oleh

Scribo Ergo Sum

-Opini-258 views

Oleh: Isidorus Lilijawa

Selama kurang lebih 2 jam saya berbagi bersama kawan-kawan pengurus Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) di kabupaten/kota se-NTT. Ini hari pertama dari 3 hari yg diagendakan untuk pelatihan menulis kisah praktik baik berliterasi di daerah. Sesi pertama ini jadwal saya.

Saya mulai dengan pengantar bahwa aktivitas tulis-menulis adalah aktivitas yang menantang hasrat dan komitmen. Untuk menjadi seorang penulis yang baik sangat dibutuhkan kesungguhan dan ketelatenan. Kemampuan menulis tidak mengalir dalam ide bawaan atau diturun-temurunkan. Kemampuan menulis selalu berkaitan dengan proses belajar. Proses mengkonfrontasikan idealisme dan realitas dan meleburkannya dalam tulisan.

Menulis di media (massa) ibarat seorang prajurit yang maju ke medan pertempuran. Dia harus terjun di medan yang sulit dan berat: belantara lebat, bukit terjal dan curam, sungai dalam berair deras, tanah becek berawa-rawa. Agar mampu menguasai medan dan dapat menaklukan musuh dia harus membekali diri dengan pengetahuan yang memadai tentang topografi dan karakter medan; serta persenjataan yang lengkap seperti: senapan laras pendek, senapan laras panjang, granat tangan, sangkur, dll. Perlengkapan dan senjata perang itu digunakan secara taktis sesuai kebutuhan agar tercapai hasil yang maksimal.

Demikian pula halnya dengan menulis. Seseorang yang mau menulis harus membekali diri dengan pengetahuan yang memadai tentang medan, yakni: jenis media dan komunitas pembaca, serta perlengkapan dan senjata yang memadai berupa teknik-teknik penulisan.

* * *

Nulla Dies Sine Linea. Peribahasa Latin ini artinya “tiada hari tanpa menulis”. Motto ini memang sangat tepat dimaknai oleh siapa saja yang bergelut dan ingin meleburkan dirinya dalam dunia tulis-menulis. Aktivitas tulis-menulis sejatinya dilakukan setiap saat. Menulis tanpa musim karena setiap musim adalah masa menulis. Dalam konteks filsafat, menulis adalah fase katarsis. Dalam fungsi katarsis itulah, setiap tulisan membawa maksud docere: mengajar dan membimbing; delectare: memberi kesenangan, kepuasan serta movere: menggerakan, melahirkan perubahan (the agent of change).

Anne Morro Lindbergh dalam bukunya Looked Rooms and Open Doors mengatakan: “I must write it all out. Writing is thinking. It is more than living, for it is being conscious of living”. Dalam saduran bebas, kutipan ini berbunyi: “Saya harus menulis dengan segenap karsa. Menulis adalah berpikir. Menulis itu lebih dari hidup, karena dengan menulis saya sadar akan hidup”.

Anne Morrow Lindbergh sadar sepenuhnya bahwa bagi dia aktivitas tulis-menulis bukan lagi sekedar suatu permainan atau pekerjaan iseng-iseng pembunuh waktu luang. Baginya, menulis sudah merupakan satu hal yang penting dalam hidupnya. Dengan menulis, ia menjadi lebih sadar akan keberadaannya, karena menulis tidak lain dari berpikir. Ketika ia membaca kembali apa yang sudak ditulisnya, ia sadar bahwa ia hidup justru karena pikiran-pikiran yang sudah dituangkannya dalam tulisan tersebut. Ia bisa menulis karena ia berpikir. Dan bahwa karena ia berpikir, maka ia hidup.

Apa yang dikemukakan Lindbergh di atas merupakan aplikasi konkret dari tesis atau dictum terkenal filsuf Prancis, Rene Descartes (1596-1650), saya berpikir, maka saya ada (Cogito ergo sum). Tetapi lebih konkrit dari Descartes, Anne Morrow dari kata-katanya di atas sepertinya berkata: “Saya menulis, maka saya ada” (Scribo ergo sum). Scribo ergo sum mengandaikan nulla dies sine linea. Tiada hari tanpa menulis adalah hakikat dari keberadaan manusia, makhluk yang menulis.

* * *

Scripta Manent Verba Volent. Secara harafiah peribahasa di atas berarti: “Apa yang tertulis tetap ada, apa yang diucapkan menguap”. Maksudnya, kata-kata lisan cepat sirna, musnah atau hanya bersifat sementara (apalagi untuk kita yang pendek ingatan); sedangkan gagasan, ide, pemikiran yang tertulis bersifat kekal, abadi, lestari. Karena sifat lestarinya itulah, orang-orang Yunani dan Romawi pada saat itu sudah menempatkan karya tulis lebih tinggi ketimbang bahasa lisan. Dengannya, karya tulis dilihat sebagai produk budaya yang bergengsi, simbol keilmiahan dan intelektualitas.

Karya tulis, karangan atau kegiatan menulis lainnya adalah kegiatan yang bernilai tinggi bagi manusia, entah bagi penulis sendiri maupun bagi para pembacanya. Menurut The Liang Gie (1983), ada enam nilai yang kita peroleh ketika menulis: Pertama, nilai kecerdasan (intellectual value). Dengan sering menulis orang terbiasa berolah pikir: mencari ide baru, menganalisis kasus, merancang urutan pemikiran yang logis, menimbang-nimbang kata (sinomim, antonim, diksi, dll) yang tepat agar diperoleh kalimat yang jernih.

Kedua, nilai pendidikan (educational value). Dengan terus-menerus menulis, kendati tak disadari, orang mendidik diri sendiri. Itu terjadi karena ketika menulis, ia “dipaksa” untuk membuka kamus, membaca ensiklopedi, mencari buku/tulisan sebagai bahan rujukan, mengingat-ingat kembali berbagai hal yang pernah terekam atau dipelajari sebelumnya. Orang juga harus menulis berkali-kali agar karyanya diterbitkan di media massa. Orang belajar menjadi sabar, ulet dan tekun.

Ketiga, nilai kejiwaan (psychological value). Manakala karya tulis seseorang berhasil menembus “blokade” redaktur dan lolos terbit di media massa, apalagi media massa yang besar dan terkenal, dia pasti merasa puas, gembira dan bangga. Pada gilirannya rasa percaya diri semakin kuat, dan ia semakin bergairah untuk menulis. Ada benarnya kata Sir Walter Releigh (penulis Inggris), “Bukan kebenaran, melainkan pendapat yang mengelilingi dunia tanpa paspor.”

Keempat, nilai sosial (social value). Seorang penulis yang telah berhasil menulis di media massa, akan semakin dikenal banyak orang khususnya di kalangan komunitas pembaca media bersangkutan. Dia semakin dihargai, dan tak jarang mendapat penghargaan dari lembaga-lembaga tertentu atas karya tulisnya yang berkualitas.

Kelima, nilai keuangan (financial value). Untuk sebuah kerja keras yang dilakukannya, seseorang pantas mendapatkan imbalan. Demikian juga penulis yang berhasil menulis di media massa mendapatkan honor dari pihak media bersangkutan. Hal ini dapat menambah penghasilan dan sekaligus bisa menjadi lapangan kerja baru.

Keenam, nilai filosofi (philosophical value). Salah satu fenomena yang tiada henti-hentinya menjadi bahan pemikiran para arif-bijaksana sejak dahulu kala adalah hal keabadian. Dari kajian dan analisis filosofis mereka sampai pada kesimpulan bahwa jasad para cerdik pandai itu temporer, tetapi buah-buah pikir mereka yang diabadikan dalam karya tulis bersifat kekal. Scripta manent verba volent. Kata-kata Aristoteles ini terbukti kebenarannya. Kita orang-orang zaman kini justru mewarisi buah pikir para pemikir dahulu seperti Plato, Phytagoras, Socrates.

* * *

Membaca buku erat kaitannya dengan menulis. Keduanya adalah elemen yang saling mendukung dan tidak dapat dipisahkan. Menulis tanpa membaca ibarat orang buta yang sedang berjalan. Artinya, dalam proses penulisan, seseorang akan mengalami banyak kesulitan, tertatih-tatih dan sekali berjalan lantas berhenti karena tidak tahu tujuannya. Sementara itu, membaca tanpa menulis ibarat orang pincang. Pengetahuan yang kita miliki tidak dimanfaatkan untuk kepentingan banyak orang. Karena ilmu pengetahuan yang tidak dikembangkan dan disampaikan kepada orang lain secara lisan atau tulisan terasa kurang memberikan makna dalam kehidupan.

Membaca tidak lain adalah supplement food atau energy drink bagi para penulis. Menulis bisa gampang kalau suplai informasi ke otak dan batin kita memadai. Proses pemasukan informasi itu berasal terutama dari aktivitas membaca. Membaca berarti memberi makna. Dengan membaca kita menafsirkan teks sekaligus belajar memahami konteks. Kita mencoba memahami apa yang tersurat sekaligus apa yang tersirat. Ini menjadi bagian pemulihan energi untuk penulis.

Kata-kata Joseph Brodsky, pengarang asal Rusia ada benarnya. “Ada beberapa kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membaca buku.” Bahkan ada anekdot satir untuk kita: “Kalau orang Jepang tidur sambil membaca, sedangkan orang Indonesia membaca sambil tidur.”

Salam literasi….

Komentar