oleh

Sepak Bola NTT Dalam Pusaran APBD (2)

-Opini-444 views

Oleh: Isidorus Lilijawa

Sepak bola modern dibangun di atas semangat kolaborasi. Tidak bisa diurus hanya dengan mengandalkan dana dari pemerintah melalui APBD atau dengan jaring kekuasaan pemerintah. Tetapi mesti dalam kerja sama dan kerja bersama dengan pihak swasta serta masyarakat yang peduli sepak bola. APBD tetap dibutuhkan. Selain itu adalah mekanisme keberpihakan pemerintah terhadap sepak bola tetapi itu adalah wujud kehadiran negara dalam urusan sepak bola.

Siapapun yang menjadi Ketua PSSI, dana APBD untuk sepak bola pasti ada. Jadi anggaran itu setiap tahun pasti ada, bukan baru ada karena orang tertentu menjadi Ketua PSSI. APBD kita terbatas mengingat struktur anggaran, prioritas anggaran, kebutuhan anggaran tidak hanya untuk sepak bola. Karena itu, kolaborasi dengan pihak swasta atau komunitas peduli bola adalah kemestian.

Kolaborasi adalah kunci memajukan sepak bola NTT. Ada cukup banyak pihak yang mau bekerja sama, yang mau membantu, yang hendak bersinergi untuk memajukan sepak bola NTT. Prinsipnya kita harus membuka diri untuk membangun jaringan dengan pihak swasta yang bisa menjadi sponsor atau asosiasi pelatih serta wasit untuk memberikan pelatihan dan klub-klub level atas baik dalam negeri maupun luar negeri untuk program latihan. Tata kelola sepak bola yang tradisional, yang begitu-begitu saja harus diubah dalam konsep dan konteks industri sepak bola.

Mengurus sepak bola tidak bisa melulu dengan model in the box (di dalam kotak). Ketika ada intevensi APBD, maka hanya berharap pada APBD. Ketika APBD tidak ada, maka program-program sepak bola tidak jalan. Apabila APBD molor, maka program sepak bola juga molor. Ini tidak sehat untuk tata kelola sepak bola. Bagaimana bisa berkembang dan maju jika ritme sepak bola mengikuti ritme APBD. Kita pun tahu bahwa mengurus APBD itu panjang, kadang rumit dan birokratis. Maka harus ada gebrakan dan terobosan out of the box. Ini memang butuh keberanian dan jelas pengorbanan. Mau mengurus sepak bola itu sejatinya mau berkorban, bukan mencari untung. Kalau mau cari untung, jadilah pengusaha.

Terkait kolaborasi, beberapa SSB dan akademi sepak bola di NTT sudah melakukan itu. Tentu tidak harus menunggu bantuan APBD. Dengan kekuatan jaringan serta kolaborasi, banyak hal sudah dilakukan untuk kemajuan sepak bola NTT. Mereka mendukung pencarian bakat sepak bola anak-anak NTT dan mengorbitkan ke klub-klub liga 1 maupun liga 2 di tanah air; mendatangkan para mantan pelatih timnas untuk coaching clinic dan kursus pelatihan wasit atau pelatih yang berlisensi; bekerja sama dengan klub sepak bola luar negeri untuk magang anak-anak SSB; membangun fasilitas olahraga sepak bola yang berstandar nasional dan internasional; menggelar turnamen usia dini; menyeleksi dan mengirim anak-anak SSB maupun akademi memperkuat timnas pelajar berkompetisi di luar negeri. Banyak hal sudah dibuat.

Kita membayangkan sepak bola NTT pasti semakin maju dan berkembang jika orang-orang gila bola semacam ini mendapat kepercayaan mengurus PSSI NTT. Tanpa sepenuhnya tergantung pada APBD, bermodalkan kekuatan sendiri dan jaringan, mereka sudah melakukan banyak hal untuk sepak bola. Apalagi kalau diberi kepercayaan mengurus PSSI NTT pasti akan melakukan lebih banyak terobosan dan kemajuan untuk sepak bola NTT karena didukung oleh APBD dan pemerintah daerah.

Keliru besar jika ada anggapan bahwa sepak bola NTT bisa dibangun tanpa dukungan pemerintah melalui APBD. Dukungan pemerintah melalui APBD tetap dibutuhkan dalam kolaborasi dengan pihak swasta dan masyarakat peduli sepak bola. Keterbatasan APBD bisa ditutup dan disiasati oleh kekuatan jaringan dan kolaborasi dengan masyarakat peduli bola. Artinya, sepak bola itu berpeluang majunya lebih besar ketika diurus oleh orang-orang yang belum menjadi pengurus saja sudah melakukan banyak hal untuk sepak bola apalagi ketika menjadi pengurus. Tentu sebaliknya bukan oleh orang-orang yang baru mau mengurus sepak bola setelah diberi kepercayaan.

Pada akhirnya, membangun sepak bola NTT tidak cukup dengan uang (APBD), tetapi harus dengan hati. Tidak cukup juga membangun sepak bola hanya karena sekadar hobi atau pengisi waktu senggang. Sepak bola adalah passion. Dibangun di atas wadas cinta. Diperjuangkan dengan penuh komitmen dan semangat pantang menyerah dan penuh pengorbanan. Sepak bola NTT adalah harapan. Hanya bisa dibangun dalam kebersamaan yang melampaui sekat-sekat primordial, kepentingan politik bahkan kekuasaan birokrasi. Sepak bola itu kisah cinta yang tak kan pernah berakhir (storia di un grande amore). Salam sepak bola! (Habis)

 

Penulis adalah Penulis buku Filsafat Bola

Komentar

Jangan Lewatkan