oleh

Talak, Episode Sinetron Menggelitik

-Opini-345 views

(Catatan miris atas tayangan sinteron keluarga)

Oleh: Y. Joni Liwu, S.Pd

Tayangan sinetron sebuah televisi swasta mengelitik nurani, walau patut diacungi jempol tayangan sinteron hampir saban hari tersebut menaikan rating. Tak dipungkiri kaum ibu hampir pasti  tak melewatkan waktunya untuk  menikmati tayangan ini. Dapat dijumpai tayangan sinetron tersebut sejak pagi hingga malam terutama di jam-jam tertentu (baca: prime time). Jika demikian yang terjadi adalah semakin besar ratingnya, maka episode sinteron tersebut bakal diperpanjang. Seorang anak kecil yang sering menonton sintron bakal  mengetahui jika sinetron tersebut pernah ditayangkan. Uniknya, sejauh itu pula sinteron tersebut tetap dilahap (baca: dotonton) hingga ending.

Sinetron sebuah televisi swasta hampir sembilan puluh persen menayangkan sinetron keluarga. Menjadi menarik dari sinteron tersebut yakni bahwa alur bisa ditebak, bahkan endingnya. Namun demkian, sinteron tersebut bahkan terasa renyah bak cemilan di musim hujan. Sesuatu yang mengelitik tetapi juga sangat menyentuh dari sintron bertajuk keluarga itu yakni kata talak. Kata itu akan muncul dair mulut seorang suami bila ingin menyudahi kekalutan pikirannya. Alam pikiran turut menerawang dengan beberapa asumsi berikut. Pertama, talak menjadi kata kunci. Bagi seorang suami, talak adalah kata kunci seperti  pedang terhunus. Dengan mudahnya, kapan saja seorang suami meredam persoalan atau konflik dalam keluarga dengan pedang terhunus tersebut. Seorang isteri bagai tak berdaya menhadapi pedang terhununs yang ada di tangan suaminya tersebut. Baginya, jika tak sepaham lagi dengan isteri, apalagi sulit menentukan pilihan, maka talak menjadi kata kunci.

Kedua, talak beri peluang. Alur-alur cerita yang mengisahkan  penyelesaian masalah yang berujung talak tersebut telah menanamkan pemahaman kepada penonton bahwa talak menjadi jalan terbaik. Pemunculan kesempatan tentu menjadi  sebuah peluang. Peluang ‘egois’ bagi  para suami itu memberi peluang baginya untuk mengibarkan panji kemenangan tanpa sedikitpun mengerti  kepedihan hati sang isteri. Asumsi saya, talak pada aras ini merupakan pembodohan bagi seorang suami.  Telah menjadi pembelajaran yang meninabobokan, tidak mendewasakan suami. Ia tidak memberi pembelajaran berarti untuk menyelesaikan persoalan keluarga. Benar bahwa ending cerita adanya penyelesaian masalah semisal permohonan maaf dari tokoh antagonis, tetapi bahwa alur cerita yang telah tertanam dalam alam bawa sadar penonton (termasuk anak bawah umur) bahwa talak itu peluang menyelesaikan masalah keluarga.

Ketiga, talak mengacak-acak kebahagiaan. Kalau tidak disebut meluluhlantakan hati dan persaan seorang isteri, mungkin lebih tepat disebut menghancurleburkan bahtera rumah tangga.Itu hanya karena sebuah kata, talak. Bahtera rumah tangga bak terombang-ambing dihempas gemlombang laut pantai, mungkin pula hanyut terbawa arus hanya karena  persolan-persolan seujung kuku. Hal-hal kecil itu pun kemudian menyulut perseteruan hingga talak. Kebahgiaan bagai mimpi di siang bolong. Hilang tersapu badai yang bernama talak.

Keempat, andaikan tidak ada talak. Peneguhan beruwujud ucapan selamat saat di pelaminan yang beribu-ribu, serasa sirna karena talak. Kebahagiaan serasa semu jika kata ini telah terucap oleh seorang suami kepada isterinya. Hati berbunga kala menyenandungkan ‘sehidup semati’ dalam akad nikah lenyap diterpa angin musim barat yang bernama talak. Tragis memang, karena  anak yang merupakan buah cinta terpapar virus kebencian antarorang tua yang berujung talak. Pertanyaan miris, sejauh mana pembelajaran bermakna bagi sebuah keluarga jika ujung-ujungnya adalah talak?  Menariknya, latar sinteron-sinetron  keluarga itu selalu mengambil latar keluarga-keluarga berada, bermobil, berumah mewah, dan tidak merepresentasikan warga bangsa kebanyakan yang kurang berada. Dengan demikian, penonton memilki simpulannya masing-masing, semisal harta tidak menjamin kebahagiaan keluarga, atau kekayaan bukanlah jaminan kebahagiaan. Atau mungkin karena kekuatan cinta orang kampung lalu  akan menista tokoh antagonis yang berperilaku egois.Bahwa tidak layak menyudahi ikatan keluarga dengan talak.

Kelima, talak versun kaum isteri. Jika disandingkan seperti ini, penggemar sinetron keluarga akan bersepakan bahwa para isterilah yang menjadi pihak yang dikorbankan.Lagi –lagi anak dikorbankan harus memilih bersama ibu atau ayah, walau sebenarnya hak asuh itu menjadi tanggung jawab orang tua sebagai diatur dalam pasal 41 undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, atau sesuai denga Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 105.

Mewujudukan bonum coniugum

Di dalam Undang-undang Nomor.7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama dan Kompilasi Hukum Islam, di kenal 2 (dua) macam perceraian, yaitu cerai tala (baca: talak) , dan cerai gugat. Cerai talaq  adalah cerai yang dijatuhkan oleh suami terhadap isterinya, sehingga perkawinan mereka menjadi putus. Seorang suami yang bermaksud menceraikan isterinya harus terlebih dahulu mengajukan permohonan kepada Pengadilan Agama, sedangkan cerai gugat adalah cerai yang didasarkan atas adanya gugatan yang diajukan oleh isteri, agar perkawinan dengan suaminya menjadi putus. Apapun jenis perceraian tentulah sangat berdampak. Perceraian membawa pengaruh yang besar kepada suami-istri, anak-anak, harta kekayaan, maupun masyarakat dimana mereka hidup. Dampak perceraian yang dilakukan oleh pasangan suami-istri, baik yang sudah mempunyai anak maupun yang belum bisa diurai sebagai berikut.

Pertama, dampak terhadap suami/ istri. Akibat perceraian adalah suami-isteri hidup sendiri-sendiri, suami/ isteri dapat bebas menikah lagi dengan orang lain. Perceraian membawa konsekwensi yuridis yang berhubungan dengan status suami, isteri dan anak serta terhadap harta kekayaannya. Bagi bekas suami mendapat gelar sebagai duda dan bagi bekas isteri mendapat gelar sebagai janda. Memiliki sebutan baru terhadap nama tentu pula berdampak secara kejiwaan, apalagi duda atau janda itu karena perceraian.

Kedua, dampak bagi anak. Keluarga bagi anak-anak  merupakan tempat perlindungan yang aman. Mereka  mendapat kasih sayang, perhatian, pengharapan, dan Iain-lain. anak-anak akan kehilangan tempat kehidupan yang aman, yang dapat berakibat menghambat pertumbuhan hidupnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Akibat lain,  adanya kegoncangan jiwa yang besar, yang dirasakan oleh anak-anak, walaupun segala kebutuhan hidupnya dijamin. Namun satu hal yang tidak terlupakan adalah  kasih sayang dari ibu dan ayah  tidak tergantikan. Kesehatan  jiwa anak terjamin jika ia mendapatkan belaian kasih sayang sejak lahir hingga dewasa. Kasih sayang orang tua menjadi poin, yang semesetinya digarisbawahi sehingga penceraian dihindari ataupun diminimalisir.

Ada pula upaya lain menghindari perceraian karena talak atau gugat cerai, bahwa mempersiapkan diri  ke jenjang perkawinan itu pun menjadi hal terpenting agar bahtera keluarga nantinya tak mudah goyah. Mepersiapkan diri secara jasmani dan rohani, yang tidak diukur dengan sebeapa lama masa saling mengenal atau masa pacaran, tetapi lebih dari itu memahami sejauh mana eksistensi sebuah keluarga jika dibangun. Termasuk misalnya bagaimana menghadapi sebuah persoalan, atau menyelaraskan perbedaan pendapat sehingga tidak menyulut percekcokan.

Penguatan-penguatan seperti kursus perkawinan dalan Gereja Katolik, sebenarnya memberikan pemahaman tentang kekokohan ikatan perkawinan. Dengan demikian, perkawinan menjadi sesuatu yang sakral sehingga bisa mewujudkan tujuan perkawinan itu sendiri yakni untuk kebahagiaan dan kesejahteraan suami isteri (bonum coniugum) serta keterbukaan pada kelahiran (bonum prolis) dan pendidikan anak. Hal ini sangat berdasar pada perkawinan katolik sebagai isatu untuk selamanya dan tak terceraikan. Perkawinan yang bersifat monogam dan indissolubile. Monogam berarti satu laki-laki dengan satu perempuan, sedang indissolubile berarti, setelah terjadi perkawinan antara orang-orang yang dibaptis (ratum)secara sah dan disempurnakan dengan persetubuhan, maka perkawinan menjadi tak terceraikan, kecuali oleh kematian (Hukum Gereja tahun 1983, kan. 1141).

Pernikahan dalam Islam juga  sebagai bentuk ketakwaan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta Menjalankan Perintah-Nya. Sebagaimana firman Allah:  Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur: 32).

Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menikah antara laki-laki dan perempuan. Bahkan dalam ayat di atas disebutkan jika dari kita tidak mampu dalam hal ini yang dimaksud adalah harta, maka Allah akan memberikan kecukupan dengan karunia-Nya. Bahkan dalam islam pun perkawinan bertujuan menciptakan ketenangan jiwa dan memupuk rasa cinta kasih. Dengan menikah maka akan terciptanya ketenangan jiwa dan rasa cinta serta kasih sayang antara suami dan istri.Dalam QS. Ar-Ruum ayat 21 Allah berfirman:

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan Dia jadikan diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum: 21). Ketika dua orang anak adam antara laki-laki dan perempuan berkomitmen untuk melakukan pernikahan, maka akan tumbuhlan perasaan cinta dan kasih sayang antara keduanya. Serta mereka akan merasakan ketenangan jiwa karena mereka memiliki tempat berbagi antara satu dengan yang lainnya. Dengan begitu sebuah keluarga memahami makna cinta dalam islam sehingga bisa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.

Apapun agamanya, sebuah perkawinan dalam sebuah keluarga hendak mewujudkan kebahagiaan. Jika di setiap sinetron menampilkan konflik yang dilabeli talak, itu tidak menjadi sebuah pembelajaran beradab. Pertanyaan retoris yang hampir terabaikan pencinta sinteron keluarga adalah dosakah bila seorang suami menalak siterinya atau seorang isteri menggugat cerai suaminya. Hingga di sini, penonton akan lebih tersulut secara emosional pada perilaku tokoh antogonis tanpa mempedulikan pertanyaan-pertanyaan analitis tersebut. Ia akan tetap mengikuti alur cerita sambil berharap karma atau pembalasan yang akan dialami tokoh antagonis. Jika kegetiran menghampirimu karena talak, hati ini hanya berguman, itu salah siapa?

 

Penulis adalah Guru di SMP Negeri 1 Kota Kupang

Komentar

Jangan Lewatkan