oleh

Sekolah yang Memerdekakan: Sekolah Apa Ini?

-Opini-249 views

Oleh: Muhammad Akbar

Di dalam buku yang berjudul Sekolah Apa Ini?, kita disuguhi potret sekolah yang melakukan counter discourse terhadap sistem pendidikan konvensional.

Bukan kabar baru jika kurikulum sekolah di Indonesia pada umumnya sangat mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, siswa dicekoki bermacam-macam mata pelajaran dan dipaksa untuk melahap habis semua itu. Metode pembelajaran ini mengharamkan siswa untuk hanya memilih mana mata pelajaran yang disukainya.

Semua mata pelajaran wajib dipilih oleh siswa. Akibatnya, siswa menjadi malas dan tak bersemangat jika belajar mata pelajaran yang tak disukainya. Dengan banyaknya mata pelajaran yang diajarkan, bagaimanapun, menjadi susah untuk memperluas spektrum pengetahuan.

Guna mengukur kemampuan siswa, sekolah biasanya memilih nilai (angka) sebagai patokan. Nilai juga menjadi manifestasi dari keseluruhan proses belajar yang telah dilakoni siswa. Metode nilai ini mengakibatkan dua hal: pertama, proses belajar menjadi ternodai karena mementingkan hasil akhir. Kedua, siswa tak bisa membedakan nilai dalam dimensi ekonomi dan nilai dalam kehidupan. Bagi siswa, nilai hanyalah kumpulan angka yang berfungsi sebagi penunjuk hasil belajar di dalam rapor.

Metode nilai ini bertambah mengenaskan dengan adanya sitem peringkat. Tak syak lagi, siswa melakukan berbagai cara—entah yang baik atau buruk—untuk mendapatkan nilai yang memuaskan demi memuncaki peringkat teratas. Sehingga, semangat kekeluargaan dan gotong royong yang menjadi fondasi luhur pendidikan menjadi ternafikan.

Selain itu, nilai-nilai militerisme begitu terinternalisasi dalam sistem pendidikan kita. Hal ini terpersonifikasi dalam kewajiban memakai seragam, kaus kaki, sepatu dan sarana prasarana lainnya; siswa mesti duduk manis di bangku setiap proses pembelajaran berlangsung; siswa dilarang untuk memberikan “pertanyaan yang mempertanyakan” kepada sang guru dan masih banyak lagi. Tak bisa dimungkiri, siswa hanya menjadi kumpulan kerbau yang dikendalikan oleh penggembala.

Sekolah sendiri terus berlomba-lomba untuk menambah fasilitas dan mendapatkan siswa sebanyak mungkin. Bukan tanpa alasan, di Indonesia, kualitas sekolah ditentukan oleh seberapa bagus fasilitas yang disediakannya dan seberapa banyak siswanya. Makin sekolah itu berkualitas, makin mahal harga yang harus dibayarkan.

Memanusiakan manusia yang merupakan esensi dari pendidikan akhirnya menjadi hal yang kurang atau bahkan tidak diprioritaskan. Selain itu, timbullah apa yang dinamakan diferensiasi kelas dalam ranah pendidikan mengingat siswa yang berasal dari kelas atas lah yang dapat mengakses sekolah yang berkualitas.

Di dalam buku yang berjudul Sekolah Apa Ini?, kita disuguhi potret sekolah yang melakukan counter discourse terhadap sistem pendidikan konvensionalDi dalam sekolah ini, siswa tidak memakai seragam dan tidak diwajibkan untuk memakai sepatu. Memakai sandal jepit atau bahkan tanpa alas kaki pun diperbolehkan.

Untuk memasuki sekolah ini, kita mesti melewati titian parit di samping saluran irigasi yang lebarnya tak lebih dari 30 sentimeter. Bangunannya berdinding bambu yang dicat warna-warni dengan pepohonan rindang di sekeliling halaman. Ruangan belajarnya pun tersebar di tengah luasanya persawahan. Kita akhirnya menceletukkan sebuah pertanyaan seperti yang terpampang di judul buku: Sekolah Apa Ini?

Sekolah itu bernama Sanggar Anak Alam (SALAM). SALAM didirikan oleh Sri Wahyaningsih atas keprihatinan bobroknya pendidikan di Indonesia. Saat mendirikannya, Wahya didukung oleh gurunya, Romo Mangun dan suaminya, Toto Rahardjo. Dengan kesabaran dan konsistensi dalam menjalankan sistem pendidikan yang berbeda dengan sekolah pada umumnya, Wahya membawa SALAM terus berkembang hingga sekarang.

Betapa tidak, SALAM menyandarkan metode pembelajarannya pada riset (research). Riset dilakukan setelah siswa memilih tema yang diminatinya. Tema ini bersumber dari empat pilar yang menjadi pegangan SALAM, yakni pangan, kesehatan, lingkungan, dan sosial budaya.

Riset merupakan metode belajar yang langsung mendekatkan siswa dengan sumber pengetahuannya. Saat melakukan riset, siswa mesti mengamati objek belajar, mencari pokok permasalahan, melakukan wawancara, mencatat, menyusun laporan, mencari kesimpulan dan mencari solusi. Hasil riset yang dilakukan oleh siswa kemudian dipresentasikan.

Metode tersebut diterapkan sejak dari jenjang KB hingga SMA. Tentu saja disesuaikan dengan tiap-tiap jenjang. SALAM memilih metode ini karena terilham oleh kata-kata filsuf besar Cina, Konfusius bahwa “Mendengar saya lupa, melihat saya ingat, melakukan saya paham”. SALAM kemudian menambahkannya dengan prinsip “Menemukan sendiri saya kuasai”.

SALAM sengaja meniadakan mata pelajaran. Karena, menurutnya, mata pelajaran yang dikotak-kotakan di sekolah pada umumnya telah mengajarkan kepada siswa bahwa suatu ilmu berdiri sendiri dan tidak bisa berkait kelindan dengan ilmu lainnya. Padahal semua ilmu di dunia memiliki hubungan yang dialektis.

Selain melalui riset, siswa juga belajar melalui Home Visit (Kunjungan Keluarga) dan Minitrip (Perjalanan Pendek) dan Live in (Tinggal Bersama Keluarga Lain). Home Visit merupakan kegiatan berkunjung ke rumah salah satu siswa yang dengan tujuan belajar bersama orang tua atau keluarga siswa tersebut. Minitrip adalah kegiatan berkunjung ke tempat lain guna menguatkan pemahaman siswa tentang tema yang dipelajari saat itu, mendekatkan siswa dengan sumber belajarnya dan sekaligus rekreasi.

Tempat yang dikunjungi sangatlah bermacamam-macam, seperti museum, candi, pasar, kantor pos, pemadam kebakaran, pantai, sungai dll. Live in adalah kegiatan tinggal bersama keluarga lain untuk kelas 6 dan 9. Melalui program ini, siswa diharapkan dapat belajar dengan keluarga baru dan masyarakat yang ada di sekelilingnya.

Ketiga program ini mengimani rancangan pendidikan Ki Hadjar Dewantara, di mana elemen keluarga, masyarakat dan pusat pendidikan terlibat aktif dalam menyelenggarakan proses pembelajaran. Inilah yang disebut ekosistem pendidikan yang partisipatif.

SALAM juga membangun ekosistem pendidikan yang inklusif. Artinya, SALAM menerima dan menoleransi orang dari berbagai latar belakang, kemampuan, karakteristik, status, kondisi, suku, budaya dll. Sehingga, SALAM mengimplementasikan prinsip dari Bhinneka Tunggal Ika yakni”Berbeda-beda tapi tetap satu jua”.

Di SALAM tak ada yang namanya guru. Yang ada ialah fasilitator. Fasilitator memiliki tugas untuk mendampingi dan memfasilitasi siswanya saat belajar. Fasilitator tak pernah menggurui siswanya, melainkan mengajaknya berdiskusi. Karenanya, relasi yang dibangun antara fasilitator dan siswa setara. Fasilitator mesti memiliki kesabaran, keuletan dan kecintaan yang tulus terhadap siswanya. Agar siswanya semangat dan menikmati proses pembelajaran.

Dalam membangun kedisiplinan siswa-siswanya, SALAM tidak memakai aturan, melainkan kesepakatan. Aturan dan kesepakatan adalah dua hal yang berbeda. Jika aturan dibuat secara sepihak, biasanya oleh pihak yang berkuasa. Sedangkan, kesepakatan dibuat bersama-sama—baik oleh pihak sekolah, fasilitator, siswa dan orang tua.

Apabila ada siswa yang melanggar kesepakatan, SALAM akan memberikan konskuensi, bukan hukuman. Konskuensi selalu bersifat masuk akal dan berkaitan dengan proses pembelajaran, sementara hukuman tidak. Misalnya, jika ada siswa yang terlambat sekolah, SALAM memilih untuk menambah jam pelajaran dan mengurangi istirahat, alih-alih mengepel lantai atau menggosok WC.

Dari semua uraian ini, kita akhirnya sampai pada titik kesimpulan bahwa sistem pendidikan SALAM itu memerdekakan dan memanusiakan manusia. Sehingga, sistem pendidikan ini dapat diadopsi atau diadaptasi bagi mereka yang ingin membuka sekolah alternatif.

 

Penulis adalah Pelajar dan Santri

 

 

Sumber: nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan