oleh

Refleksi 17 Tahun Munir: Aktivis HAM yang Melampaui Sekat

-Opini-319 views

Oleh: Fransisco Yassie

Bulan September dikenal dengan peristiwa hitam. Berbagai aktivis mengekspresikan bulan September dengan berbagai cara. Mulai dari diskusi hingga pembakaran lilin.

Berbagai kegiatan bertujuan untuk mengenang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Munir Said Thalib. Ia meninggal dunia pada 7 September 2004. Atau kini 17 tahun lalu.

Munir adalah pendiri Imparsial dan aktivis Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Ia dibunuh di dalam pesawat saat terbang dari Jakarta ke Belanda dengan racun jenis arsenik. Munir ingin melanjutkan pendidikan S2-nya di Belanda tapi takdir berkata lain, ia pulang di tengah jalan.

Munir merupakan aktivis HMI di Universitas Brawijaya Malang yang cukup sentral dalam melawan otoritarianisme orde baru pada saat itu. Sikapnya tidak berubah sebagai pembela orang kecil yang tertindas hingga mendirikan lembaga bantuan hukum gratis untuk membantu kaum buruh dan korban bengisnya orde baru pada saat itu.

Munir anti penindasan jika kita membaca perjalanan hidupnya lewat berbagai kisah. Ia membantu orang kecil tanpa memandang identitas. Mendiang Munir sudah selesai soal nasionalisme dan pluralisme. Ia ingin memperbaiki Bangsa Indonesia sebagaimana cita-cita founding fathers dan founding mother’s kita.

Sikap Munir tentang kemanusiaan melampauhi sekat. Ia membawa kasus Timur Lestari, kasus Semanggi (kekejaman orde baru pada saat itu) bahkan masalah HAM Papua. Ia ingin pelanggar HAM di adili agar korban mendapat keadilan di mata hukum. Atas kerja kerasnya, Munir mendapatkan penghargaan Right Livelihood Award 2000 di Swedia, 8 Desember 2000

Kini sudah 17 tahun kasus pembunuhan Munir belum diungkap. Pemerintahan Joko Widodo dua periode berjanji akan menyelesaikan kasus Munir tapi pupus karena diduga aktor dibalik hilangnya Munir masih di lingkaran kekuasaan. Inilah kondisi Bangsa Indonesia saat ini, seperti duri dalam daging. Padahal Munir adalah manusia langka, tokoh kemanusiaan yang berjuang untuk menjaga eksistensi bangsa yang menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Apa perjuangan Munir harus diteladani generasi muda saat ini? Bagi saya. Sebagai generasi muda, melanjutkan perjuangan munir bisa diaktualisasi dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak boleh apatis, tetap memainkan fungsi kontrol terhadap pemerintah, ikut mengawal bangsa Indonesia agar tidak terkesan sewenang-wenang. Sikap “sense of crisis” harus ada agar sikap pejuang keadilan tetap terus berkobar.

Ikut mendorong pemerintah untuk bersikap adil terhadap korban pelanggaran HAM di masa lalu. Jika bangsa Indonesia berdamai dengan masa lalu, otomatis merupakan bagian dari kemajuan. Sebagaimana sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hukum harus berkeadilan tanpa pandang bulu, siapapun melanggar harus diadili kalau mau Indonesia maju.

Jepang dan Jerman berdamai dengan masa lalu. Apa yang terjadi? Mereka jauh lebih maju. Bangsa Indonesia juga harus seperti itu jika ingin maju. Terakhir untuk generasi muda dan para aktivis kemanusiaan. Munir Said Thalib, pernah berkata bahwa, “Dalam hak asasi manusia, pikiran, omongan dan perbuatan kalau sudah sama, itulah capaikan terbaik dalam memperjuangkan hak asasi manusia”.

Munir adalah sosok yang se-ia dan sekata dalam perjuangan. Sederhana dalam ucapan dan perbuatannya selama hidupnya. Ia mempertaruhkan hidupnya untuk orang banyak terutama mereka yang didiskriminasi dan dimarjinalkan oleh sistem yang menindas. Diharapkan sosok Munir terus tumbuh dan tidak padam bagi generasi muda saat ini. Terutama pejuang hak yang ingin mengabdikan amal hidupnya untuk kemaslahatan orang banyak.

 

Penulis adalah mantan Aktivis GMNI dan pemerhati masalah sosial asal Teluk Bintuni

Komentar

Jangan Lewatkan