NGO seperti Save the Children sudah mulai menumbuhkan kurikulum literasi dalam sentuhan pemberdayaannya. Selain itu, saya mengenal beberapa organisasi yang cukup konsen terlibat dalam gerakan literasi seperti Agupena NTT (khususnya Flotim) dan Majalah Pendidikan Cakrawala yang gencar dan konsisten melakukan gerakan ini melalui bimbingan menulis dan pembagian buku ke sekolah-sekolah, demikian pun berbagai forum taman maca masyarakat yang ada di kabupaten/kota. Ada juga gerakan ‘katakan dengan buku’ yang diinisiasi oleh John Lobo dengan agenda membagi buku ke sekolah-sekolah pelosok.

Menjadikan NTT provinsi literasi tidak cukup dengan gerakan-gerakan sporadis ini. Harus ada gerakan massif bersama. Langkah-langkah nyata mesti dibuat. Semua bupati dan walikota dipanggil untuk bahas gerakan literasi. Lalu pulang dan berbuat. Mulai dengan peraturan daerah atau peraturan bupati tentang gerakan literasi.

Mobil-mobil perpustakaan keliling dioperasikan hingga ke kampung-kampung. Jangan hanya jadi pajangan di kantor. APBD harus juga dipakai untuk membeli buku-buku dan dibagikan ke seluruh sekolah. Di taman-taman kota sudah mulai dipajang aneka buku sehingga para pengunjung bisa membaca di sana. Di sekolah setiap anak diwajibkan membaca sekian judul buku dan membuat intisari. Berlakukan jam nonton televisi di rumah. Mesti ada jam membaca.

Gerakan literasi itu nonsense tanpa literatur. Dua-duanya itu omong kosong jika tidak ada budaya membaca yang harus dihidupkan. Di NTT gerakan literasi sudah mulai. Namun mentalitas mumpuni untuk menumbuhkan budaya membaca belum bertumbuh. Masyarakat masih ‘doyan’ pada budaya nonton, masih terpikat pada televisi. Jarang kita temui orang membaca buku di rumah-rumah. Yang lazim adalah kaki-kaki yang terjulur dan mata yang fokus pada satu titik yaitu televisi dengan aneka sabda bahagianya.

Sudah saatnya budaya literasi menjadi milik anak-anak NTT. Anak-anak dilatih untuk membaca dan mencintai bacaan sejak dini. Perpustakaan yang ada di mana-mana bukanlah museum bagi buku-buku bacaan. Itu universitas rakyat, seperti moto perpustakaan umum di daerah-daerah. Ada banyak buku menarik dan berguna di perpustakaan-perpustakaan kita saat ini. Namun, tak ada artinya jika tidak dibaca.

Benar kata-kata Joseph Brodsky, pengarang asal Rusia: “Ada beberapa kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membaca buku.” Bahkan ada anekdot satir untuk kita: “Kalau orang Jepang tidur sambil membaca, orang Indonesia malah membaca sambil tidur.”

Andai saja ada kebijakan Pemerintah Provinsi NTT atau kabupaten/kota yang meminta agar setiap ASN yang bertugas ke luar daerah (Jawa, Bali, Sumatera, kalimantan) wajib menyumbangkan satu buku yang akan disimpan di kotak donasi buku di setiap bandara, tentu kita tidak kesulitan mendapatkan bahan bacaan untuk didistribusikan ke berbagai komunitas literasi. Forum Taman Baca Masyarakat NTT (FTBM) siap menjadi operator gagasan ini.

Mari bergerak bersama. Sudah saatnya masyarakat NTT bangkit dan membumikan budaya literasi di bumi Flobamora. Harapan kita suatu saat nanti di taman-taman kota, di bawah rindang pepohonan, di teras-teras rumah, di halte, di terminal, di rumah-rumah, kita menjumpai orang-orang yang membaca buku karena mereka tahu, hanya melalui itu mereka membaca dunia. Tole lege! Angkatlah (buku) dan bacalah!

 

Penulis adalah Pengurus FTBM NTT

Komentar

Jangan Lewatkan