oleh

Rasionalitas Pemimpin dan Diskursus Religiusitas Modern

-Opini-244 views

(Catatan kritis terhadap persoalan agama dan dasar kapemimpinan religiusitas pada saat ini)

Oleh: Agustinus Firginus Kea

Pembacaan terhadap karya dan tindakan nyata Yesus dalam injil sinoptik memberikan suata pendasaran bahwa Yesus adalah seorang pemimpin yang berhasil dan sukses di masanya. Yesus tidak mengunakan sistem politik yang ada pada saat ini, tetapi Yesus menggunakan sistem pewartaan kerjaan Allah dan menyerukan pertobatan. Yesus mempunyai sistem kepemimpinan yang sangat berbeda dengan pemimpin-pemimpin terkenal lainnya pada waktu itu.

Yesus tidak pernah menyerah untuk terus berjuang memberikan penyadaran kepada semua orang tentang kerajaan Allah. Benar dan nyatalah ketika banyak orang yang datang kepada Yesus dan mendengarkan pengajarannya. Dalam Injil sinoptik Yesus dihadirkan sebagai tokoh yang adalah seorang Guru. Identik seorang Guru adalah siap melayani dan yang menjadi hal dasar lagi yaitu menjadi pemimpin yang siap untuk memberikan pengajaran dan keteladanan hidup bagi setiap orang. Yesus memberikan banyak hal yang sejatinya memberikan pencerahan dan penyadaran bagi banyak orang dalam pengajarannya.

Pemimpin dalam konsep Agama Negatif dialektis

Berkaitan dengan kepemimpinan agama seringkali diwujud nyatakan dengan suatu tindakan yang dapat dilihat oleh banyak orang. Bukan hanya sebatas pemahaman yang diujikan dalam rasioanlitas manusia, tetapi lebih dari itu, bagaimana pemimpin yang menyadari eksistensinya dan siap untuk berjuang sebagai pemimpin yang hadir menjadi seorang pemersatu dan penyatu.

Dalam pandangannya Nicolaus Cusanus yang adalah seorang Filsuf teori pengetahuan di ambang abad modern, ia melampau konsep rasionalitas yang sempit. Ia juga membongkar serta menunjukkan batas-batas kemampuan pengetahuan. Hal ini menjadi dasar persoalan rasionalitas manusia ketika dihadapakan dengan persoalan religiusitas. Hal inilah dengan metode yang digunakan oleh Cusanus yaitu Docta Ignorantia  pendasaran ini merupakan metode pendekatan ilmiah atas agama yang secara rasional menjadi sesuatu yang sesungguhnya terletak di luar jangkauan akal budi manusia. Persoalan yang menjadi pendasarannya adalah kesadaran negatif yang ada dalam diri manusia.

Pandangan ini menjadi persoalan yang tidak terlepas dengan situasi religiusitas dan kepemimpin hingga saat ini. Sangatlah sulit ketika agama diperhadapkan dengan suatu persoalan yang dibutuhkan penyelasaian atau kesimpulan terhadap masalah-masalah yang terjadi. Menjadi pemimpin yang mendasari rasionalitas yang sejatinya diuji dalam kenyataan rasionalitas menjadi suatu persoalan yang sulit untuk diselesaikan. Hal ini berkaitan dengan kesadaran negatif yang ada dalam diri mansuia. Hal itu menghantar kita kepada metode yang ada pada Cusanus yaitu pengetahuan akan ketidaktahuan.

Keteladanan Pemimpin dalam kaitannya dengan persoalan logis dalam Religiusitas

Pendasaran yang substansial yang terjadi pada saat ini adalah segala persoalan yang terjadi yang menjadi acuan dasar adalah dasar dari religiusitas. Hal ini menjadi suatu fenomena yang sangat sulit untuk diselesaikan persoalan. Berkaitan dengan persoalan ini, yang menjadi pandangan pertama adalah agama dan para pemimpin agama.

Dalam kaitannya dengan masalah terorisme, peperangan dan persoalan lainnya yang menjadi kaitan utamanya adalah agama dan para pemimpin agama. Persoalan ini membutuhkan penafsiran yang secara jelas dan baik dari pihak manapun ketika terjadi suatu persoalan. Pemimpin hadir sebagai penyatu. Keteladanan ini merupakan keteladanan religiusitas yang harus dimiliki oleh seluruh pemimpin agama.

Kesetiaan pemimpin di tengah perubahan

Kenyataan yang terjadi pada saat ini, sistem pemerintahan dan persoalan dalam pemerintahan sering dikaitkan dengan masalah agama. Hal ini membutuhkan kerja keras yang datang dari para pemimpin agama. Para pemimpin agama perlu kerja keras. Kesetian menjadi hal dasar yang menjadi nilai fundamental untuk hadir sebagai penyatu dalam kehidupan umat beragama. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam realita kehidupan masyarakat merupakan suatu pilihan yang harus dibutuhkan dengan tanggung jawab dan kerja keras. Kenyataannya agama dalam relasinya dengan ini tidak terlepas dari kaitannya dengan iman dan ilmu pengetahuan. Agama mempunyai kaitannya dengan akal budi yang merupakan suatu penyatuan yang aksidental. Agama dan kehidupan sosial termasuk unsur substansial rasionalitas. Iman dan Ilmu pengetahuan. Keduanya merupakan dua wajah rasionalitas yang mungkin mempunyai hubungan atau kaitannya. Untuk memahami semuanya adalah kehendak sang pencipta.

Rasionalitas hadir untuk membantu memahami Allah secara benar. Anselmus dari Canterburry mangatakan bahwa “Fides querens intelectum” yang artinya iman mencari pemahaman, kiranya menjadi bahan acuan sekaligus refleksi atas opini ini yang menghantar umat kristiani untuk mengenali siapa dirinya Who am I. Dalam hal ini sikap kritis terhadap krisis karena pandemi virus corona sebagaimana telah dijabarkan di atas, menunjukkan suatu dimensi religiusitas yang amat tinggi tanpa melibatkan dimensi intelektualitas.

Dikatakan demikian karena di satu sisi ada sikap fanatisme dari beberapa golongan umat kristiani yang mengabaikan “suara kenabian” baik dari pimpinan gereja maupun pihak pemerintah demi suatu bonnum commune (kebaikan bersama). Sikap kritis seperti itulah yang mendorong saya untuk ber-opini; mengkritisi kembali sikap kritis mereka itu dalam suasana krisis global akibat pandemi virus corona. Hal yang dikritisi tersebut hanyalah merujuk pada satu situasi yaitu penutupan rumah ibadah.

 

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unika Widya Mandira Kupang

Sumber: Otto Gusti, Negara, Agama, dan Hak-Hak Asasi Manusia, Penerbit Ledalero, 2014

Komentar