oleh

Refleksi Hari Guru dan Gerakan Kemanusiaan

-Opini-215 views

Oleh: Paskalis Kongkar

“Guru adalah pejuang, tulus tanpa tanda jasa mencerdaskan Bangsa.” (Ki Hajar Dewantara)

Jika ada yang bertanya siapakah sang pahlawan yang tulus mengabdi tiada henti itu? Maka tidak lain jawabanya adalah Guru. Guru masih dianggap sebagai penolong utama bagi manusia untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Guru namanya, mengajar adalah tugasnya. Bagi seorang guru, mengajar merupakan tanggung jawab yang harus dipikulnya. Sebuah panggilan jiwa dan sebuah seruan dalam hati. Bagi guru, mengajar merupakan pintu untuk menuju perubahan, perubahan akhlak, berfikir, cara pandang dan sikap.

Tugas seorang guru adalah mengajar, dan mengajar tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sejak zaman Nabi Adam diciptakan sampai saat ini tugas guru tetap berat, karena sebagai guru tidak hanya mentransfer ilmu belaka, tapi juga harus mengajar, mendidik mental, merubah akhlak dan menata hati. Sungguh tugas mulia yang harus diemban dengan penuh keuletan kesabaran.

Apalagi pada zaman modern seperti sekarang ini, peralatan semakin canggih, pengetahuan semakin berkembang, peran guru dilingkungan sekolah pun menjadi lebih berat. Guru tidak hanya menjadi pengawas bagi perkembangan pengetahuan siswa tapi juga akhlak. Cobalah kita tengok kasus yang terjadi bagaimana seorang guru dilaporkan oleh wali siswanya hingga ke pengadilan lantaran menertibkan siswanya supaya disiplin. Dan seorang guru dikeroyok oleh wali siswa beserta siswanya lantaran menegurnya karena tidak membawa alat pelajaran dan tidak mengerjakan pekerjaan rumah, hingga hidung berdarah sampai dilarikan ke rumah sakit.

Dua kasus di atas hanya contoh kecil dari berbagai kasus yang pernah ada. Yang menjadi pertanyaan adalah, siapa yang bisa menangkal berbagai kasus yang terjadi di atas supaya tidak terulang lagi? Jawabnya tentu kita semua. Tidak hanya guru, tapi juga murid, bersama orang tua dan semua komponen masyarakat harus ikut bersatu, bahu membahu mengentaskan krisis moral, akhlak yang kerap kali terjadi di lingkungan pendidikan. Jika benar-benar ingin merubah wajah pendidikan saat ini maka kita harus bergerak bersama mengubah cara berfikir, akhlak dan tingkah laku.

Diantara tugas seorang guru adalah merubah, menjunjung tinggi nilai norma kemanusiaan. Semua yang peduli kepada norma kemanusiaan, tidak akan pernah mengajarkan kejahatan apalagi kekerasan. Karena kita tentu tidak berharap kekerasan, penganiayaan, apalagi di lembaga pendidikan. Seorang guru menganiaya murid, atau sebaliknya seorang murid berani mengeroyok gurunya semoga tidak pernah terulang kembali.

Kasus kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan telah dirasa menodai citra pendidikan kita. Tidak ada dalam pendidikan yang mengajarkan kekerasan, dalam pelajaran apapun tidak ada ajaran perintah memukul atau berkelahi, tidak ada mata pelajaran musuh-memusuhi apalagi saling bekerja sama untuk melukai orang lain.

Merubah akhlak, moral, bagi seorang guru merupakan tugas yang sangat berat, tapi sungguh kebahagiaan tersendiri bagi mereka yang bisa melakukanya. Kita tidak bisa berharap kesejahteraan masyarakat di Negeri ini kepada para pemangku jabatan tinggi dari petinggi partai yang hanya mementingkan golongan semata tanpa memperdulikan kemaslahatan masyarakatnya. Kita bisa berharap kepada guru yang merupakan pahlawan perubahan generasi bangsa.

Guru merupakan ujung tombak dan ujung tembok dari pondasi pendidikan kita. Bagaimana jadinya dunia tanpa adanya guru. Mungkin, tanpa guru ibarat tanah gersang, tumbuhan menjadi kering karena tiada siraman air. Mari kita lihat sejenak sejarah Jepang setelah mendapatkan musibah dengan ditimpa bom atom oleh Amerika Serikat tepat di kota Herosima dan Nagasaki, orang pertama yang dicari dan dikumpulkan adalah guru, bukan orang kaya, bukan penguasa, bukan pula para politisi.

Penguasa Jepang sang kaisar pada waktu itu memerintahkan untuk mengumpulkan semua guru yang tersisa dan selamat dari ganasnya bom atom. Dari perintah sang kaisar itu sebenarnya sudah jelas bahwa untuk membangun sebuah negara yang telah hancur luluh lantah, maka pertama kali yang harus dimulai adalah pendidikan. Kaisar tahu bahwa hanya dengan pendidikan-lah peradaban yang baik itu akan terbentuk. Ia sangat tahu apa yang dibutuhkan bangsanya saat itu, dan hasilnya, karena serta pendidikan yang dibangun pertama kali bersama guru maka coba lihat jepang saat ini.

Lantas bagaimana dengan Negara kita? Dengan penduduk yang sangat banyak, bahkan jauh lebih banyak dari Jepang. Ditambah sumber daya alam yang sangat melimpah, bahkan tongkat dan kayu bisa jadi tanaman. Belum lagi para kaum intelektual yang baris berjejer di berbagai bidang pada pemerintah. Sekali lagi, jangan bertanya dan berharap dari pemangku jabatan, tapi tanyalah pada guru karena hanya guru-lah yang bisa menjawabnya.

Guru merupakan harapan bangsa ini, gurulah penegak robohnya tiang bangsa. Selama guru masih berjuang mencerdaskan anak bangsa maka negara akan tetap berjalan pada kebenaran, namun sebaliknya jika guru ikut berbuat amoral, anarkis, ikut ke dalam kubangan lumpur yang kotor, siapa lagi yang akan mencetak generasi bangsa yang baik?

Semoga dengan semangat Hari Guru Nasional tahun ini, kita bisa mengenang, menghayati dan meneladani berbagai perjuangan seorang guru yang tiada lelah mengabdi untuk generasi masa depan yang lebih baik.

Komentar

Jangan Lewatkan