oleh

Tiga Ratus Kata Tanpa Dia

-Opini-493 views

Oleh: Joni Liwu

Tiga Ratus Kata Tanpa Dia. Itu adalah judul antologi cerpen karya 56 penulis di Indonesia. Semula membaca syarat dari editor yang juga penulis buku, Teguh Wahyu Utomo, saya mendapatkan sebuah tantangan baru. Sesuatu berbeda secara keilmuan tentang syarat sebuah cerpen . Yang pertama, jumlah kata dalam cerpen yang ditulis adalah tiga ratus. Sesuatu di luar dugaan saya sebelumnya. Cerpen saya yang semula berjumlah lebih dari seribu kata harus dipangkas alias diringkas hanya menjadi tiga ratus kata. Alhasil, saya dapat mengirimkan dua buah cerpen yang sangat ringkas tersebut. Setelah buku ini terbit, saya baru mengetahui alasan sang editor menggagas cerpen tiga ratus kata tersebut. Bahwa di era digital, orang cenderung ingin serba cepat. Termasuk membacanya atau menulisnya. Semakin padat semakin cepat memahaminya.

Pada bagian pembuka buku antologi tersebut sang penulis puluhan buku ini menjelaskan bahwa seiring perkembangan jagad digital, kesusasteraan dunia belakangan ini melirik flash fiction. Hal itu karena cepatnya dibaca dan mudahnya di-share. Sejumlah kalangan membuat kategori cerita fiksi berdasarkan panjangnya. Yang panjang disebut novel, agak panjang disebut short novel. Yang pendek disebut short- story atau short fiction dengan 1000 kata. Yang lebih pendek biasa disebut very short story, microfiction, microstiries, short-short, cold fiction, pstcard fiction, nonfiction atau flash fiction. Terhadap karya sastra yang sangat pendek ini, kemudian ditentukan lagi jumlah katanya hanya menjadi tiga ratus saja.

Argumentasi lain tentang pendeknya cerpen tersebut yakni trend yang berkembang adalah serba singkat. Jurnal ilmiah dipadatkan. Muatan berita online makin singkat. Begitu juga fiksi, semakin singkat. Dengan demikian, membacanya juga lebih enak.

Kedua, ke-56 penulis pun mendapat tantangan baru dalam menulis cerpen tersebut yakni dalam cerpen tersebut “Tanpa Dia” dan kata turunannya seperti ‘diam’, ‘media’, ‘kemudian’, ‘diandalkan’, dan lain-lain. Sesuatu yang membutuhkan kecepatan penulisan, entah saat menulis pun ketika mengedit. Sungguh sebuah tantangan baru menulis cerpen. Selain mengikuti kaidahnya juga para penulis sangat ekonomis menggunakan diksi dalam merangkai tahapan alur cerita dari intro, complication, rissing action, climax, hingga ending. Mengerjakan sesuatu dengan memeras otak dan otot. Berkali-kali mambaca kemudian mengedit, sesuatu yang membutuhkan kecermatan dan ketelitian.

Memang sangat menarik menikmati cerita tanpa bertele-tele saat menikmati 94 cerpen dalam buku dengan 197 halaman tersebut. Menurutku, buku ini sangat menggugah selera pembaca tanpa mengenal strata. Seorang siswa Sekolah Dasar, tentu akan melahapnya dalam sekejap. Belum lagi siswa-siswa sekolah lanjutan hingga orang dewasa. Dengan sangat pendeknya buku yang diterbitkan oleh Wahana Resolusi Yogyakarta tersebut, akan sangat memantik rasa penasaran pembaca. Bukan tidak mungkin dalam sekali duduk ia akan melumat beberapa judul cerpen. Sebuah kebanggaan tersendiri tentunya, karena dengan demikian buku ini mampu memacu pembaca untuk berliterasi tanpa harus berlama-lama membaca sebuah cerita yang cukup panjang.

Jika dicermati buku Cerpen 300 Kata Tanpa Dia ini merupakan karya antologi flash fiction khas pertama yang dibukukan di Indonesia. Jika saja buku ini menjadi salah satu sumber bacaan pribadi maupun sekolah tentulah sebuah langkah maju karena ini adalah karya khas pertama di negeri yang sedang menggaungkan Gerakan Literasi Nasional ini.

Walau pandemi masih menghantui ruang gerak seseorang, namun semangat literasi harus tetap digaungkan demi sebuah kemajuan dan peradaban bangsa. Jika hal itu menjadi acuannya maka mari kita membaca.

Komentar