oleh

Revolusi Copernican: Menilik Kosmologi Kritik Dalam Prespektif Immanuel Kant

-Opini-230 views

Oleh: Soterdino Obe

Kosmologi atau biasa disebut Phylosophy of Nature merupakan suatu studi atau telaah mengenai susunan atau keteraturan. Sederhananya bahwa kosmologi merupakan ilmu tentang alam semesta. Layaknya ilmu pengtahuan lainnya, disiplin ilmu kosmologi mengalami perkembangan yang pesat sampai pada bentuknya yang sekarang ini. Berangkat dari pemikiran mitologi Yunani yang menjadi dasar pemikiran tentang penciptaan kosmos.

Dimana dikisahkan tentang Chaos sbagai makhluk hidup pertama. Chaos menciptakan dan menikah dengan sorang dewi bernama Night yang kemudian dari merekalah lahir dewa-dewi lainnya. Sampai pada kosmologi abad dewasa ini yang menyingkirkan segala bentuk kepercayaan akan mitologi yang sulit dibuktikan dengan rasio manusia dan pembuktiannya yang pasti dengan pembuktian ilmiah yang rasional dan memiliki bukti-bukti otentik yang jelas.

Perkembangan yang luar biasa itu, sekaligus menghadirkan berbagai sudut pandang baru dalam menilik dan mengkaji persoalan-persoalan yang termuat dalam disiplin ilmu kosmologi. Kajian yang dilakukan secara kontinu membawa dampak positif demi mempertahankan konsistensi dari ilmu kosmologi.

Dari berbagai macam bentuk pemikiran kosmologi, hadir suatu bentuk pemikiran yang dikmbangkan oleh Immanuel Kant yakni “Kosmologi Kritik”. Apa yang dimaksud dengan kosmologi kritik? Kant lebih memilih menggunakan kata ‘filsafat transcendental’ atau ‘filsafat kritik’.

Filsafat ini merupakan salah sati disiplin ilmu pengetahuan filsafat yang meneliti dengan metodenya sendiri sistem kaidah-kaidah pemikiran, pengenalan apriori, artinya lepas dari pengalaman sebagai sumber pengetahuan yang mungkin dalam mantra kognitif, etis, dan estetis.

Si kecil yang Produktif

Immanuel Kant lahir pada tanggal 22 April 1724 di Königsberg ibu kota Prusia Timur, Jerman. Di usianya yang ke delapan, Kant memulai pendidikan formalnya di Collegium Fridericianum. Mulai tahun 1740 ia belajar filsafat, matematika, ilmu pengetahuan alam, dan juga teologi.

Di tahun 1755, Kant mendapat gelar doktor dengan disertasi berjudul Meditationum quarundum de igne succinta delineation (Uraian singkat atas sejumlah pemikiran tentang api).

Ia kemudian bekerja sebagai privatdozent dalam berbagai mata kuliah. Bulan Maret 1770 Imanuel Kant kemudian mendapat gelar professor logika dan metafisika dengan disertasi De mundi sensibilis atque intelligibilis orma et principiis (Tentang bentuk dan asas-asas dari dunia indrawi dan dunia akal budi).

Kant pada masa-masanya sebagai seorang dosen privat (1755-770) sangat dipengaruhi oleh pandangan rasionalisme Leibniz-Wolf. Tetapi berkat filsafat Hume, Kant mengakui keterbangunannya dari tidur dogmatiknya, dan memulai suatu filsafat yang dinamakan sebagai Kritisisme. Dari itu lahirlah buku Kritik der reinen Vernunft.

Bagi Kant kritisisme merupakan filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan rasio dan batas-batasnya. Masih banyak karya-karya Kant yang terkenal antara lain: Grundlegung zur Metaphysik der Sitten (Pendasaran metafisika kesusilaan, 1875), Kritik der Urteilskraft (Kritik atas daya pertimbangan, 1790), Zum ewigen Freiden (Menuju perdamaian abadi 1795).

Pada hari minggu tanggal 12 Februari 1804 pukul 11.00, Kant meninggal dalam usia 80 tahun. Jenazahnya dikuburkan di serambi samping gereja induk kota Kőnigsberg.

Filsafat Transendental yang Melahirkan Revolusi Copernican

Immanuel Kant memberikan sumbangan yang sangat penting dalam wacana filsafat (terlebih bagi kosmologi tentunya) karena kesuksesannya dalam melakukan “Revolusi Copernican”. Dimana sebelum era Kant, pemikiran filsafat lebih dipandang sebagai sebuah proses berpikir dimana subjek (aku) mengarahkan diri kepada objek.

Immanuel Kant hadir dan menegaskan bahwa seharusnya objeklah yang harus mengarahkan diri kepada subjek. Sederhananya bukan objek yang menentukan subjek tetapi subjeklah yang menentukan objek. Teori ini kemudian dinamakan “Revolusi Copernican”. Di dalamnya termuat usaha demi menyelesaikan keberatan-keberatan dari kosmologi spekulatif. Hal ini membuat pemikiran Kant menjadi unik dan berbeda dengan pemikiran kosmologi yang lain.

Istilah Revolusi Copernican bukanlah istilah yang berasal dari Kant sendiri, namun istilah ini merupakan analogi yang mengungkapkan maksud dan tujuannya secara jelas. Istilah ini berangkat dari seorang Nicolaus Copernicus seorang astronomi yang mengembangkan paham heliosentris dalam bukunya De Revolutionibus. Copernicus menyatakan bahwa pusat dari tata surya bukanlah bumi, melainkan matahari.

Setiap planet dalam tata surya berputar mengelilingi matahari dengan kecepatannya masing-masing, tergantung pada jarak dan ukurannya. Hal ini nampaknya sejalan dengan filsafat Kant, layaknya matahari yang menjadi pusat tata surya demikian pula pengenalan berpusat pada subjek, bukan pada objek.

Dengan demikian, filsafat Kant tidak diawali dengan penyelidikan atas benda-benda sebagai objek, melainkan menyelidiki struktur-sruktur subjek yang memungkinkannya mengetahui benda-benda sebagai objek. Konsekuensinya adalah bahwa kita tidak mengetahui bendanya sendiri (das Ding as Sich), melainkan kita hanya mengetahui gejalanya (Erscheinung). Sehingga Kant menegaskan untuk tidak mendistorsikan gejala dengan yang semu. Yang semu tidak berhubungan dengan kenyataan; sebaliknya gejala merupakan cara mengetahui kenyataan benda-benda.

Kant menegaskan bahwa tujuan dari filsafat transcendental yang dibangunnya adalah demi menyelidiki dan mengkaji secara menyeluruh segala kemungkinan keputusan-keputusan sintesis-apriori. Hal ini dibangun dengan pertama-tama mengklasifikasikan jenis pengetahuan yang sama sekali berbeda yakni: pengetahuan apriori, pengetahuan yang sama sekali tidak bergantung pada pengalaman, dan aposteriori yang menyatakan bahwa segala bentuk pengenalan pengetahuan berangkat dari pengalaman indrawi manusia.

Berangkat dari pemahaman ini dirumuskanlah dua sistem kosmologi pra-kantian yang terbagi atas:

Pertama, model kosmologi dogmatic. Yakni jenis kosmologi yang berbaur dengan kosmogonis. Dimana pendasaran akan gejala-gejala kosmologi berangkat dari berbagai mitos-mitos, yang sama sekali tidak ada pembuktian yang jelas dan dapat diterima rasio manusia.

Kedua, model kosmologi empiric. Yakni jenis kosmologi rasionalistik yang sangat mengandalkan kemampuan rasio, baik lewat pengenalan indrawi secara langsung ataupun dengan menggunakan eksperimen atau observasi yang mendalam. Model ini menghadirkan kosmologi yang dapat diterima nalar dengan menghadirkan bikti-bukti jelas.

Dari berbagai pemahamn yang dibangun oleh Immanuel Kant diatas, Kant mengaplikasikan dalam berbarapa ide seperti: ruang dan waktu adalah gambaran yang tidak bisa eksis diluar pemikiran, objek pengalaman tidak berada dalam dirinya sendiri tetapi berada dalam pengalaman, dan dalam setiap penampilan hanyalah nyata dalam persepsi. Aplikasi ini berangkat dari dekomposisi yang menunjukan dua alternative yakni: dekomposisi bila sampai pada sesuatu yang absolute disebut terbatas. Sedangkan bila dekomposisi tidak berujung disebut tidak terbatas.

Dalam kaitannya dengan kosmologi Revolusi Copernican menghadirkan khazanah pemikiran baru yang berpusat kepada subjek. Manusia tidak menyelidiki benda-benda yang ada dalam alam semesta, namun menyelidiki struktur-struktur subjek yang memungkinkannya mengenal objek.

Kosmologi rasionalistik memuat aplikasi ide-ide yang dibangun oleh Kant. Dalam konsep ruang dan waktu hanya mendapat eksistensinya dalam pemikiran manusia. Istilah ‘Revolusi Copernican’ yang digunakan untuk menggambarkan filsafat transcendental Immanuel Kant hadir untuk merubah haluan pemikiran dari subjek yang mengarahkan diri kepada objek menuju, konsep bahwa objek-lah yang harus mengarahkan dirinya kepada subjek.

Dengan menghadirkan tiga tingkat pengenalan antara lain: pengenalan tingkat indera, pengenalan tingkat akal, dan pengenalan tingkat budi, Kant bertujuan untuk mempertegas dan menolak pandangan atau ajaran kosmologi yang tidak sesuai dengan unsur-unsur yang diperlukan dalam membangun pemikiran ilmiah.

 

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Komentar

Jangan Lewatkan